Powered By Blogger

Senin, 28 Agustus 2017

Cerita Bunda Lidya Vindasara : a Connection

Ringkas cerita :
Ini adalah cerita fiksi lainnya bagian lain Alter Ego vs Alternative Escape  yang terjadi di tahun 2011 hingga tahun 2013 yang tidak di ceritakan author di sesi sebelumnya agar tidak memperlama plot chapter awal. Cerita ini dinilai memiliki konsep berbeda karena itu diputuskan untuk diletakkan di bagian chapter belakang menyusul chapter yang akan diteruskan selanjutnya.
Yuna mengingat masalalunya yang penuh dengan cerita abnormal selama mengenal sosok Adwin, kakak angkatnya yang misterius.

 Terima kasih sudah membaca ( ^___^)・~

Tahun 2013 pukul 19.00 WIB
…………………………………………………..
‘Hay..’ Sebuah pesan Yuna terima dari sebuah akun, tanpa foto profil.
Malam minggu kali ini Yuna habiskan hanya untuk online dan membuka lapak terawangan online di sosmed untuk melatih intuisinya agar semakin tajam.
‘Ya..’ Yuna membalas, gadis itu seperti biasa masih asyik berkomentar di grup metafisika di sosmed. Dia tidak mempermasalahkan akun apapun yang tidak memiliki foto profil, sebab Yuna bisa merasakan energy seseorang dari ketikan komentar mereka.
Sepertinya dia besar sekali energinya, orang seperti apa dia ini…’ Yuna terperangah merasakan energy akun Cookie Monster Kidd, benar-benar seperti monster pemakan cookies.
‘Kakak kenal kak Adwin?..’ Akun itu membalas lagi.
“PFFFFFFFFFFRTHHHH!!!!...” Yuna hampir tersedak.
Orang sialan itu bagaimana bisa dikenal orang sosmed yang mengetahui namaku di sosmed!..’
‘Adwin?.’ Yuna masih shock.
‘Ngga kenal ya?
Padahal aku ingat kak Adwin pernah menyebutkan nama Yuna..
Maaf kalau salah sambung ya kak!..’
“!!!!!!!!!???????????...” Yuna shock.
‘Eh! Tunggu dulu!..’ Tidak mau melepaskan kesempatan untuk menggali informasi Adwin selama setelah mereka berpisah, ini adalah kesempatan langka bagi Yuna karena Adwin menghilang begitu saja.
‘Ya?..’
‘Adwin sudah lama tidak pernah online dan kami sudah tidak pernah bercakap-cakap lagi..
aku pun tidak tahu kini dia ada dimana..’
Akun bernama Cookie Monster Kidd, tidak ada foto profilnya, terlihat dari chatbox avatar lalu entah bagaimana sekarang berganti menjadi berfoto profil gambar beruang di luar angkasa.
‘Kak Adwin bilang mau ke Pekanbaru.. kakak datang dong..’
“EH!!!.. kalau tidak salah hari raya idulfitri nanti keluargaku mengajakku ke Jawa lagi.. huftthh…” Yuna menghela nafas penat.
‘Aku malah mau ke pulau Jawa nich..’
‘Begitu yach kak..’
Sejak saat itu Yuna dan akun itu berteman, ternyata dia seorang anak kecil masih SD dan tinggal di Samarinda. Mengejutkan sekali sebab anak itu memiliki bakat supernatural yang besar dan nyaris pernah menyelakakan banyak orang dengan kekuatan emosionalnya yang bangkit akibat trauma. Cookie Monster mengenal Adwin karena dia adalah sepupu Adwin dan menyebutkan akun Yuna saat menceritakan bahwa dia punya seorang adik angkat dan masih mengingatnya, Yuna terharu menyimak cerita itu dari akun Cookie Monster Kidd.
Dua hari kemudian Yuna ke pulau Jawa naik pesawat terbang untuk menjemput ibunya ke Sumatera. Perjalanan berjalan normal hingga dua hari Yuna ada di kampung halamannya. Kini sampailah saat Yuna duduk di dalam pesawat disamping seorang wanita Chinese yang cantik dan glamour.

“….” Yuna melihati awan yang Nampak di jendela, wanita Chinese itu duduk di sebelah kanannya dekat jendela.
“!!..
Kamu mau melihati langit ya?..” Wanita itu ramah.
“Euh!... ma.. maaf mengganggu..” Yuna menarik mukanya ke depan karena malu jika wajahnya yang tidak cakep dilihat oleh wanita serupawan dia.
“Ya sudah kita tukaran seat yuk..” Wanita itu tersenyum ramah.
“Ma.. maafkan saya.. tidak usah…” Yuna mendengarkan suara wanita itu, terdengar nyaring dan lembut.
“Tidak usah begitu yach.. Sudah.. kemarilah..” Wanita itu berdiri.
Yuna pun keluar dari seat dan setelah wanita itu duduk di seatnya, Yuna menduduki seat wanita itu.
“Te.. terima kasih..” Yuna langsung memandangi langit langi.
“Hum.. hum.. nama kamu siapa..?..” Wanita itu menyodorkan popcorn.
Ehh!! Pop.. popcorn…?!..’ Yuna menoleh ke wanita itu, bibirnya yang berlipstik merah mengembangkan senyum mengagumkan seperti bidadari turun dari bulan.
“Euh… Yu.. Yuna..” Yuna sangat kebingungan, dia sangat takut dengan perempuan karena trauma di masalalunya. Yuna selalu merasa dia tidak bakat berteman dengan perempuan di bumi ini, itu karena Yuna tidak terbiasa membahas kesukaan cewek.
“Ellen.. panggil saja begitu yach..!..” Wanita itu meletakkan bungkus popcorn di pangkuan Yuna.
“Terima kasih..” Yuna membuka pelan-pelan bungkus itu karena tidak sopan jika menyimpannya setelah diberikan untuk dimakan, apalagi dengan tersenyum seperti itu.
“Perasaanku tadi tidak enak banget dech!...” Wanita itu melihati lampu pesawat.
“….?..” Yuna mengambil sebutir popcorn dan memakannya pelan-pelan.
“Tapi setelah menyapa kamu koq aku merasakan ketenangan yach..!..”
“!!!!
UHUKKKKKKK!!..” Yuna tersedak.
“E.. eh kamu kenapa?!!...” Wanita itu memukul-mukul pelan punggung Yuna.
“Ti.. tidak.. I am fine.. xie xie…” Yuna tersenyum canggung.
Setelah menyapaku? Apa maksudnya!!..’ Yuna melanjutkan makannya pelan-pelan.
“Wu qe xi…” Wanita itu menjawab.
Untung aku tahu bahasa Cina dikit-dikit.. huffth jadi ngga kelihatan bego banget dech depan cewek sekeren dia, huahhhh..’
“Oh ya.. Yuna-chan.. kamu mau kemana?..” Wanita itu terus memperhatikan Yuna.
“!!!.. E.. ke Pekanbaru..” Yuna melotot canggung sambil tersenyum aneh.
“Hihi.. keganggu sama aku ya.. maaf ya..” Wanita itu tersenyum lagi.
“EGH!!..
Ofcourse no!! don’t count at all!!...” Yuna nyengir palmface.
“Entah kenapa loch.. kamu kaya punya energy fengsui yang bagus.. aku bisa merasakan kenyamanan seperti sedang berbicara pada keluarga aku sendiri.. itu bikin aku nyaman.. aku sudah tiga tahun tidak berkomunikasi sama satu pun anggota keluargaku…” Wanita itu blak-blakkan.
Dia menceritakan itu, supaya aku tetap mau berbicara dengannya?.. supaya aku memahami perasaannya?.. Atau.. mau ngehipnotis aku supaya bisa nyopet uang di sakuku..’ Palmface Yuna.
“Bukankah.. orang Chinese itu mengutamakan keluarga diatas segala-galanya.. Keke…” Yuna hendak menyindir ketidak masuk akalan wanita itu.
“Ellen.. kan sudah dikasih tahu namaku..” Wanita itu tersenyum hangat.
“Iya.. Keke Ellen..”
“Hu-um.. ibuku sudah meninggal dunia, Yuna-chan.. aku suka ala-ala Japanese gitu malahan dibandingkan Chinese.. hihi aneh ya..!...” Ellen tersenyum polos seperti anak kecil.
Cantik-cantik aneh.. bukannya orang Chinese seharusnya membanggakan rasnya karena mereka terkenal cerdas, pekerja ulet, tangguh dan memprioritaskan keluarga yang solid.. dia manggil aku Yuna-chan, berarti dia mau dipanggil neesan gitu kan..’ Yuna masih skeptic.
“Ellen-neesan.. batu liontinnya bagus.. itu Kristal ya?..” Yuna mengambil popcorn, bermaksud basa-basi agar tidak terlihat angkuh dan bodoh dengan muka Yuna yang kalah cantik dengan Ellen.
“Iya ini Kristal, auranya itu loch.. unyu-unyu.. di dalamnya ada seekor perinya loch.. kamu percaya sama peri?..” Ellen memegangi liontinnya lalu menoleh ke Yuna.
“!!!?...” Yuna mengamati muka Ellen yang seperti anak kecil.
Wanita ini.. blak-blakan sekali..’
“Iya percaya, berapa umur neesan?..” Yuna membuka tutup minuman mineral di kantong seat depannya.
“Dua puluh delapan tahun..” Ellen menghela nafas, mungkin merasa sudah semakin tua. Tetapi faktanya dia terlihat masih 23 tahun dengan tingkah childishnya itu.
“Ternyata neesan percaya sama ghaib-ghaib semacam itu juga ya..” Yuna meminum mineralnya.
“Coba lihat itu!! Itu namanya tongkat penyeimbang bumi!!.. ada tujuh di dunia ini, tetapi sepertinya itu tongkat iblis deh… aku salah lihat!!” Tiba-tiba Ellen menunjuk ke jendela.
Yuna menoleh ke arah jendela dan begitu shock, ada hamparan laut dan daratan mulai terlihat, diatas daratan tak jauh dari tepi pulau itu ada sebuah tiang menjulang ke angkasa berwarna merah terlihat dari kejauhan.
“Itu.. itu……..” Yuna masih tercengang.
“Kamu bisa melihat hal ghaib juga!!?..” Ellen tiba-tiba memeluk Yuna.
“!!!!?..” Yuna masih melihati tongkat raksasa itu.
Mungkin kah pesawat jatuh karena melewati tongkat ghaib itu!!!..’ Yuna berfikir.
“Semoga saja pesawat ini baik-baik saja.. aura yang mengitarinya seperti tornado energy jahat!!!...” Wanita itu memeluk Yuna sangat erat. Sementara mata ke tiga Yuna tidak bisa melihat tornado energy jahat yang mengitari tongkat itu, Yuna hanya melihat tongkat itu saja.
“Minta nomor telfon neesan yah.. sebentar lagi kita mendarat.. kita doakan saja semoga bandara penerbangan di Medan di pindah ke tempat lain jadi ngga rawan melewati tongkat itu lagi..” Yuna memegangi tangan Ellen.
(pada tahun 2015 kemudian bandara di kota Medan dari Polinia di pindah ke Kualanamu)
“Ma!! Kamu turun di Medan? Ngga di Pekanbaru?..” Ellen melepaskan pelukannya lalu bermuka sedih dan kecewa seolah sudah mengenal Yuna bertahun-tahun dan enggan melepaskannya.
Wanita ini?..
Makanya ajak ngobrol dari awal take on lah.. udah mau take off gini baru ngajak ngobrol..
Hahaha….’ Baru ini Yuna menemukan wanita baru kenal seperti ini terhadapnya.
“Tenang saja… kita akan bertemu lagi.. aku akan ke Pekanbaru..” Yuna tersenyum tipis, masih belum tahu harus merespon dengan perasaan seperti apa kepada Ellen yang kini dilihatnya mulai berkaca-kaca.
Ellen membuka tas kecilnya lalu merogoh ponselnya sambil terisak-isak.
!!!!!!!!!?... Uh…?...’ Yuna heran dengan Ellen.
“Perasaanku sedih sekali…” Ellen menyodorkan ponselnya, ada nomor Ellen di monitor.
“…” Yuna mengambil ponsel di sakunya lalu mencatat nomor Ellen.
“Aku akan menelfon nanti malam…” Yuna tersenyum hangat.
“….” Ellen mengangguk melihat Yuna lalu mengelap matanya.
“…” Yuna menyodorkan ponsel Ellen.
“!!!!...” Ellen memegang tangan Yuna.
“Mungkinkah kamu reinkarnasi seseorang yang dekat dengan aku di kehidupanku yang lama..” Ellen tersenyum haru pada Yuna.
“Tidak mungkin.. aku meninggal karena sebuah bom saat masih anak-anak.. itu ingatan terakhirku.. memang aku pernah menjadi seorang laki-laki tapi aku yakin bukan kekasihmu…” Yuna memalingkan muka ke arah lain.
“Mungkin bukan suamiku atau istriku..” Ellen mengambil dagu Yuna dan menghadapkannya ke muka Ellen.
Wa.. wanita ini kenapa menangis begitu!!...’ Yuna terbelalak melihati muka Ellen sekarang, make upnya menjadi berantakan.
“Mungkin saja kau pernah lahir sebagai anakku…” Ellen mengusap pipi Yuna.
“Anak?.....” Yuna terbengong.
“Mohon perhatian, pesawat kita akan segera mendarat, mohon perhatian..”
Suara pengumuman tiba-tiba memudar tidak terdengar karena Yuna kehilangan kesadaran dan tenggelam dalam projeksi yang kini memenuhi alam sadarnya.
“!!!!!!!.. Ayo turun!!!...” Suara kakak Yuna terdengar.
“Eh!!! Iya…!!!.” Yuna menyahut.
“Ya sudah Neesan.. sampai jumpa yah!!!..” Yuna menoleh ke Ellen yang sudah berlinangan air mata.
Yuna berdiri, menepuk lembut bahu Ellen lalu meninggalkannya. Yuna berjalan menuju tangga pesawat dan melihat punggung ibu kandungnya tengah berjalan di bawah sana digandeng abang iparnya.
Ibuku…’
Bagaimana perasaan saat logika menguasai, tetapi kemudian Yuna menoleh ke belakang saat ada antrian ngadat untuk turun, Ellen melihatinya dengan tangis lalu tersenyum tipis.
“…” Yuna tersenyum tipis.
“Aku akan menelfon!.. aku janji!..” Yuna berbicara agak keras dengan senyum hambar masih tidak tahu harus berkomentar apa. Tapi hatinya lega saat bisa membuat Ellen menganggukkan kepalanya dan melambai pelan.
‘Ibu yang cantik…’ Yuna menuruni tangga pesawat dengan perasaan aneh, antara logika yang menolak dan hati yang mengasihani.

(^ω^)

Akhirnya sampai juga di rumah, Yuna membanting diri ke bed setelah selesai membantu keluarganya mengemasi barang dan lain-lainnya. Mereka sampai di rumah pada waktu malam hari sekitar pukull sebelas malam.
“Dadaku.. rasanya sakit.. seperti sedang merindukan seseorang.. hahaha…” Yuna membuka ponselnya.
“Aku tahu bukan aku yang kangen kamu..” Yuna mencari nomor telfon Ellen di daftar kontak lalu memencet tombol ‘Call’.
“Tapi kamu lagi kangen sama aku kan?...” Yuna meloud speaker karena tidak suka menunggu proses penerimaan panggilan dari penerima panggilan.
“Halo…” Suara Ellen terdengar.
“Kenapa suaramu begitu?..” Yuna nyengir kuda.
“Yuna-chan!!!!!!!...” Suara Ellen yang lemas berintonasi agak naik dan seperti ada desahan nafas lega.
“Aku pikir kamu lupa sama aku..” Suara Ellen parau.
‘….’ Yuna trenyuh.
“Sebegitu berharga kah aku?.. kita kan baru kenal..” Yuna meletakkan telfon di bantalnya, dekat wajah Yuna.
“Sangat!!!.. sangat amat sangat!!..” Ellen terisak-isak.
“Hehe.. aku belum mati koq..” Yuna cengengesan.
“Jangan bilang begitu lagi dong!!! Aku bisa mati mendengarnya!..” Ellen menangis.
“….?..”
“Kalau masih nangis aku matikan telfonnya yach..” Yuna nyengir jahat.
“I..iya… Janji ngga akan nangis lagi, sayang..”
‘…..
Sayang…?...’ Yuna tersenyum tipis, terharu. Gadis tomboy itu masih belum bisa menerima logika yang Ellen sampaikan dari caranya beremosi seperti itu. Tapi hanya ada rasa kasihan jika ternyata Ellen hanya sedang terkena ilusi.
“Coba ceritakan kehidupan masalalu kamu..
Eh.. tapi aku akan ceritakan masalalu aku dulu ya.. di kehidupan sebelumnya..” Yuna menyadari, mungkin saja hanya jiwa orang dulu yang menitis, maka Yuna memiliki memori jiwa orang itu, tetapi gaya bahasanya Yuna rubah agar tidak menyakiti hati Ellen.
“Iya.. Sayang.. mama mau dengar..” Suara Ellen serak basah, sexy dan lembut, membuat Yuna merinding.
Sial!!!!!!!!!!!...’ Yuna palmface.
“Aku dulu..
Kisah terakhir saat masih hidup sebelum mati di masa lama..
Saat itu aku berusia sekitar enam atau lima tahun..
Aku hidup di daerah Belanda..
Waktu itu aku bermain di lapangan.. entah ada perayaan apa.. katanya sih ada yang berhasil dan membuat Negara Belanda kaya..
Tetapi kemudian ada bom jatuh dan meledak..
Dan aku mati.. tapi sebelum aku mati.. aku bertemu seorang anak laki-laki lebih tua dari aku.. mungkin usianya delapan tahun atau tujuh tahun..
Dia menggandengku untuk berlari sesaat sebelum  terpental dan terbakar..”
“Srrrlpp.. huh… …” Ellen sepertinya menangis lagi.
“Kenapa?..” Ellen bingung harus bicara apa.
“Dulu.. aku punya dua anak.. anak yang pertama itu cowok..
Aku disuruh nikahin bapaknya karena keluarga aku kelilit hutang.. dia kaya banget.. dari pernikahan itulah anak cowok itu lahir.. tapi kemudian aku minta cerai paksa ke suamiku itu..
Aku tahu dia ngga akan tanda tangani naskah perceraian kami, maka itu aku kabur dan ninggalin anakku dirumah pria itu.. aku kabur ke desa.. aku mau menemui kekasih aku yang dulu aku kenal sejak kecil.. kami bersahabat sejak kecil..
Tapi ternyata dia sudah bekerja di kota.. aku ngga menghubungi keluargaku sama sekali.. aku balik lagi ke kota mencari dia, dan ketemu.. dia bekerja di kepemerintahan.. tetapi menentang kebijakan pemerintah..
Posisi kehidupanku saat itu juga sedang di Belanda..
Dia berbeda dengan suami aku yang pertama, membela pemerintah Belanda..
Lama sekali aku membuntuti pacarku yang aku tinggal nikah itu, aku takut jika dia sakit hati karena aku tinggal pergi begitu saja tanpa kasih kabar selama tiga tahun..
Sedih sekali.. aku tidak bisa melupakan dia..
Dia bertemu denganku saat aku memaksa berjumpa dengannya..
Sejak itulah kami sering janjian.. dan dia pun melamar aku.. aku tidak tahu pria yang menikahi aku itu sudah menandatangani nasakah perceraian atau belum tapi aku tidak peduli.. aku menerima lamaran kekasihku dan dari pernikahan itulah lahir anak perempuan..
Suatu hari.. ada bom yang meledak dan merenggut anak perempuan dan suamiku..”
“Ngga Cuma itu, disisi lain aku juga mengalami penglihatan di sisi kehidupan lain..
Tapi di saat itu aku melihat bulan seperti ada tiga lalu dibelah sama pesawat angkasa.. space mothership gitu.. tapi itu bulan apa pesawat ya?.. aku dikelilingi orang gitu..”
“Futuristik kan? Aku juga ngga tahu deh.. masa sih kiamat itu ada beberapa kali…” Ellen.
“Ah.. itu di dunia ghaib kali.. kehidupan di dunia ghaib..” Yuna tidak mau ambil pusing.
“Mungkin kah anak perempuanku itu kamu?..” Nada Ellen lembut.
“Iya mungkin saja, tidur sana.. aku temani yach.. aku capek.. dua hari lagi ke Pekanbaru.. jadi.. kita bisa ketemu disana nanti..” Yuna sudah bernada ngantuk.
“Iya.. selamat malam Yuna-chan…” Ellen tertawa kecil.
Yuna menutup telfon.
“Huhfth…” Yuna membuka akun sosmednya.
‘Kakak kemana? Kenapa ngga balas pesan aku lagi?.. kakak sudah tidak mau kenal aku lagi?’ Pesan dari Cookie Monster Kidd.
‘Bukan gitu dek, kakak baru sampai rumah, kan kakak sedang sibuk melakukan perjalanan dek..
Oh ya,
kakak kenal sama seorang cewek, dia yakin banget kalau kakak ini anaknya di kehidupan yang lama, masa sih reinkarnasi itu ada dek?..’
‘Dia punya akun sosmed ngga kak? Aku mau tau..’
‘Iya, bentar aku tanyain dia..’
Yuna mengirim SMS pada Ellen, ‘Mama punya akun sosmed ngga?..’
‘Ngga punya Yuna-chan..’
‘Ya sudah nanti aku buatkan akun untukmu ya.. buat ngehubungi aku kalau nomor HP ku ganti bisa cari aku di sosmed nantinya..’
‘Iya, sayang… bobo gih sudah malam, sayang.. peluk cium buat Yuna-chan..’
“Hufthhh…….” Yuna agak geli juga diperlakukan seperti bayi besar begitu.

(·  ´ ` )

‘Dek.. kakak sudah ada di Pekanbaru nich.. kamu dimananya?.. kata Cookie kamu di Pekanbaru juga?.. Besok kakak mau ke Jakarta lho.. ngga ada waktu buat kita ketemu..’ SMS dari nomor tanpa identitas.
“Gimana cara bikin SMS kayak gini ya?.. Ini Adwin apa Rhean?..” Yuna masih di salon sedang memotong rambutnya setelah tadi bertemu dengan Ellen di Mall untuk makan siang di sebuah kafe yang ada di sana.
“Aku di Mall QueenMart kak..” Yuna nyengir kuda, mengingat Cookie Monster Kidd pernah mengatakan Adwin mau ke Pekanbaru, tapi Yuna sama sekali tidak mempercayainya. Yuna bisa ke Pekanbaru juga karena keluarganya ternyata meminta ibu Yuna untuk berkunjung ke Pekanbaru menemui keluarga yang sedang sakit, ini semua serba kebetulan sehingga Yuna bisa memanfaatkannya untuk bertemu Ellen.
“Yuna-chan mau diwarnai juga ngga rambutnya?..” Ellen yang mentraktir Yuna nyalon rambut hari ini blak-blakkan aja memanjakan putri reinkarnasinya.
“Iya, mama..” Yuna tersenyum ramah.
“Bentar ya sayang.. temen mama sudah datang..” Ellen menjauhi Yuna, pelayan salon membersihkan Yuna dari rambut-rambut. Yuna mengekori kemana arah Ellen pergi.
Terlihat Ellen membuka pintu kaca, menyapa seorang perempuan mungkin seusianya dengan rambut bob yang keren, cipika cipiki.
“Mesra amat, merangkul gitu kayak orang lesbi..” Yuna palmface.
Telfon Yuna berdering dari pemanggil tanpa nomor.
“Halo..” Yuna sedang beranjak bersiap untu dilumuri cat pada rambutnya, pelayan salon sedang mempersiapkan keperluannya.
“Adek dimana sih koq ga balas SMS kakak!..” Suara pemuda mengamuk manja.
“Tolol!! Ngga ada nomornya!! Kamu make operator VIP!!..” Yuna mengumpat tidak mau kalah setelah mengenali suara siapa yang berbicara dengannya lewat telfon. Jantung Yuna berdebar-debar tiba-tiba masih belum bisa mempercayai kejadian ini semua.

“Eh!! Hahahaha!!! Iya-iya princess Elisabeth!!.. kamu dimana say?!..”
“Najis!!!!!!!!!?... lu berubah setelah ke Aussy, Kak!!!!!?....” Yuna palmface parah.
“Hahaha!.. lets go on me, baby.. aku jemput dech!..”
“&^%&#%^&%!!!!!!!!!!!!!...” Yuna tidak habis fikir, Adwin yang dingin bisa selebay itu.
“Aku di Mall QueenMart! Lagi nyalon, bentar lagi deh kak..!!..” Yuna palmface.
“Iya!!.. kamu di salon saja aku datang bentar lagi..”
“!!!!!!!!!!!!?...” Jantung Yuna terus berdegup laju, masih tidak percaya.
Ellen menghampiri Yuna yang rambutnya sedang diolesi cat rambut.
“Ini Yuna-chan…
Kenalin ini Katrina.. pahlawan saya hihihi..” Ellen tersipu dengan senyumnya.
“…” Yuna tersenyum menjabat tangan Katrina yang keren dengan busananya yang fashionable itu, sepertinya dia orang kaya.
“Malaikat kecil Ellen yach..” Katrina tersenyum.

“…” Yuna tertegun.
“Aku akan dijemput sama abangku dia lagi di jalan.. kalian mau kemana abis ini?..” Yuna kini sudah  dilumuri cat pada rambutnya dan sebentar lagi tinggal duduk menunggu.
“Bukannya seharusnya kita habiskan waktu bersama..” Katrina sepertinya lebih percaya diri dalam bergaul, dia cepat mengakrabkan diri dengan Yuna, wanita Chinese itu juga terlihat lebih tomboy meski memakai sepatu cewek dan rok setengah paha.
“Kalian Lesbian ya? Kalian pacaran?..” Yuna tidak bisa menahan diri, dia sudah tidak asing dengan dunia Lesbian di masalalunya selama di jalanan dengan Adwin. Yuna tidak peduli jika pelayan salon mendengar, Yuna yakin Ellen tidak berlangganan salon disini sebab tidak mengajak pelayan salon disini mengobrol sedari tadi, jadi tidak masalah kalau percakapan mereka terdengar atau tidak, toh Yuna tidak akan kesana lagi setelah ini.
“Koq tahu, kamu bisa mengenali cewek lesbian dan cowok gay ya?.. hihi..” Katrina menoleh pada Ellen.
“Soalnya.. Mama melihat kamu dengan cara berbeda..” Yuna melihati wajahnya di cermin, Ellen melihatnya dari cermin dengan senyuman.
“Kalian benar-benar mirip..” Katrina menyilangkan lengannya dengan tertawa kecil.
“Hehehe..” Yuna bingung harus apa, mereka berdua menepi dan duduk di ruang tunggu.
Akhirnya rambut Yuna sudah selesai dilumuri cat, Yuna menunggu dengan bercakap-cakap online dengan teman-temannya.
Kemudian Ellen datang lagi setelah pelayan salon menghampiri Yuna lagi untuk membilas rambut Yuna.
“Mbak, coba di blow keriting.. mau lihat dia jadi manis kaya boneka..” Ellen meminta pada pelayan salon lalu bergegas pergi menuju Ellen lagi.
Gila.. aku beneran kaya princess.. mana Adwin tadi memanggilku begitu di telfon.. aku jadi merasa kalau hari ini aku terlahir jadi karakter berbeda..’ Yuna menghela nafas pelan dan bingung harus berkomentar apa hari ini, bertubi-tubi semua terjadi secara ajaib.
Kini Yuna sudah siap dikeramasi dan sedang diblow up.
“Dek!!..” Suara Adwin tiba-tiba terdengar.
“^&%&^^^&!!!!!..” Yuna menoleh ke sumber suara.
Nampak Adwin membuka pintu kaca salon di mall itu dan menuju kepada Yuna, Ellen dan Katrina memandangi Adwin, Yuna menoleh ke kaca agar bisa melihat mereka yang ada di belakang Yuna dengan praktis karena sedang dilayani.
“Kakak duduk saja dulu, dua wanita itu.. mereka kenal sama aku.. ngobrol aja dulu..” Kata Yuna setelah Adwin menghampirinya sambil bercermin.
“Iya..” Adwin berlalu dan duduk dekat wanita-wanita Chinese di belakang sana, di ruang tunggu.
“….” Yuna melihati mereka bertiga bercakap-cakap, terlihat akrab dan saling melempar senyum ramah. Yuna tersenyum tipis.
Kini sudah tiba saatnya Blow up rambut Yuna selesai. Yuna berdiri dan berjalan menuju mereka bertiga.
“Ayok lah..!!!..” Katrina memakai kacamata hitam berbingkai putihnya sambil berdiri.
“Kemana?..” Yuna mengenakan jaketnya yang tersampir ke kursi tunggu dekat tas Ellen.
“Adwin mengajak kita ke Waterpark!!...” Katrina merangkul Yuna, selayaknya seorang ayah gemas pada anaknya.
“Yuna…” Adwin melongo melihati Yuna.
“…..!!!!!!!?...” Yuna malu sejadi-jadinya, untuk pertama kalinya Adwin melihati Yuna dengan tatapan penuh perhatian dan keheranan seperti itu.
“Ternyata kamu beneran bisa jadi cantik yach..” Adwin menoyor jidat Yuna.
“!!!!!..” Yuna sungut. Lega rasanya jika Adwin seperti itu lagi, dia paling geli jika melihat Adwin lebay seperti barusan. Lebih baik jika melihat Adwin jahat dan dingin terhadapnya.
“Adwin bawa mobil ngga?..” Katrina membawakan tas cantik milik Ellen. Dan Ellen merangkul lengan Katrina dengan mesra, mereka semua berjalan menelusuri mall bersiap ke parkiran mobil.
“Engga, naik taxi tadi ke sini..” Adwin berjalan memasukkan tangannya ke kantong celana.
“Kalau gitu naik mobilku aja yach..” Katrina menikmati momen digandeng Ellen yang tersenyum sangat bahagia. Mereka berjalan di belakang Yuna sementara Adwin di depan Yuna.
“….” Yuna tersenyum tipis menahan perih, entah perasaan apa ini.
Aku tidak suka.. entah mengapa.. aku seperti orang-orang keren ini..
Kak Adwin dengan busana kasualnya yang bermerek mahal gitu..
Ellen dan Katrina jelas-jelas pakai baju mahal dan sepatu mahal.. tapi aku tidak bahagai dengan baju yang dibelikan Ellen ini.. sepatu ini.. Ellen dengan kekasihnya Katrina.. menganggapnya pahlawan.. dan Adwin datang dari Aussy.. menyempatkan diri bertemu aku.. dan perhatian sama aku setelah sekian lama.. dia berubah.. Aku benci!.. aku tidak suka!.. padahal aku sudah cantik dan pakai baju mahal yang dibelikan Ibu reinkarnasiku.. tapi!.. aku tidak suka..” Yuna melihati punggung Adwin yang berjalan di belakangnya dan terus memutar-mutar fikirannya, keluhannya dia ulang-ulang terus dalam kepalanya tanpa henti.
Kenapa kau berbeda.. kau berubah.. aku tidak suka..’ Dalam dada Yuna terasa sesak, Adwin berjalan santai dan Yuna tetap melihati punggung Adwin.
“!!!!!!?..” Adwin mengulurkan tangannya ke belakang kepada Yuna tanpa menoleh ke belakang melihat Yuna.
“Aku tidak berubah…” Adwin meraih tangan Yuna, menoleh pada Yuna.
“!!!!?..” Yuna merasa sangat terkejut, seolah Adwin kini memiliki kekuatan baru yang bisa membuatnya mendengarkan suara hati Yuna.
“Aku tidak akan berubah!..” Adwin tersenyum.
“!!!!!!!!!?...”
“!...” Adwin mempererat gandengannya.
Jalan yang kini dirasakan Yuna, langkahnya semakin berat. Ada kesedihan mendalam yang entah apakah itu. Dia sangat membencinya, sangat membenci perasaan yang tiba-tiba muncul itu. Tidak ada rasa suka sama sekali. Yuna mencari-cari sebenarnya perasaan apakah itu, yang dia benci. Yuna melihati tangan Adwin yang menggandengnya sangat kuat. Kekuatannya tidak berkurang sama sekali.
Adwin yang dulu dia patuhi dan takuti, kini dia memperhatikan Yuna. Ibu reinkarnasi yang ber-uang banyak memanjakannya dengan apa saja. Sisi mana yang Yuna tidak sukai?..
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Semenjak kita berpisah, aku melatih sisi bakat supernaturalku kak..
Aku tumbuh menjadi lebih kuat lagi.. aku ingin seperti kakak.. melindungi siapapun.. aku ingin bisa menjadi seperti kakak.. diandalkan banyak orang..” Mata Yuna dibalik kacamata milik Katrina sudah berkaca-kaca, gadis itu duduk disamping Adwin diatas kursi pantai putih di pinggir kolam renang dimana kedua perempuan yang dia kenal sedang bersenang-senang.
“Kakak menjijikkan ya?..” Adwin memegang bahu kiri Yuna, Yuna menoleh kepada Adwin dengan lemas.
“Tidak..” Yuna menjawab dengan rasa mengambang, merasa bahwa Adwin mungkin ingin diperhatikan Yuna dan membuat Yuna agar menoleh kepadanya.
“Maafkan kakak!!!..” Adwin menghentakkan kaki kanannya ke lantai.
“!!!!?..
Kenapa semarah itu??!..” Yuna tidak habis fikir.
“Disaat kamu berusaha!!.. kakak justru menghabiskan waktu di Aussy untuk melakukan banyak hal bodoh!!..” Adwin membuang muka.
“….” Yuna menyisihkan rambutnya ke telinga, tidak ambil pusing. Dia sudah memahami watak keras kepala dan angkuh hati Adwin, itu hal biasa.
“Itu sudah jalanmu.. dulu aku mati karena sebuah bom.. dan Ellen adalah ibuku di kala itu…” Penuturan Yuna membuatnya menoleh dan menyimak Yuna.
“Sebelum aku mati.. sesaat sebelum bom itu menewaskanku.. aku bertemu seorang anak laki-laki.. dia menggangdengku hingga nafas terakhirku..” Yuna menitikkan airmata, dia memegang tangannya sendiri.
“…” Adwin menatap Yuna dengan mata iba.
“…” Yuna menggigit bibirnya.
“Aku mencari-cari perasaan apa yang aku benci barusan saat kamu datang padaku.. saat kamu menggandeng aku!!.. itu ..” Yuna menangis, bahunya terguncang.
“A… Adek..!..” Adwin memegang tangan Yuna.
“Aku..
Itu tadi pertama kali kakak berjalan menggandeng aku dan..” Yuna sangat terguncang.
“Adek!!!..” Adwin menjatuhkan lututnya, menarik badan Yuna dan memeluknya sangat erat.
“Semenjak kenal Ellen, aku jadi sangat peka dengan memori kehidupan masa lampau.. aku jadi cengeng kak!! Aku malu!..
Aku sudah menganggap anak laki-laki itu kakakku.. dan aku tidak bertemu dengan dia hingga di kehidupan saat ini.. kini aku mengerti perasaan Ellen saat dia tidak mau kehilangan aku lagi..” Yuna meraih pinggang Adwin.
“…” Adwin hanya diam, detak jantungnya terasa oleh Yuna, Adwin sangat berdebar-debar.
“Saat aku menggandeng tangan kakak..
Rasanya aku seperti ingat.. bagaimana cara anak laki-laki itu menggandeng tanganku kak..
Sekarang aku tahu perasaan apa yang aku benci!!..”
“Adek!!!..” Adwin meletakkan tangan kanannya diatas kepala Yuna.
“Perpisahan!.. aku benci perasaan itu.. aku tidak bisa mempertahankan kalian semua.. saat ada Ellen dan kakak.. perasaan itu membabi buta menghantam emosiku!!..” Yuna memeluk Adwin sangat erat, tidak peduli seperti apa terhormatnya Adwin di masalalu, sejauh apa sebenarnya mereka dulu, hubungan yang kaku antara ketua dengan anak buahnya.
“Kau kan adekku!!..” Adwin mendorong kedua bahu Yuna dan menatapnya dengan mata berlinang air mata.
“!!!!!!!!...”
Ke.. kenapa dia… kenapa menangis..?..’ Yuna melepaskan kacamata milik Katrina yang dia pinjam.
“…” Adwin tersenyum, airmatanya menitik pelan.
“Kakak menemuimu hari ini.. agar bisa bertemu dengan Ellen juga.. kita bertiga!..” Adwin mengusap pipi Yuna.
“…?!!!.” Dentuman emosi di hati Yuna meledak.
“Diam-diam.. kakak sering chat dengan Ellen.. kamu bisa baca chat kami…” Adwin merogoh kanton celananya lalu mengeluarkan smartphonenya dan cepat menyodorkan kepada Yuna.
“….” Yuna meraih smartphone itu lalu melihat monitornya, sudah masuk di inbox akun sosmed Adwin, kakaknya itu tetap saja masih berbakat untuk mencari segala informasi dengan cara apapun, selalu lebih cepat dari angin dan petir untuk mencari jawaban, tiba-tiba ada rasa puas dan bangga untuk mengenal Adwin.
“……?..” Yuna menscroll ke atas.
“Kakak tahu dari Cookie Monster Kidd..” Adwin mencubit keras pipi Yuna.
“Uch!!..” Yuna menahan sakit dengan muka datar dan penasaran, benar bahwa di monitor itu ada nama akun yang Yuna buat untuk Ellen.
“Astaga….” Yuna terbelalak.
‘Kamu ibu rainkarnasi Yuna?’ Adwin.
‘Iya.. ini siapa yach?’ Ellen.
‘Di masa hidupku yang usang..
Aku mati karena sebuah bom, sambil menggandeng seorang anak kecil perempuan..
Sebelum meninggal dunia, aku adalah anak seorang insinyur penerbangan..
Ibuku meninggalkanku sejak kecil..
Aku terus saja memimpikan itu sejak aku masih TK.. sampai sekarang..
Apa kamu juga mengalaminya?..
Aku mau minta solusi..’ Adwin.
‘Benarkah kamu anakku?...’ Ellen.
‘Apa?..’ Adwin.
‘Yuna juga menceritakan bahwa dia tewas karena ledakan bom dan menggandeng seorang anak laki-laki.. suamiku menyusulnya tetapi ikut tewas dalam ledakan itu..’ Ellen.
‘Suami?..’ Adwin.
‘Aku memiliki dua suami, anak pertama aku tinggal dengan suamiku.. dan Yuna adalah anak kedua dari suamiku yang terakhir..’ Ellen.
‘Kenapa kau meninggalkanku!!!’ Adwin.
‘Maafkan ibu, nak..’ Ellen.
‘Aku tidak bisa memaafkanmu!!!.’ Adwin.
‘Ibu mohon maafkan ibu.. aku tidak bisa membesarkanmu…’ Ellen.
‘Kau egois. Aku benci kamu.’ Adwin.
‘Siapa kamu? Ayo bertemu.. aku di Pekanbaru.. Yuna juga akan datang ke Pekanbaru.. besok dia sampai disini..’ Ellen.
‘Aku sudah di Pekanbaru.. ada pekerjaan dan tiga hari lagi akan ke Jakarta..’ Adwin.
‘Ayo kita ketemu, ibu bisa menjelaskan semuanya.. ini nomor telfon ibu.. +62XXXXXXXXXXXX telfon saja sekarang jika perlu.. ibu akan jelaskan semuanya, sayang maafkan ibu…’ Ellen.
‘Tidak akan aku maafkan.’ Adwin.
‘Ibu akan bertemu Yuna, datanglah..’ Ellen.
‘Aku akan menemui Adikku, bukan kamu. Sekalipun melihatmu, aku tidak akan peduli padamu.’ Adwin.
“………!!!!!!!!!!!?????!...” Yuna terbengong, tidak percaya dengan semua yang terjadi.
“Ini kah takdir?..” Adwin melihati Yuna dengan raut kusut.
“…” Yuna tersenyum hambar.
“….Kakak berjanji seumur hidup akan menjagamu dari kejauhan..” Adwin tersenyum sedih.
“Ellen tidak mencintai ayahmu, mungkin saja dia tidak ada uang untuk membesarkanmu..” Yuna mengingat anak laki-laki yang menggandengnya sempat memainkan miniature pesawat, berlari dengan tawa lebar mengangkatnya ke angkasa dan berlari-lari kecil, mengitari Yuna kecil di tengah keramaian. Jika Adwin tidak dibesarkan pria itu, mungkin saja Adwin tidak akan pernah sebahagia itu.
“Kakak tidak mau tahu!!.. Hidup kakak terkutuk.. ayah dan ibu kakak di kehidupan yang sekarang pun sedang terpisah.. kini hanya ada kamu..” Adwin mencubit pipi Yuna.
“Kakak sangat ingin punya adek perempuan…” Adwin menunduk.
“Dulu aku mengejarmu yang bermain pesawat sambil menarik sebuah balon, kamu ingat itu?.. kamu ngga akan bertemu aku saat itu jika ibu ngga cerai sama ayah kamu dan menikah dengan ayahku..” Kedua tangan Yuna mencubit pipi Adwin dan menariknya, melar. Adwin mengangkat kepalanya lagi sambil tersenyum dingin dan kaku.
“Aku tidak mau tahu!!!..” Adwin menarik kepala Yuna dan mencium kening Yuna.
“%^&$%^*$^&#!!!!!!!!!!!!” Yuna cepat-cepat menarik kepalanya lalu menoyor jidat Adwin.
“Kamu berubah!! Kamu bilang kamu tidak akan berubah!!! Kamu menjijikkan! Aku geli!!..” Yuna menggosok-gosok jidatnya.
“…” Adwin tersenyum tipis.
“Kamu bisa telepati dengan kakak kalau kamu berfikir keras soal kakak mulai sekarang..” Adwin meletakkan tangannya di depan kepala Yuna, menutupi jidat Yuna.
“I IYA LOH KOQ TADI BISA GITU YAH!!..” Yuna teringat.
“Sepenuh hati dan fikiran! Pasti bisa!! Karena kita sudah terhubung sejak awal!!..” Adwin tersenyum tipis.
“… menjijikkan..” Yuna bernada datar tidak habis pikir.
“Bagaimana dengan Clara?.. kakak masih suka bertransformasi jadi kecewekkan?..” Yuna melihat Adwin berdiri dan duduk di bangku santainya lagi menghadap Yuna.
“Masih.. tapi kakak yakin ngga apa-apa..
Selama kakak di Aussy.. kakak makin playboy.. suka berfoya-foya.. kakak sering frustasi.. melihat kamu jadi sembuh..” Adwin blak-blakkan.
“Kamu berubah jadi genit!! Dan blak-blakan..!!..” Yuna sebal.
“Dek!..” Adwin menarik smartphone dari genggaman Yuna.
“…” Yuna melepaskan benda itu.
“Cuma adek, orang yang bisa kakak percaya!!.. karena itu kita terkoneksi.. jadi hanya adek yang akan jadi tempat sampah curhatan kakak!! Hahahaha!!..” Adwin meninju pipi Yuna pelan seperti hanya menoyornya saja.
“Euh!!..” Yuna menelengkan kepala. Lalu tersenyum tipis.
“Berenang yok!!..” Adwin berdiri.
“Ngga mau, aku lagi cantik nihh!!..” Yuna menyandarkan diri ke bangku santai.
“Mother Hell… baru ini juga kita barengan sebagai kakak dan adik kandung kan!! Eh.. mantan saudara kandung dink hahahah!!!..” Adwin menyilangkan tangan sambil berdiri.
“Eh!!!!!!...” Badan Yuna diangkat Adwin.
“%^&%^*#^!!!!!!!!!!!!..”
“BYUUUUUURRRRRRRRRRRR!!!!!!!!..” Adwin membanting Yuna ke air kolam.
Yuna kelabakan, dia tidak bisa berenang. Mata Yuna perih dan air sudah sedikit tertelan, tenggorokan Yuna turut perih. Nafas Yuna tersengal, panic.
Adwin melompat dan meraih tubuh Yuna.
“Adek ngga bisa renang ya!!..” Adwin meledek.
“Kakak itu memang berubah! Tapi satu hal yang ngga bisa berubah!!
Kamu jahat!!!!!!!..” Yuna menyikut perut Adwin yang memeganginya.
“!!!!!!!...”  Adwin menyentuh dada Yuna.
“AAAAAAAAAAAAAAARGHHHHHHHHHHH!!!!!!..” Yuna memukul muka Adwin sekeras mungkin.
“ADUH!!..” Adwin memekik pelan, Yuna menepi dan meraih dinding kolam mengangkat badannya lalu mengambil handuk.
“Dasar genit!!!!!..” Yuna memeluk dirinya.
“Eh! Ngga sengaja tau!! Lagian datar juga ngga bakalan bikin aku sangek dek!!..” Adwin cengengesan.
“%^&%^^&*$^&^&$^*$!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Yuna lari ke tempat duduk Katrina, mengambil baju kering. Lalu menoleh ke kolam diam-diam.
Adwin berenang menuju Ellen dan Katrina, kemudian Yuna melihati mereka bertiga bercanda di tengah kolam yang ramai.
“Entah apa yang terjadi, memang sejak tadi di salon dia sudah tersenyum saat bertemu Ellen kan.” Yuna tersenyum lega.
Setelah puas bermain disana, mereka ke sebuah restaurant dan makan malam bersama ditraktir Katrina yang merasa sebagai ayah. Adwin tidak berkomentar mengapa di kehidupan kali ini Ellen memutuskan untuk menjadi penyuka sesama jenis begitu pun Yuna. Ellen ingin menemukan jalan kebahagiaan dengan caranya sendiri.
Lalu seusai makan malam, Katrina mengantar Adwin ke hotel tempat Adwin menginap.
“Jaga diri baik-baik ya kakak!!..” Yuna berdiri di depan Adwin yang sudah turun dari mobil dengan muka gengsi.
“Iya!!..” Adwin melihat Yuna, meletakkan tangan diatas kepala Yuna.
“!!!!!!..” Yuna buang muka, tidak mau tahu.
“Sampai jumpa lagi, sayang..” Ellen membuka pelukan.
“….” Yuna menoleh melihat Ellen dan Adwin, tercengang.
Awalnya Adwin hanya melihati dengan tatapan sinis, matanya menembakkan pandangan dendam ke mata Ellen.
Kemanakah keceriaan tadi selama di salon, di kolam, di restaurant?...’ Yuna bingung.
“!!!?..” Kini Yuna melihat Adwin dengan pelan membuka pelukan dan meraih tubuh Ellen, memeluknya dan Ellen mengangkat tumitnya mengecup kening Adwin.
“Love you..” Ellen mengusap pipi Adwin tetapi Adwin tidak tersenyum, padangannya kosong lalu melepaskan pelukan Ellen dan langsung meraih tubuh Yuna dan memeluk Yuna sangat erat seperti berkata untuk menemaninya merasakan sebuah rasa perih mendalam.
Jantung Adwin berdegup sangat cepat, Yuna bisa mendengarkannya karena kepalanya tenggelam dalam dekapan Adwin.
“!!!...” Adwin mencium pipi Yuna.
“!!!!!..” Tangan Yuna kini di pinggang Adwin hendak mendorong dan melepaskan diri.
“!!!!..” Adwin mencium kening Yuna.
“!!!!..” Adwin memeluk Yuna lagi.
“Maafkan ibu…” Ellen melihati Adwin lebih memilih mengasihi Yuna, Yuna melihat muka Ellen yang kini basah oleh airmata.
“Kakak!.. ibu menangis!...” Bahu Yuna lemas.
“Biarkan saja!..” Adwin mengelus kepala Yuna.
“Jangan begitu!!!..” Yuna mendorong tubuh Adwin dan melepaskan diri, terlihat muka Adwin yang sembab menahan emosi.
“Bagaimana pun juga aku lahir dari suami keduanya.. kakak harusnya membenci aku juga!! Ini ngga adil sama sekali!!..” Yuna mengepalkan tangan.
“….” Adwin menghelakan nafas kesedihan.
“Aku tidak bisa…” Adwin mengucapkan kesadarannya, Katrina turun dari mobil lalu menghampiri Ellen.
“Akhirnya kalian tenggelam di masalalu lagi.. aku peringatkan.. itu memori lama dari jiwa.. jiwa yang sudah mati dan menitis pada kalian.. bukan memori kalian yang sesungguhnya!! Jadi tidak ada kesalahan Ellen bagi Adwin dan Yuna.. hanya Bella yang bersalah pada Luis dan Mirth..” Katrina berkata tegas sambil mendekap Ellen ke pelukannya, Yuna dan Adwin memandang muka yakin Katrina yang sepertinya juga paham akan dunia supernatural tetapi dia lebih dewasa pemikirannya dibandingkan Ellen, Adwin dan Yuna.
“Kau..” Adwin bingung.
“…
Kakak!... aku tidak akan lahir dan menemani sekaratnya kakak lhoh kalau ibu ngga nikah sama ayahku…
Kakak punya adik perempuan sebelum melepaskan diri dari masa itu kan..
Keinginan kakak terkabulkan..” Yuna meraih tangan Adwin, mencoba meyakinkan.
“Kau benar..
kalian semua tidak tahu bagaimana perasaan jiwa Luis saat itu..
Aku sangat sedih untuknya..” Adwin meraih tangan Yuna dan menguatkan pegangannya.
“Maafkan Bella…” Ellen menangis sesenggukan.
“…..” Adwin mengangguk pelan.
“….” Ellen tersenyum tipis penuh iba.
Adwin menarik tangan Ellen dan memeluknya, meraih kepala Yuna dan meletakkan di dadanya.
“Kalian akan aku jaga dari kejauhan..” Adwin melepaskan pelukannya lalu berjalan tanpa menoleh menuju hotal.
“Dia ngga ingin mengatakan salam perpisahan.. ini bukan perpisahan…” Katrina berjalan melewati Yuna menuju mobil.
“Ini.. bukan.. perpisahan…” Yuna menyadari, lalu tersenyum tipis.
Semenjak itu Adwin sudah menghilang kembali tidak ada komunikasi pada Yuna.

****************oOo*****************oOo***********************
Tahun 2015
‘Dek itu Greenland grup apa sich? Koq isinya aneh-aneh?..’ Adwin.
‘Itu grup terhubung ke dunia pararel di galaksi lain kak.. kakak bisa ke sana via mimpi sama aku koq.. mau?..’ Yuna.
‘Ya sudah.. ayok kita coba.. Rhean masih suka gangguin kamu ngga?..’ Adwin.
‘Aneh sih kak, semenjak kakak kembali.. aku kan makai foto palsu buat akun sosmed kakak, tapi dia fikir kakak itu jiwa buatan aku dan itu memakai jiwa dari Rhean.. entah jenis jin apa yang mengikuti Rhean itu.. sampai dia fikir aku ini terus mencoba membajak jiwa dia.. dia fikir kalau aku ini jahat.. tapi dia sudah tidak menggangguku lagi koq kak..’ Yuna membalas pesan Chat Adwin.
‘Siapa sich dia?.. sampai kamu menganggapnya twinflame kamu gitu.. kan twinflame kamu ada disini.. Adwin..’
‘Hehe.. dia mah baik aslinya, hanya ada pihak yang ngga suka kalau aku sama dia akur jadi kami diadu domba biar ngga bisa bertarung sama para penyembah setan lagi gitu.. dia samaan kaya’ kakak koq kurasa..’ Yuna mencoba menjelaskan.
‘Tidak sama, sama sekali tidak..’ Adwin mengelak.
Kemudian mereka Chat sampai Yuna ketiduran, di dalam mimpinya Adwin datang dengan Clara mereka bergandengan tangan. Yuna berdiri di gerbang Greenland lalu mengantar mereka masuk.
“Ini kan kampung halamanku!!!..” Clara tersenyum lebar saat setelah masuk ke dunia Greenland.
“Benarkah!!!!??...” Yuna dan Adwin terkejut sejadi-jadinya.
“Iya!!!..” Clara mengangguk pelan dengan senyum lebar, matanya menitikkan airmata dan menjadi Kristal saat lepas dari kulit wajahnya.
“Biarkan aku yang antarkan nona Clara ke Guardinal #Sensored4...” Diamond datang sambil tersenyum ramah.
“Iya!!..” Clara mengangguk.
“Atau bisa aku panggil dengan nama asli #Sensored5..” Diamond berjalan pelan diikuti Clara.
“Nama aslinya Clara itu  #Sensored5?..” Yuna menoleh ke Adwin yang bengong.
“Kak!!..” Yuna meraih lengan Adwin dan menggoyang pelan badan Adwin.
“Eh!!.. Iya mungkin..” Adwin masih bengong.
“Ini mimpi kan dek?..” Adwin menoleh pelan ke muka Yuna dengan tatapan kosong.
“Iya..” Yuna menggandeng Adwin yang bengong saja.
“Dimana pohon itu…” Adwin mengedarkan pandangan dengan tatapan kosong.
“Kakak!!!?..” Yuna menampar Adwin.
“ADAW!!..” Adwin memegangi pipinya.
“Sakit Dek!!..” Adwin membentak Yuna.
“…?!..” Yuna melihati tingkah Adwin yang baru sadar.
“Ada apa?.. pohon apa yang kamu cari?..” Yuna melihati Adwin yang menggosok pipinya.
“Pohon itu berdaun putih.. di tengah sebuah padang rumput.. aku bertemu Clara di bawah pohon itu saat masih sekolah dulu..” Adwin mengatakan dengan terbata-bata.
“Kakak pernah ke sini jauh sebelum aku!!!..” Yuna tersenyum lebar.
“…” Adwin mengangguk pelan sambil menoleh kemana pun mengedarkan pandangan.
“Kakak itu beneran kakak aku ya ternyata hehehe!!!..” Yuna berlari menarik tangan Adwin, sementara pemuda itu berlari mengikuti Yuna dengan tatapan mata masih shock.
Agak lama berlari dan kini Yuna menaiki bukit.
“Adek mau bawa kakak kemana sih dek!!..” Adwin bingung, dia tidak kelelahan sama sekali tetapi Yuna tidak heran karena udara di Greenland penuh energy.
“Itu pohonnya!!..” Yuna menunjuk ke sebuah pohon yang tadi digambarkan Adwin. Berdiri di tengah hamparan rumput yang dikerumuni pebukitan bunga dan gandum menguning.
“!!!!!
Subhanallah!!..” Lutut Adwin jatuh ke tanah.
“Yah!! Allahu akbar kak!!..” Yuna tersenyum lebar.
“Astaghfirullah inahu kana ghafaraa..!!! Adek!!..” Adwin menoleh ke Yuna.
“Yah!!!..” Yuna tersenyum kuat.
“Kakak ngga bakalan lupain adek deh!!.. hehe!!.. setelah Allah tentunya!!..” Adwin menarik tangan Yuna, Adwin duduk bersama Yuna memandangi hamparan pebukitan yang indah, padang rumput disekelilingnya bunga tumbuh dan nanjauh disana ada gunging yang terhampar, angin sejuk bertiup bersama butiran kosmik emas. Serangga bercahaya beterbangan menikmati aroma harum bunga yang terbawa arus udara.
“Entah dunia apa ini, katanya sih setiap manusia tulus saja yang bisa kesini kak.. aku yakin ngga hanya kita berdua.. maka itu grup Greenland aku bentuk.. tetapi koneksi ke sini hanya jika kenal sama aku saja.. karena aku ngga tahu hal lebih mengenai gerbang dunia ini..”
Semenjak itulah Clara pulang kampung dan Yuna dipanggil Guardinal Greenland untuk menerima amanah baru sebagai duta gerbang Greenland, dan Adwin diberi kesempatan pribadi berhak masuk dan keluar dimensi Greenland kapan saja.

(͡˘˛˘ ͡)

 ‘Siapa Brighter dek?’ Pesan Adwin datang.
‘Ada apa kak?..’ Yuna membalas.
‘Kenapa kamu memanggil dia sengan sebutan Ayah terus?..’ Adwin.
‘Oh.. dia ayah reinkarnasiku kak.. rencananya sih mau aku kenalin ke mama Ellen.. siapa tahu mereka satu masa kehidupan di masa lama..’ Yuna.
‘Oh..’ Adwin.
‘Dia dulu mengejar anaknya dan mau mengajak ke sebuah space mothership saat dia mau bertugas kembali, anaknya berlari dan entah kemana memasuki tempat penampungan orang-orang yang mau di evakuasi.. ledakan besar terjadi dan dia meninggal dan masih mencari-cari anaknya itu.. mimpi itu menerornya sejak dia kecil sampai usia dua puluh tahunan kak..
Sementara di ingatan aku, aku melihat bulan ada tiga lalu sebuah pesawat angkasa melasernya hingga terbelah.. kata Brighter itu mothership musuh.. masuk akal juga, masa bulan di laser sama pesawat kan.. aku melihatnya di antara orang-orang yang sedang berlindung, mereka kebanyakan tiduran di tanah.. di malam hari.. ada perang di udara.. pesawat besar dimana-mana.. lalu ada ledakan dan aku ngga ingat lagi..
Aneh kan? Itu memori sepertinya futuristic.. ngga mungkin kan kalau jaman purba itu sudah ada tehnologi futuristic sementara peninggalan Firaun aja belum ada tehnologi canggih selain guci charger tradisional..
Setelah aku bahas itu, dia merasa lega tiba-tiba loh kak..
Terus yah kak sejak aku di grup metafisika, aku tuh ngga pernah menuruti kata-kata orang lain.. tapi anehnya apapun kata dari Brighter.. aku turutin dia.. nurut sama nasehat dia.. dan dia itu sejak pertama kenal aku emang cuma nganggap aku itu masih bocah, padahal aku sudah gedhe dan berhasil bikin oaring-orang menghargai aku.. tetep aja dia nganggap aku cuma bocah.. dan anehnya setelah membahas kehidupan lama kami dan saling menerima fakta bahwa kami adalah Ayah dengan Anak, perasaan jiwa tua antara dia dan aku kayak menguat..
Tapi aku rasa pertemuan kami itu di kehidupan lain, di bumi pararel, kembaran ghaib bumi ini kak..’ Yuna.
‘Masa sich dia kenal Ellen?..’ Adwin.
‘Coba ku kenalkan aja deh..’ Yuna.

(‿≖ )

“Anehnya, aku tuh biasanya ngga pernah nurut sama cewek dan aku ngga mudah buat jatuh cinta sama cewek loh, sama istri aku aja.. proses nikahnya kami itu lama..
Tapi Ellen bisa bikin aku tenggelam dalam asmara dan emosiku itu seperti dalam banget.. apapun ucapan dia juga aku nurut.. anehnya.. dia mengomel pun.. aku senang loh.. biasanya aku risih..” Brighter menelfon Yuna setelah beberapa hari kenal dengan Ellen sebelum Ellen menghilang dan menyerahkan akunnya kepada Yuna lagi.
“Kemarin saat kalian bertengkar sebelum Ellen pergi gara-gara ayah bilang mau nikahin Ellen lagi, kan aku chatting sama kalian berdua, mendadak deviceku mati, listrik di kotaku juga mati!.. awan menjadi berantakan.. gila bener energy kalian berdua bener-bener dasyat..” Yuna menepuk jidat.
“Hahaha.. itu belum seberapa..” Brighter juga bingung mengapa bisa begitu.
“Tapi yach, asal kamu tahu saja.. aku mimpi di sebuah ruangan dan aku melihat dia lagi disiksa.. dipaksa melayani pria.. prostitusi.. mungkin itulah yang menyebabkan dia malu untuk aku nikahi.. aku benar-benar bisa koq menerima dia apapun nasib dia sekarang tapi dia malu.. gilanya dia mau meninggalkan anaknya dan suaminya untuk menyusul Katrina di Filipina..” Brighter.
“Masa’ sih, ayah!!?..” Yuna bingung.
“Dia bilang membunuh ibu entah neneknya aku lupa deh..” Yuna pernah ditelfon Adwin dan Adwin menceritakan masalalu Ellen tetapi Yuna tidak ingat pastinya.
“Dia tidak mau aku perhatikan lagi.. ya sudah.. dia takut kenangan di masalalunya itu menguasai jiwanya lagi dan memutuskan melanjutkan sisa hidupnya.. tapi.. anehnya dia bilang usia dia sudah tidak lama lagi.. itu yang aku takutkan.. aku menduga kalau dia merencanakan bunuh diri..” Nada Brighter serius.
“Ah.. masa sich…” Yuna lemas tidak ingin memikirkannya.
“Hahaha.. aku juga bingung sama dia..” Brighter.
“Aku tidak tahu, dia juga sudah menjauhi aku koq..” Yuna kecewa.
“Ya udah deh, nggausah dipusingkan.. kapan-kapan aku telfon lagi yah..” Brighter.
“Iya, ayah jaga aja kesehatan ayah.. nggausah cemaskan Ellen, dia ngga bisa ditebak..” Yuna menutup telfon setelah menjawab salam Brighter.
“Ellen itu serius tidak sih!!..” Yuna membanting HPnya ke Bed.
Yuna berjalan ke balkon kamarnya.

“……..” Yuna melihat awan berbentuk naga emas, spirit energy milik Ellen.
Sebelum Ellen menghilang, dia sempat selalu melindugi Yuna dari bahaya ilmu hitam yang menyerangnya. Apalagi melakukan dream walking dan berkelana bersama-sama, khususnya pengalaman saat Adwin dan Yuna mencoba menyelamatkan Ellen yang jiwanya terculik penyembah setan ke dunia pararel. Disaat itulah Yuna menyaksikan Ellen menjadi spirit naga emas dan menyelamatkan Yuna yang akan terjatuh kejurang saat melawan seekor monster setan. Kesedihan mendalam membuat Ellen bisa bertransformasi dan mengirimkan energy naga ke Adwin hingga Adwin yang biasanya berubah menjadi serigala api biru justru berubah menjadi naga hitam kebiruan yang kemudian melawan monster setan itu.
“Terasa aneh…” Yuna kini melihati awan di hadapannya.
“Kau ingin membuktikan kau menyayangiku, karena itu kau mengirimkan energimu ke sini..” Yuna melihat dengan datar.
“Kenapa kau tinggalkan aku dan ayah..” Yuna bingung.
“Beeep beep!!!!..” Telfon berdering, Yuna berjalan kembali ke bed lalu mengambilnya.
“Kakak…” Sapa Yuna setelah membaca nama pemanggil dan mengangkat telfonnya.
“Kenapa adekku sedih?.. jantung kakak sakit..” Adwin kini ada di Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan besar, karena itu dia bisa menelfon Yuna.
“Aku baru saja ditelfon Brighter dan ibu mengirimkan energinya kesini untuk membela diri.. dia ingin berpisah dengan aku dan ayah.. apakah dia masih menghubungimu?...” Yuna berjalan ke balkon lagi lalu duduk lemas di tengah pintu balkon.
“Dia tidak pergi, hanya tidak menghubungi.. dia mengawasi dari jauh koq..” Adwin menenangkan.
“…”
“Dia menghubungi kakak via Camchat jika liburan..”
“Begitu…”
“Adek kenapa sih!!!.. lemah amat!!..” Adwin geregetan.
“Ceritakan aku masalalu Ellen yang kamu ketahui..” Yuna mulai kesal dalam hati karena tidak tahu apa-apa soal Ellen selama ini selain bahwa kini dia sudah punya anak yang masih balita dan suami yang super sibuk, sementara Katrina sebagai kekasihnya masih menghubunginya dan sering memadu kasih bersama Ellen saat suami Ellen pergi.
“Kehidupan kakak dikutuk dek..”
“Ujaran itu lagi!!..”
“Bukan dek.. ini betulan.. selain ayah dan ibu kakak terpisah, ibu Ellen juga menderita di kehidupannya dari dulu hingga kini.. di kehidupannya dulu dia melakukan prostitusi, dan di kehidupan ini juga..”
“!!!!!!!!!!!!!!!!?..”
“Ibu Ellen bekerja sebagai orang di panti social dan mengabdikan diri untuk kuil saat siang hari.. tetapi di malam hari, alter egonya menguasai sisi gelapnya.. dia berkemelut dengan dunia gemerlap malam seperti kakak dan lebih parah lagi..” Adwin menghela nafas kesal.
“Suaminya dan anaknya?..” Yuna bingung.
“Nikah kontrak..”
“%^&^&^#*#&%^&#!!!!!!!!...”
“Itu kebenaran.. dia hancur!..”
“Bagaimana ini.. katanya dia mau menikah dengan Katrina?.. Katrina kan kaya yah..” Yuna berdiri.
“Kalo kaya kenapa ngga bisa bantuin Ellen sih!!..” Yuna kesal.
“Sudah dek.. Kate sudah bantuin.. tapi tetap saja ada yang ngga bisa diselesaikan dengan cara gampang.. aku juga ngga ngerti.. dia ngga cerita lebih.. apalagi kejadian yang bikin ibunya terbunuh…” Adwin terdengar stress.
“Kak, dia bohong dan mengarang-mgarang cerita kali kak! Ngga mungkin sebejat itu.. dia itu cewek kalem dan dia itu ngga…”
“Alter ego itu gimana sih?.. dia punya sisi jahat.. jiwa dia yang lain… seperti kakak..” Adwin memotong ucapan Yuna dengan ketus.
“!!!!!!!!!?... sisi lainku… tidak seperti aku, dia berhijab dan bercahaya.. nggak!! aku ngga percaya!!!!..” Yuna penat.
“Itu kan kamu dek!!!.. tapi lihat disini kamu badungnya gimana!!..” Adwin ikutan emosi.
“Kenapa kakak ngebelain Ellen sekarang!!!..” Yuna naik darah.
“Karena dia ibuku dek!!!.. aku pendosa dan aku paham perasaannya!!.. dia ingin lepaskan diri dengan hidup bersama Kate.. menebus dosa.. entah gimana menurut akal dia sendiri!!..” Adwin melemaskan nada bicaranya.
“Sekian lama aku main sosmed, aku merasa akan menemukan sesuatu disosmed dan itu ternyata ayah rainkarnasi aku, aku dari kecil selalu menangisi ayah.. padahal aku punya ayah di rumah, tapi tetap saja.. dan kini setelah dia ada.. malah dia menjadi error.. kakak tahu tidak..”
“Apa..?.”
“Ayahku kemarin sedang marah besar karena ibu menolak dia ajak menikah lagi, dan dia bilang.. ayah menjadi binatang seharian emosi dan meledak-ledak.. ngga bisa kendalikan diri dan menjadi kejam.. hanya ibu yang bisa menjinakkannya.. dan entah apa yang akan terjadi saat ibu pergi lebih lama tanpa kabar ke dia.. itulah sisi jahat ayahku itu..” Yuna menyandarkan diri ke pintu balkon, melihati langit semakin gelap.
“Dia akan baik-baik saja.. karena anaknya saja seperti kamu.. dia melebihimu..” Adwin menenangkan.
“Akankah Ibu bertemu dengan ayahmu kak..?..” Fikiran aneh Yuna muncul.
“Adek lucu deh..” Adwin kesal.
“Hehe.. siapa tahu saja..” Yuna agak melunturkan kekesalannya.
“Dia sudah bertemu di Thailand tahun dua ribu empat belas lalu..” Adwin berbicara dengan nada datar.
“Lalu?..” Yuna bingung dengan nada Adwin, sepertinya kisahnya buruk.
“Ayahku menyakiti ibu..” Adwin lemas.
“…..?...” Yuna bingung harus merespon dengan bagaimana.
“Ayah bekerja di perusahaan swasta, di perkebunan anggur dan bertemu ibu disana.. ibu mengikuti kata hatinya.. pekerjaannya membuat dia bisa jalan-jalan.. tetapi bos-bosnya itu bejat dek.. mereka lah yang senantiasa berbisnis tubuh dengan ibu.. bukan pelanggan jalanan..” Adwin menghela nafas.
“Anjing-anjing itu…” Yuna gusar.
“Ibu mulai membahas masalalunya, dan pria itu mengatakan selalu bermimpi membuat rancangan pesawat.. sampai mengajaknya ke rumah.. ibu dikasih tahu banyak lembaran sketsa pesawat.. aku dikirim fotonya juga..
Hal itu paling gila..
Mereka tenggelam dalam asmara..
Sampai pria itu mengangiaya ibu setelah mengingat bahwa dia meninggalkan pria itu demi pria lain..
Entah bagaimana pria itu ingat, mungkin lewat mimpi.. dia melihat ibu jadi istri orang setelah sekian lama berpisah..” Adwin terbata-bata.
“Pria itu ngapain?..” Yuna semakin galau.
“Memukuli mukanya.. perutnya.. gila.. aku saja tidak percaya.. tapi foto dia yang saat itu lusuh karena pria itu pun dikirim ke aku, dek..” Adwin semakin galau.
“Kak…” Yuna bingung harus bagaimana.
“Ibu ngga jadi melaporkan pria itu ke polisi, dia simpan foto itu..
Seharusnya itu jadi barang bukti kasus penganiayaan..
Tapi dia urungkan untuk bayar dosa dia ke ayahku..
Aku jadi malu sama diriku sendiri..” Adwin mendengus kesal.
“Sudah, kita skip saja kak.. yang penting kakak nanti…. kakak jangan kaya’ gitu ke istri kakak yah!..” Yuna masuk ke kamarnya, mengingat bahwa Adwin itu tipe sadis.
“Adek juga cari suami yang kaya’ kakak lah.. mavia hehe.. biar dijagain tuch!..” Adwin terkekeh.
“Iya lah!! Aku kan mantan mavia juga, welk!!!..” Yuna nyengir kuda.

****************oOo*****************oOo***********************
Tahun 2017
Adwin menghilang lagi, tanpa kabar setelah kembali ke Aussy lagi. Tetapi Yuna mendapatkan informasi dari Cookie Monster bahwa Adwin sedang sakit dan masuk rumah sakit. Yuna tepukul mendapati kabar itu sehingga menutupi hilangnya Adwin rapat-rapat. Hingga datang sebuah kabar baru dari Adwin yang menikah pada bulan Juni, saat itu sedang puasa Ramadhan.
Suatu sore, sebuah telfon dari nomor aneh menghubungi Yuna.
“Halo..”
“Adek..”
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!????????..” Suara Adwin, terdengar sangat lemah dan serak.
“Kakak kenapa?...” Yuna seperti dipukul dari dalam, tiba-tiba perasaan kecewa datang.
“Maafkan semua dosa kakak pada adek yach…” Suara Adwin tidak main-main, sangat parah seraknya dan tidak bergairah, lemah dan tipis.
“KAKAK KENAPA!!!?..” Yuna kebingungan, tangannya mengepal tidak terima dan kecewa.
“Kakak begini… uhk… karena menahan.. eugh.. serangan para penyembah setan.. dek.. .. jangan macam-macam sama.. mereka…” Adwin kesusahan, seperti sangat lelah baginya untuk berbicara.
“Aku tidak akan macam-macam?!!!
Aku akan membalas perbuatan mereka kak!!!..
Cookie bilang, kakak di rumah sakit!!! Kakak sakit tipes atau sakit apaan!!!..” Yuna tidak bisa menahan amarah.
“Doakan pernikahan kakak ya dek.. nanti kita ketemu lagi di Medan.. hehe… kakak pasti akan mendatangi adek koq.. hehe.. aku tidak akan semudah ini mati.. ughk!!...” Tawa serak dan lemah Adwin mengembang di telfon.
“Kakak jangan maksain diri, kalau masih sakit ditunda aja pernikahan kakak..” Yuna khawatir, karena kesehatan Adwin menurun drastic setelah hendak menikahi calon istrinya.
Adwin memaksa dirinya untuk menonaktifkan indera supernaturalnya dan membendung semua penderitaan yang dikirimkan para penyembah setan kepadanya tanpa melawan sedikit pun. Akibatnya tubuh Adwin drop hingga masuk rumah sakit, pasalnya jika Adwin membalas maka para penyembah setan akan mencelakai calon istri Adwin saat itu.
“Orang calon kakak yang mendesak, dia ingin jadi janda katanya..” Adwin sebal dengan gaya lemah tak berdaya.
“Adwin lagi jatuh cinta sampai mengorbankan diri seperti itu ya.. akhirnya kamu tahu juga rasanya cinta yah kak..” Yuna tersenyum lega karena kakaknya selama ini membenci wanita, mungkin Ellen merubahnya.
“Kakak nasibnya ngga jauh dari jalan adek.. adek dapat Ride so kakak dapat Amanda..” Adwin terkekeh. Yuna merasakan semangat Adwin, dia tersenyum tipis trenyuh.
“Ugh…” Suara keluh Adwin membuat Yuna menghilangkan senyumnya lagi.
“Kalau kakak nikah sama pacar yang sekarang, berarti aku bakalan nikah sama Ride dong!.. hehehehehe” Yuna senang tanpa alasan. Dia ingin Adwin menunggui Yuna lebih lama agar bisa melihat masa depan Yuna dengan Ride nantinya.
“Hehe.. iya.. Adek santai saja.. Amanda kan Cristal Child.. dia bisa heal kakak.. dia wanita yang limited edition..” Kekeh Adwin pelan sedikit terbatuk.
“Ya sudah tidur sana.. hehehe Ride itu menyenangkan.. aku juga tidak menyangka bisa dapat cowok kaya’ dia hihhihi…” Yuna nyengir.
“Iya, sampai jumpa nanti ya dek..” Adwin menutup telfon, seperti biasa dia tidak mau mengucapkan salam perpisahan.
“Banyak pulsa.. nelpon dari Aussy.. tapi kirim pulsa jarang..” Yuna sungut. Tapi dalam hatinya ada kecemasan luar biasa.
Aku yakin serigala itu tidak mudah mati karena salju, meski musim es tidak berujung.. meski tidak ada matahari..’ Yuna menguatkan hati dan yakin, mengingat Gold dan Holly bahkan Cookie sekarang masih menunggu kembalinya Adwin. Ada banyak yang mengharapkan Adwin kembali, jadi pasti Adwin akan kembali.
****************oOo*****************oOo***********************
Dua minggu kemudian, di sore hari..
Yuna mengendarai sepeda motornya ke sebuah perempatan jalan tempat arah Adwin akan lewat karena mau ke kota sebelah tempat Yuna tinggal. Adwin sudah SMS Yuna bahwa dia akan melewati perumahan tempat tinggal Yuna. Dan saat itulah Yuna berdebat dengan Ride yang cemburu kepadanya. Yuna menemui Adwin dan takut jika Yuna akan melupakan Ride sesaat saat memperhatikan Ride.
Yuna pun berniat membatalkan pertemuannya dengan Adwin demi Ride, tetapi Ride kemudian mengalah. Saat Yuna memutuskan untuk membatalkan pertemuan dan ingin kirim kabar ke Adwin bahwa dia tidak bisa datang, SMS Adwin justru datang.
‘Sekali saja ingin melihat adikku.. kakak sudah dekat..’
“!!!!!!!!!?..” Yuna teringat kembali kondisi kakaknya saat ini sedang parah-parahnya. Yuna tidak tega dan akhirnya dia mengambil kendaraan di garasi dan melaju menuju perempatan dimana Adwin akan berbelok melewatinya ke kota sebelah.
Rambut Yuna masih sedikit basah karena baru mandi. Tetapi Yuna tidak ambil pusing jika harus malu, tetapi fikirannya terus memikirkan Ride saat itu. Ride tidak tahu sejauh apa hubungan Yuna dengan Adwin selama ini dan dulu Ride tahu bahwa Yuna dan Adwin berpacaran di sosmed, padahal itu hanya metode agar Yuna tidak didekati cowok di sosmed. Semua berkecamuk, bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Ride saat itu yang terus saja menghawatirkan nasib hubungan mereka. Ride begitu cemburu kepada Adwin karena Yuna lebih banyak menuruti Adwin dibanding Ride, itu semua karena Adwin berwatak sangat kera. Kedua orang itu sama-sama sangat keras kepala, tidak ada yang bisa dipilih.
“Mau mati saja rasanya..” Yuna menghentikan sepeda motornya setelah menepikannya di depan toko tutup yang ada di perempatan.
Sebuah mobil berhenti dekat tempat Yuna menunggu beberapa menit kemudian. Adwin keluar dari mobil dengan agak lemah.
“Astaghfirullah, kakak.. kakak belum sehat koq sudah keliaran sih, penting amat ke kota sebelah ya!!...” Yuna berlari memegangi Adwin yang terlihat sangat lemah.
Adwin berdiri tegak secara perlahan, meletakkan tangan kiri diatas kepala Yuna sambil menghela nafas.
“Masih segini aja koq!..” Adwin memegangi bahu Yuna karena payah berdiri.
Yuna mengambil HPnya, ‘Kenapa Ride ngga menelfon juga.. padahal ini timing yang pas supaya dia bisa bicara sama Adwin.. dia belum pernah sama sekali bicara sama Adwin.. kasihan dia.. pasti dia merasa Adwin benci atau semacamnya..’ Ternyata tidak ada sinyal.
Energi Adwin ini loch.. negative banget ternyata!!!.. sampai sinyal aja bisa ilang.. tapi tadi dia bisa SMS aku.. jangan-jangan karena energiku me-nol-kan energi disekitar dia..’ Yuna makin cemas. Yuna merasakan getaran energy negative kuat sekali keluar dari kulit Adwin. Yuna tanpa sadar merasa takut pada Adwin karena kini Adwin seperti sosok lain, seperti hantu.
Saat ini Adwin berambut kecoklatan, terlihat seperti bule 100%. Yuna menduga mungkin sakit Adwin mendadak, Adwin tidak pernah mengecat rambutnya. Coklat adalah warna rambut yang melukiskan rasa bahagia seseorang. Tentu saja saat itu kan Adwin akan menikah, pasti tanggalnya sudah direncanakan Adwin. Tetapi sepertinya di tengah jalan ada yang menjegalnya. Sehingga hari bahagia dia akan tertunda, tetapi siapa sangka. Adwin tetap nekat menikah saat kondisinya seperti ini. Komitmennya pantas untuk ditiru oleh Yuna, tiba-tiba Yuna teringat pada Ride lagi. Membayangkan pasti nanjauh disana Ride sudah amat jengkel, mencoba menelfon Yuna tetapi nomor Yuna sedang sibuk karena tidak ada sinyal. Fakta dan ujian yang menyedihkan, kini Yuna merasakan adanya energy yang menyelimuti Adwin berpengaruh supaya siapapun membenci dan menjauhi Adwin. Mungkin saja, istri Adwin dulu juga jadi pemarah pada Adwin setelah Adwin sakit. Yuna ingin menanyakan itu semua kepada Adwin, tetapi tidak ada keberanian.
“Dek!.” Adwin membuka pelukan.
“Maaf kak.. bukannya aku menolak….” Yuna sangat sedih dan terpukul. Sesak memenuhi dadanya, nafasnya menjadi panas selayaknya terbakar emosi dan menguap.
“….. Ngga kangen sama kakak.. kakak kangen lho sama adek.. hehe..” Adwin tersenyum.
Padahal Adwin sedang ramah-ramahnya padaku..padahal dia sedang ingin aku semangatin.. tapi… akunya malah lagi begini..’ Mata Yuna mulai basah, tapi Yuna lekas membuang muka dan menguatkan mental.
“Aku menemui kakak… tapi.. Ride sudah nyuruh aku buat jaga jarak sama kakak…” Yuna mengusap matanya dengan kuat.
“….” Adwin meletakkan tangannya diatas kepala Yuna, mengusapnya.
“Selfie aja deh, istriku mau tahu muka kamu.. senyum ya…” Adwin mengeluarkan HP qwertynya dan mengarahkan kamera.
“!!!?...” Yuna melihat Adwin, Adwin menggigit bibir bawahnya.
Dia kenapa… apakah kontak batin terjadi.. dia sedih juga?..’ Yuna memundurkan langkahnya, tidak mau menerima kenyataan konyol ini lagi.
“….” Adwin melihati Yuna seperti tertegun.
“…” Yuna bingung harus apa.
Adwin berjalan menuju Yuna, Yuna tidak bergerak dan tetap bernafas dengan sesal. Adwin berjalan ke belakang Yuna, mereka berdiri di depan sebuah toko yang sudah tutup dan sore itu cerah, Yuna melihati kendaraan yang lewat dan langit yang indah, ingin melupakan sekarang apa yang sedang terjadi. Adwin ke belakang Yuna lalu mengangkat HP qwertynya ke udara.
“Jangan meninggalkan kesedihan, senyum aja apapun yang terjadi..” Yuna melihat ke arah kamera lalu tersenyum tipis. Bunyi taken pict dari kamera terdengar.
“…” Adwin berjalan lagi ke mobil.
“Yasudah lah.. farewell adek..” Adwin berjalan kembali ke mobil.





“….” Yuna murung melihati kondisi Adwin yang kuat kini terlihat seperti bukan dia yang biasa di masa legendanya dulu.
“Farewell!!..” Adwin melambai dengan senyum dibalik jendela mobil, mesin dinyalakan oleh sopir.
“…kenapa kamu mengucapkan salam perpisahan kak..?..” Yuna mendekat ke jendela.
“Satu kali saja bertemu adek… kakak mau ke Aussy lagi beberapa bulan lagi.. entah kapan lagi mau bertemunya..” Adwin tersenyum tipis, Yuna melirik ke seat sopir, sopir Adwin masih muda mungkin itu anak buah Adwin.
“Bodoh…” Gumam Yuna.
Yuna berjalan menaiki kendaraannya dan kembali pulang, terlihat mobil yang dikendarai Adwin melaju dengan pelan.
Yuna kini melaju dengan kesal menuju perumahan yang dia tinggali, dia masih merasa kecewa dengan Adwin yang memutuskan mengalah pada serangan para penyembah setan yang selalu memburunya. Entah mengapa Adwin bisa berhadapan dengan mereka. Kini Yuna sudah sampai di rumah dan berlari ke kamarnya. Duduk di depan PC dan merasakan nyeri di dadanya, ini perasaan Adwin yang tersalur pada Yuna. Entah apa yang akan terjadi pada Ride jika mengetahui bahwa Yuna selama ini selalu merasakan perasaan Adwin dan bisa bertelepati dengan Adwin. Biasanya perasaan Adwin tidak menimbulkan masalah, karena perasaan Adwin selalu kosong dan hambar, kadang ada rasa murka dan sadis. Hanya ada perasan tega dan tidak peduli jika Yuna menikmati emosi dari pesan Adwin. Tetapi semenjak Adwin masuk pondok pesantren lagi di awal tahun 2017 sebelum ke Aussy, Adwin berubah secara perlahan menjadi memiliki sisi emosional. Mungkin saja pengaruh membaca al-Qur’an bisa melunakkan sisi psikopat seseorang.
“Beep beep!..” Telfon Yuna berdering, ada panggilan dari Ride.
“Kenapa kamu matiin HP kamu?.. ngga mau diganggu yah?!.. biar bisa berduaan aja sama abang kamu itu” Ride ketus.
“….” Yuna bingung harus menjelaskan apa, ada dunia Yuna yang belum pernah Ride tahu selama ini.
****************oOo*****************oOo***********************
Sekarang lebih sering terjadi pertengkaran dengan Ride, Yuna selalu mendapati kasus yang sama saat memperhatikan Adwin. Ride pasti cemburu kepada Adwin meskipun sudah Yuna jelaskan semua yang terjadi di belakang Ride selama ini antara Yuna dan Adwin. Hingga membuat Yuna muak dan akhirnya memutuskan untuk menjauhi Adwin dan menghilangkan kontak dengan Adwin.
Jauh pun tidak masalah.. perasaanmu masih bisa kakak rasakan..’ Adwin mengirimkan pesan kepada Yuna, terdengar jelas di telinga Yuna saat menuju lelap.
Tidak usah mengomel.. aku mau tidur..’ Yuna melakukan sebuah afirmasi dan mendindingi dirinya dengan gelembung energy seperti kaca.
Energi Adwin memantul dan tidak bisa masuk ke alam bawah sadar Yuna. Yuna menarik nafas panjang dan memeluk gulingnya, tidak mau mengambil pusing. Lelah rasanya bertengkar terus dengan Ride, dulu Yuna mengatakan lebih memilih Adwin karena ingin memancing emosi dan potensi Ride, tapi kini Yuna marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengambil pilihannya sendiri. Jadi untuk saat ini Yuna tidak ingin tahu lagi mengenai Adwin supaya bisa bebas dari masalalunya yang kelam. Bersama Adwin hanya ada kenangan hitam.
Beberapa hari setelah memutuskan koneksi dengan Adwin, emosi Yuna berubah menjadi sangat datar dan hambar. Kesehatan tubuhnya juga menurun karena menjadi malas makan, banyak yang terjadi mulai dari Holly yang semakin mengalami mimpi buruk hingga keluhan sakit member Greenland yang mulai berdatangan. Banyak mahluk ghaib berdatangan ke rumah Yuna dan membuat keponakan dan keluarga Yuna demam, tapi Yuna tidak ambil pusing. Dia tidak menghentikan kekacauan itu, Yuna tidak memerangi setiap mahluk ghaib kiriman para penyembah setan musuh Adwin, karena Yuna tidak sekuat Adwin. Serangan penyembah setan itu berantai dan bertubi-tubi seumur hidup. Yuna tidak bisa membuang waktu untuk berghaib ria, ada depresi, trauma, tekanan dan frustasi yang belum Yuna urusi, hidup Yuna bahkan tidak sebahagia dulu setelah teman kampusnya memfitnah dia sebagai penyembah setan. Karena itulah Yuna tidak bersemangat lagi.
Selama ini yang terus menghadang mahluk-mahluk itu adalah Adwin, Yuna sama sekali tidak pernah menghadapi mahluk-mahluk ghaib yang mau mencelakai dia dan keluarganya karena Adwin ingin melatih kemampuannya dengan cara menghadapi mahluk-mahluk yang ingin mencelakai Yuna dan keluarganya. Yuna banyak bekerja sama dengan Adwin untuk melawan para penyembah setan selama ini, diam-diam Adwin terus menguji kemampuannya juga untuk mendekatkan diri kepada Tuhan karena menjadi seorang petarung melawan mahluk jahat harus memiliki energy ketuhanan yang besar. Adwin menggunakan jalan ini untuk berubah dan memperbaiki masalalunya. Adwin tidak memiliki masalah yang bisa membuatnya bergairah untuk hidup, tetapi Adwin sempat mengaku bahwa bisa sedikit bersenang-senang dengan mengikuti masalah yang Yuna hadapi.
Suatu malam..
“Aku tidak tahu jika akan terjadi hal separah ini.. maafkan aku.. aku menyesal berusaha memisahkan kamu sama kakak kamu itu..” Ride menelfon.
Yuna mengingat Adwin selalu melihat pesan Ride di chatbox akun Yuna, memata-matai Ride jarak jauh dan melindungi Ride diam-diam tetapi Ride tidak menyadarinya sama sekali. Canggung bagi Yuna untuk membongkar kebiasaan Adwin itu pada cowok yang sempat dia tes secara sadis beberapa bulan diawal mereka pacaran dulu.
“Sudah.. sudah tidak apa-apa.. dia akan kembali.. dia sayang sama kamu koq..” Yuna meyakinkan Ride dan mengelus kepala Ride. Akun Adwin sudah tidak pernah online lagi semenjak kejadian Yuna memutuskan koneksi darinya.
Adwin menyukai Ride.. pasti dia mengerti..’
Beberapa hari setelah itu, akun Adwin aktif kembali dan Ride mengirimkan permohonan maaf kepada Adwin, tetapi seperti biasa bahwa Adwin tidak menanggapinya terlalu dalam. Mungkin dengan cara seperti ini Adwin bisa membuat Ride memahami. Semenjak itu Yuna melihat mereka sepertinya semakin dekat.
‘Kakak mau pergi dek.. nanti balik lagi.. tapi entah kapan..’ Adwin mengirimkan pesan kepada Ride.
‘Abang mau kemana?..’ Ride menjawab dengan bingung, tetapi akun Adwin offline kembali.
Adwin offline.
Besoknya juga..
Berminggu-minggu, member keluarga di Greenland mulai bertanya-tanya kemana lenyapnya Adwin. Biasanya di beranda aka nada kiriman sadis berdarah dan menjijikkan dari Adwin, ramalan-ramalan dan informasi bocoran dari adwin. Tetapi kini sepi.
Yuna tetap beraktifitas seperti biasanya, meneliti masalah supernatural dan sibuk dengan penemuan barunya. Dia yakin Adwin baik-baik saja nanjauh disana, dia tidak pernah membahas Adwin setelah itu, sehingga Ride mungkin sudah melupakan sosok Adwin. Yuna ingin Ride menikmati saat bersama Yuna tanpa ada perasaan cemas lagi. Yuna terus focus dan membatasi pergaulannya, bahkan tidak pernah keluar rumah dan hanya berkomunikasi dengan member Greenland, meskipun terkadang kejenuhannya juga membawanya ke grup yang Adwin larang untuk masuki. Yuna sudah bisa terbiasa menikmati rasa jenuhnya.
Tetapi ternyata di belakang Yuna, ada yang terjadi pada diri Ride.
‘Rasanya ada yang  hilang..ngga ada yang bisa diajak bercanda lagi..’
Ride menunggui kembalinya Adwin, ada perasaan kehilangan yang tiba-tiba muncul setelah bisa akrab bersama Adwin.
Aku tidak bisa melupakan bang Adwin.’ Ketus Ride memprotes dirinya sendiri yang serba bingung harus apa, dia mendapati perubahan Yuna menjadi drastic dan kini dia tidak tahu harus apa. Hingga malam ini Ride tidur, perasaan kosong tentang Adwin terasa kembali.
****************oOo*****************oOo***********************
“….” Ride mengucek matanya. Udara agak dingin berhembus, Ride merasakan cahaya matahari hangat menusuk kulitnya tetapi angin yang berhembus justru menusuknya juga.
“Aku dimana?..” Ride membuka matanya, dihadapannya ada keramaian, dia tersadar dan sedang duduk di taman dekat perkotaan.
“Sudah bangun dek?..” Suara seorang pemuda terdengar disamping kirinya.
“?!!..” Ride menoleh ke sumber suara itu..”
Adwin duduk disamping kiri Ride sambil melihati langit.
“Abang!!?.. koq.. koq ada disini juga..?!..” Ride mendadak canggung karena baru ini bertemu Adwin secara langsung dalam posisi sempurna.
Biasanya Adwin menggunakan kostum phantom dan membuat Ride lari terbirit-birit tapi kali ini Adwin terlihat berbeda. Adwin mengenakan kemeja squarelines dengan celana hitam dan sepatu biasa.
“Kamu tidak takut padaku kan?..” Adwin melirik Ride.
“Enggak ah!..” Ride melihat sekitarnya.
“Ayo keliling, disinilah tempat aku tinggal selama tidur..” Adwin berdiri.
Ride berdiri dengan malas.
“Aku sudah lama melarikan diri dari kejaran penyembah setan dek..”
“!!!?..
Pe.. penyembah setan?..”
“Mereka adalah orang-orang yang menyusun rencana dan mengarahkan kekuatan global.. global artinya seluruh dunia.. mereka sisi gelap.. kepribadian ganda dari para sosok baik di dunia ini. Mereka merancang kehancuran untuk kepentingan politik dan kekuasaan..”
“?....
Adek ngga ngerti maksud abang..” Ride berjalan di belakang Adwin yang berjalan pelan, Ride melihati Adwin yang tidak menoleh sama sekali, tangan Ride dan Adwin masing-masing dimasukkan ke kantong celana. Orang-orang berlalu lalang dan kendaraan melaju di jalan besar, mereka berjalan di trotoar pejalan kaki.
“…” Adwin menghentikan langkahnya, Ride berjalan ke samping Adwin, Adwin melanjutkan jalannya.
“Kakak ikut organisasi penyembah setan untuk memata-matai mereka..
Tetapi kakak terjebak dek..” Adwin memperhatikan keramaian kota.
“Kenapa ikutan organisasi yang seperti itu, bang?..
Lihat aja sekarang nasib abang gimana kan..” Ride ikut mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Hhhh..” Adwin menghela nafas.
“…?..” Ride melihat Adwin sedang penat.
“Kakak sedang melarikan diri dari kejaran polisi..
Masa lalu kakak sebagai kriminil bisa mencelakai kakak.. kakak bersembunyi dari polisi dan mereka..
Para penyembah setan, menghalalkan masa lalu kakak..
Mereka membantu kakak bisa melarikan diri dari kejaran polisi..
Agar kakak bisa menuntut balas pada mavia yang sudah menghancurkan keluarga kakak..
Singkatnya, organisasi setan itu memanfaatkan kakak..
Kakak masuk ke organisasi mereka hanya untuk mengamankan diri..
Tapi mereka juga tahu kalau kakak hendak menghancurkan mereka, mereka masih mencoba untuk mencuci otak kakak agar memihak mereka..
Lagi pula, mereka juga kriminil..”
“Bang..
Jadi adek harus apa, bang?..” Ride tidak memahami dengan pasti.
“Mereka tidak suka dengan orang seperti Yuna.. dan akan membuat hidup Yuna menderita..”
“??!.. koq bisa?.. emangnya Yuna ngapain?..”
“Dia sedang mencari kebenaran dibalik organisasi mereka..”
“Kan hanya cari tau sih?!!..” Ride tidak memahami.
“Dia juga berusaha menghentikan.. dia tidak satu-satunya.. aku dan teman-temannya.. dan masih banyak orang lain di setiap tempat di bumi ini..” Adwin menuju ke sebuah game center.
“Bang, mau main game?!..” Ride keheranan.
“Ayo kita kencan sehari!! Haha!!..” Adwin memukul bahu Ride pelan.
“$^%#%^%!!!!!!!!..” Ride palmface.
Mereka berdua tenggelam dalam dunia game, bermain seharian hingga sore hari. Tidak memikirkan masalah apa-apa, sedalam apapun pertanyaan tentang masa depan. Dan rasa bersalah, khawatir juga malu, kecewa dan dendam, semua hilang. Terlampiaskan pada game yang selalu ceria senantiasa mau menerima perlakuan siapa aja yang ingin menjalankannya. Bagaimana pun cara kasar seseorang menghabisi tantangan yang game berikan, game tidak mengeluh. Itulah kesamaan prinsip Adwin dan Ride, mereka melupakan apapun saat bermain game bersama. Game adalah teman terbaik.
“HAHAAAA!!!!..” Ride tertawa lebar.
“Haha..” Adwin menikmati permainan di area game itu.
“Haduuh.. lapar nih bang!!!..” Ride memegangi perutnya yang keroncongan.
“Udah, kita makan aja dulu dek!..” Adwin meletakkan consolenya lalu berjalan pelan meninggalkan mesin permainan.
“??...” Ride mengikuti Adwin berjalan keluar.
“Bang! Seru banget tempat abang ini, penat aku ilang, mana tempatnya rame banget.. hadeh.. capek adek main game seharian ama abang!! Hehe!!..” Ride nyengir kuda.
“Iya.. kamu mau senjata mesin juga bisa dek.. dunia mimpi itu luas.. jamahilah sejauh kau bisa..” Adwin berjalan ke sebuah kafe.
“Eh!??..” Ride mengikuti Adwin memasuki sebuah kafe lalu duduk di depan Adwin saat pemuda lebih tua dua tahun itu sudah duduk di sebuah kursi diantara meja makan.
“Bang, adek dulu juga punya masalalu kayak abang.. kalau abang mau cerita ke adek, ngga bakalan jadi masalah koq bang..”
Ride memeriksa daftar menu.
“Kakak dulu binatang dek.. tapi kakak coba bertaubat.. Alhamdulillah.. kakak jadi ketagihan sama dunia Islami..”
“Ya, bagus lah bang.. Alhamdulillah.. adek juga masuk ponpes kan.. kalau ngga salah waktu itu abang juga masuk ponpes.. kita barengan..” Kemudian Ride memesan makanan, disusul Adwin.
“….” Adwin melihat meja dengan tatapan kosong.
“Abang kayak kecapekan gitu..” Ride menyalakan rokok.
“Memang..”
“…?!..”
“Lihat ini..” Adwin membuka kancing baju di pergelangan tangannya.
“….?..!..” Ride mengamati.
Ada tasbih panjang tergulung, menggelangi tangan kanan Adwin.
“Kakak taubat, tapi masuk kelompok itu..
Kakak berjanji di sertifikat mereka bahwa saat itu kakak akan jadi kafir.. tapi kakak berdusta dan tetap menyembah Allah..
Akibatnya kakak dihantui setan terus..
Kemana-mana kakak bawa tasbih agar bisa berlindung.. berdzikir..
Kakak tidak bisa membiarkan setiap mahluk yang mencium gerakan kakak begitu saja, saat kakak sholat.. satu setan akan datang.. sebelum dia kembali ke markas setan, kakak harus bunuh mahluk itu.. dan selalu datang mahluk baru pada kakak.. setiap saat.. memang melelahkan..
Jika kelompok pemuja setan itu sampai tahu kakak sholat, mereka akan membuat kakak celaka dek..” Adwin menuturkan sambil menutup kembali kemeja lengannya, Ride tidak habis fikir, dia hanya tercengang membayangkan betapa Adwin harus berlari marathon setiap waktu.
“Aku berburu nafas..” Adwin tersenyum tipis lalu menyalakan rokok.
“Pantesan abang kurus banget, tapi Alhamdulillah kayaknya abang udah sehat ya bang?.. badan abang agak berisi sekarang..
Beberapa minggu kemarin aku harap bisa bicara sama abang.. tapi Yuna matiin HP-nya.. katanya sih ngga ada sinyal..”
“Ngga ada sinyal.. HP kakak saja error terus kena energy negative kakak..”
“Ooh… beneran ternyata, ngga ada sinyal..?..”
“Iya.. itu lah mengapa kakak ngga online..”
“Wow.. Keren…” Ride menghembuskan asap.
“Sebelum kakak nikah, istri kakak waktu itu berubah mudah mengamuk..
‘kamu niat ngga sih nikah, malah sakit begini, janjinya nikah tanggal sekian sekian blabla….’
Cerewetnya dia..”
“Hahaha…”
“Nah… jadi kakak harus menikahi dia, dia seperti jengkel melihat kakak penyakitan.. padahal demi dia juga kakak menahan serangan..” Adwin menghembuskan asap ke udara.
“Terus gimana?..” Ride melihati makanan yang diletakkan meja oleh pelayan yang membawakan makanan ke meja mereka.
“Setelah menikah, kakak meditasi dan melakukan ritual terlarang.. tapi kakak pakai doa islami.. buat hancurkan semua penderitaan kakak..” Adwin mengambil cangkir berisi kopi hangat.
“Aku ngga ada rasa benci apapun ke abang lho..
Aku cuma ngga suka kalo.. aku ngga diperhatiin sama abang atau Yuna di saat bersamaan.. aku juga ingin bisa dapat perhatian dari abang..
Karna aku udah menganggap abang.. sebagai abang aku sendiri..
Sejujurnya begitu..” Ride mengisap rokoknya lagi.
“Hehe…” Adwin mematikan rokoknya ke asbak. Meminum air mineral lalu menyantap hidangan yang sudah tersedia di hadapannya.
Ride melihat tingkah Adwin jadi teringat pada Yuna, gadis itu melarang Ride merokok banyak-banyak. Ride ikut membuang rokoknya ke lantai lalu menginjaknya. Dan kemudian mengambil makanan dan menikmatinya.
“Adek harus mempelajari sejarahnya kelompok penyembah setan di bumi ini..
Adek harus jadi sekuat baja.. kakak akan bantu adek dari belakang..” Adwin menyantap lagi.
“Iya, bang.. tenang aja, aku bakalan belajar.. lagian aku sebenernya juga sama koq kaya’ abang di dunia nyata ato di dunia mimpi.. hanya aja aku ngga mau cerita ke Yuna.. aku ngga mau Yuna tau bang.. bahwa aku bisa bertarung!..” Ride hampir selesai dengan makanannya.
“Hmm..” Adwin mengunyah makanan terakhirnya, dia makan porsi kecil.
“Abis ini kita kemana bang?..” Ride meminum mineralnya.
“Adek ngga usah bayar, kita kabur saja..” Bisik Adwin.
“Ka.. kabur?..” Ride bingung, menoleh ke segala arah, ramai sekali. Ada banyak pelayan berdiri mengawasi kafe.
“Mavia itu tidak takut melanggar aturan dek..” Adwin menusuk mata Ride dengan menyeringaikan senyuman bengis.
“……!!..” Ride menoleh ke Adwin lalu tersenyum sinis.
Perasaan keji dan bengis kini membanjiri jantung Ride. Tubuh Ride tiba-tiba menjadi ringan, dirinya melebur menjadi asap hitam lalu melayang terbang bersama Adwin mengarungi langit kota, mereka menuju sebuah gedung tua, badan mereka kembali menjadi padat.
“Hahahaha.. seru banget ternyata..!!..” Ride merasakan tubuhnya hangat karena baru saja kembali utuh.
“Energi kebencian membuat kita terbakar dan lebur menjadi aura kejahatan dek, warnanya hitam.. karena itu.. tetaplah membenci..” Adwin menunjuk dada Ride, menekan telunjuknya ke dada Ride.
“Jangan kau hilangkan dirimu yang jahat... dia akan jadi kekuatanmu jika kau bisa mengendalikannya..mengalahkannya…” Adwin menusuk mata Ride dengan pandangan dingin.
“Iya bang.. aku pasti bisa kayak biasanya dulu..” Ride tersenyum flamboyant. Menoleh ke arah pemandangan nanjauh disana, ada pantai yang menemani matahari tenggelam.
“Ke sana yok bang, kayaknya bakalan cakep panoramanya kalau kita kesana..” Ride menjadi asap hitam dengan cepat menuju pantai.
“…” Adwin mengikuti Ride.
Keduanya mengalun melawan udara dan mendekat ke bibir lautan. Ride menenangkan diri dan focus lalu menjadi utuh kembali memijakkan kaki ke pasir.
“Tuh kan bener, cakep!!..” Ride tersenyum lebar melihati pemandangan sunset.
“…..” Adwin menyilangkan lengannya.
“Sebenarnya aku ngga mau abang pergi dan ngga ngasih kabar!!..” Ride menahan emosinya.
“Aku akan kembali!!..” Adwin memukul pelan bahu Ride.
“Aku sedang meneliti perusahaan yang mencetak uang..” Adwin menoleh pada Ride.
“….”
“Aku tidak akan meninggalkan orang yang aku lindungi.. aku masih harus mengurusi para setan yang mengejarku dek.. aku selalu ada di belakang kalian..” Adwin meletakkan telapak tangan kanannya ke dua mata Ride.
Ride memejamkan mata.
Saat Ride membuka mata, kini dia sudah tergeletak diatas bed. Ride memutuskan untuk tidak menceritakan mimpinya itu pada Yuna. Karena dia merasa Yuna tidak akan percaya kepadanya. Dimata Yuna, Ride selalu saja memusuhi Adwin. Padahal di belakang Yuna selama ini, hubungannya dengan Adwin cukup dekat dan hangat.
Semenjak mimpi itu terjadi, Ride memiliki keyakinan diam-diam dalam hati bahwa Adwin pasti tidak lama lagi akan hadir. Beberapa hari kemudian Adwin online lagi dengan nuansa energy baru, lebih dingin dan lebih senyap.
Suatu malam, Ride bermimpi bertemu dengan kembaran dirinya yang jahat. Mereka melakukan pertarungan sampai pagi, tetapi diantara mereka berdua tidak ada yang menang sama sekali.
Jika aku tidak bisa mengalahkan sisi jahatku, maka aku tidak akan bisa menguasai kekuatan Darkness!!...’ Ride menhentakkan pukulan terakhirnya lebih keras tetapi kembarannya menolak dengan kepalan tinju.
“KRRRRRRRK!!!..” Tulang mereka saling beradu.
“Suatu saat!! Kau akan merasakan… rasanya menjadi aku!!!!! Hahaha!!..” Sosok kembaran Ride itu kemudian menghilang menjadi asap hitam dan berburai ke udara.
Apa maksud dia itu..’ Ride kemudian beranjak terbangun dari tidurnya.


Beberapa minggu kemudian,
Yuna mengajak Ride untuk melakukan petualangan dream walking, ada sebuah kasus yang ingin Yuna teliti akhir-akhir ini. Sebuah isu kegelapan mulai tersebar kembali ke telinga Yuna dan mengganggu gadis itu, Adwin dan Gold sedang sibuk sehingga tinggal Yuna sendirian yang harus menjalankan misi kali ini.
Setelah Yuna dan Ride sampai di dunia pararel. Mereka berlari diantara semak, mereka kini ada di sebuah gurun tetapi pasirnya kaku dan membatu, matahari diselimuti mendung geap. Angin berhembus bersama pasir halus, Ride dan Yuna memakai jubah hitam berkerudung dengan kain yang menjadi penutup mulut, melilit wajah mereka.
“Ikuti aku!!!..” Yuna melompat, aura hitam keluar dari kulitnya dengan lebat dan langsung membungkus tubuhnya dan membantu Yuna melesat terbang ke udara.
“!!!!..” Ride mengerahkan dendam dan amarahnya lalu tubuhnya menjadi sangat panas tetapi hanya sekejap saja, dia menjadi asap hitam lalu melaju menuju Yuna.
Kedua remaja itu memiliki kebencian yang sama akibat trauma di masalalu tetapi sepertinya Yuna tidak memasukkan kebenciannya itu ke dalam hatinya yang paling dasar seperti Adwin dan Ride hingga mereka bisa membunuh orang lain di masalalunya.
“Itu!!! Kak Rosemarry!! Gold!!.. Adwin!!!..” Yuna melihat dibawah ada Rosemarry yang memakai jubah putih melayang meninggalkan Adwin lalu menghilang ditelan cahaya sementara Gold berubah menjadi api emas dan menghilang.
Adwin tetap diam mengamati kedatangan Yuna dan Ride.
“Kalian telat banget!..” Adwin menggerutu singkat.
Tubuh Ride dan Yuna menjadi utuh kembali ke bentuk normal.
“Kakak tadi ngapain?.. bukannya mereka ada misi lain kak?..” Yuna bingung dan no idea.

“Kakak tadi kasih tahu arah kemana mereka harus pergi.. bu Rosemarry harus menemukan arsip yang masih rahasia..
Arsip itu berisikan cikal bakal naskah konspirasi di eranya yang tertua..” Jelas Adwin serius dibalik topeng phantomnya yang dikerudungi oleh jubah hitam.
“Woah…” Yuna tidak mengerti.
“Di sebelah sana ada desa dan ritual sedang dilakukan oleh para pemuja setan.. bu Rosemarry ke sana..
Sementara Gold akan lembah dan mencari avatar yang bisa menjelaskan secara supernatural apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah rencana penyembah setan selanjutnya..
Sementara kau dan Ride, ikut aku.. kita bantai pasukan setan yang datang.. jangan sampai mereka tiba di tempat pemujaan ritual setan di desa tempat bu Rosemarry bertugas memata-matai..
Kita harus bantai semuanya!..” Adwin mewujudkan pedang sabitnya dan menjadi kepulan asap hitam.
“Baik!!..” Ride mengaktifkan kebenciannya dan menjadi asap hitam, menyusul Adwin yang pelan-pelan sudah melayang pergi.
“!!!.. Ride!!!?..” Yuna khawatir pada Ride, dia mengeluarkan aura hitam dari kulitnya lalu asap hitam membuatnya melayang melesat ke udara.
Mereka melesat melawan angin yang membawa pasir, menuju sebuah hamparan luas di kaki gunung. Para monster setan berbaris dan berlari hendak menuju kuil pemujaan setan untuk memenuhi panggilan para pemuja setan.
Tubuh Adwin mengutuh, membuka jubahnya dan mengayunkan pedangnya, para setan yang sudah mengetahui dan mencium kedatangan mereka pun melawan. Tubuh Ride mengutuh dan mengeluarkan senjata mesih dari balik jubahnya dan menembak monster-monster buas besar di hadapannya. Yuna menarik pedang kembarnya dan menyabet udara, naga putih dan hitam keluar dan meluncur seperti ular menggores para setan dengan sisik api mereka. Naga-naga itu masih bertarung, Yuna terus menusuk dan menebas dengan pedangnya mematikan para monster secepat mungkin karena banyak monster di belakang yang terus berlari berdatangan.
“Tidak akan aku biarkan kalian lewaaat!!!!!!!!...” Ride mengaktifkan kebenciannya dan kemudian senjata mesin ditangannya berubah menjadi launcer.
Ride memondong dibahunya lalu mengisi selongsong senjata itu dengan keyakinan.
“JHAARGGHH!!!...” Api terbentuk di mulut launcer lalu bola api tertembak ke monster-monster. Mereka teriak dan terbakar.
“Bismillah….” Yuna menyatukan pedang-pedangnya lalu menyabet barisan monster, api putih keluar dari aura tebasan pedang itu.
“Laailaha ilallah.. Laailaha ilallah..
Laailaha ilallah..” Yuna terus maju, dalam kondisi menenangkan jiwa dia terus menebaskan pedangnya dengan yakin.
“Allahu akbar..” Dengan menenangkan jiwa Yuna menebas lebih kuat ke monster setan yang lebih besar di hadapannya.
“HARGHHHHHHHHHHHHH!!!..” Ride melemparkan bom granat energy takbir yang dia batinkan dan ..
“DJRRRRRRRRRRRAARRRRRRRRRRRRRR!!..” Ledakan terjadi di tengah kerumunan monster nanjauh disana.
Sementara itu di sisi lain Adwin berputar diri dengan pedangnya mencabik setan-setan yang kini mengerumuninya, Adwin terbiasa masuk ke dalam barisan dan membuat ombak terror. Dia memusatkan ketenangannya lalu berputar, membuat energy auranya mendingin dan menghasilkan komparan petir. Monster di sekelilingnya tersetrum dan mati.
“Lakukan semampu kalian!!! Tinggal beberapa ekor raksasa di belakang sana!!!..” Adwin berteriak, menjadi naga hitam beraura putih lalu melesat terbang ke arah para raksasa setan yang menuju ke arah mereka.
“Akan aku bereskan mereka semuanya!!!!.. JHAAARGHH!!!..” Ride menembaki monster-monster dengan senjata mesin energy.
“GHRRGH!!..” Yuna menebas monster tanpa henti.
Lalu Yuna berhenti melangkah sambil melihati sekitar yang sudah penuh dengan dinding  debu, berdiri dan mengambil nafas.
“Sial!..” Yuna melihati beberapa raksasa setan mendekat dan Adwin disana tengah bertarung dengan pedang sabitnya menghadapi seekor raksasa yang kuat. Kedua spirit naga pedang Yuna musnah menjadi udara karena dipukul raksasa-raksasa.
“Kali ini kita harus bisa gunakan energy supernatural kita yang lebih besar!!..”
Yuna berlari menuju kerumunan yang dihadang Adwin.
“Tapi bagaimana caranya!!!...” Ride berlari menyusul Yuna.
“Aku tidak tahu!! Tapi ayo kita konsentrasi untuk ikhlas dan pasrah pada Allah sebentar pasti bisa!!!..” Yuna menghentikan langkahnya lalu memejamkan mata.
Bismillahhi.. rahmani.. rahim..’
“$%^$%&^%!!!!!!!!!~” Ride.
“!!!!!!!?..” Yuna membuka mata langsung menoleh ke Ride.
“AAAAAAAAAAAARGHHHH!!!!!..” Ride mengerang tanpa sebab, menjatuhkan lututnya ke tanah lalu cahaya dari dalam dadanya mencuat keluar bagai ledakan perlahan.
“Ride!!!?..” Yuna terkejut sampai kaku badan.
Ride berubah menjadi sosok berambut putih panjang dengan bentuk muka mulus tanpa paras, tubuhnya menjadi bentuk lain, layaknya seekor serangga tanpa sayap memegang cambuk, tubuhnya bercahaya putih. Ride melesat ke arah para monster dan mencambuk mereka, petir keluar dari cambuknya.
Saat seseorang tulus dan tidak mengharapkan apa-apa selain perlindungan Allah.. maka akan ada kekuatan yang membentuk jiwanya menjadi sosok baru..itu bisa terjadi pada siapa saja saat mengaktifkan jiwa bersih mereka..
Suara Dandy terdengar dari dalam batin Yuna.
Yuna berjalan pelan melihati kakak dan pacarnya yang sedang bertarung, menyiapkan pedang di tangannya.
“Allahuma shali alaa muhammad rasulullah..” Yuna mengeratkan pedangnya.
Berdiri tegap, mengangkat pedang ke atas dengan dua tangannya lalu memejamkan mata. Merasakan debaran jantungnya, lalu menebas ke bawah. Sebuah hempasan angin besar dari aura energy pedang plasmanya muncul dan angin itu memporak-porandakan para monster sampai ke langit, terjatuh dan mati.
Yuna membuka matanya.
“!!!!!!!!!?...” Yuna melihat Ride yang melayang perlahan berubah menjadi dirinya yang normal dan jatuh. Adwin menangkapnya lalu Yuna berlari sekuat tenaga menuju mereka berdua.
“Ride!!!..” Yuna tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Dia hanya pingsan.. sebaiknya biarkan tetap tidak sadar saja.. kita akan ke kuil sekarang, aku tidak mau dia kemasukkan energy setan karena lagi ngga sadar begitni..” Adwin merebahkan Ride di tanah.
“Um!..” Yuna mengangguk mantab.
“…!.” Adwin berdiri dan mengarahkan kedua tangannya ke depan, membuat gelembung perisai hitam, menyelubungkannya diantara badan Ride, bola besar hitam itu melayang dan mengangkat tubuh Ride.
“Ayo kita pergi!!..” Adwin menjadi asap hitam dan melesat, bola itu mengikutinya.
Yuna melayang dengan aura hitamnya menyusul Adwin.
Mereka terbang mengikuti suara hati mereka yang sama, melewati gurun dan pepohonan, puing-puing kuil tua dan tibalah di sebuah pedesaan.
Adwin dan Yuna masih menjadi asap hitam, mereka bersembunyi dibalik semak-semak.
“Mereka lah grup pemuja setan yang baru dek.. isu politik sebentar lagi akan diperbarui.. gossip-gosip soal penyakit akan disebarkan.. kakak tidak tahu.. siapa anggota politik yang akan mati setelah ini..” Adwin melihat sepertinya Rosemarry sudah kembali pulang.
“Mbak Rosemarry sudah pulang deh sepertinya, ayo kita balik.. pasti Gold baik-baik saja kan kak..” Yuna menoleh ke Adwin.
“Kalian istrirahat saja di rumahku dulu.. jangan ke Greenland.. bisa-bisa setan mengikuti kalian..” Adwin membuka portal hitam dan mempersilahkan Yuna masuk duluan, Yuna masuk diikuti Adwin dan tubuh Ride.
Setelah melakukan perjalanan di lorong portal pararel, mereka pun akhirnya tiba di dalam ruang tamu rumah Adwin.
“Sudah pulang?..” Istri Adwin tersenyum sambil memakai sepatu.
“Mau kemana?..” Adwin pulih menjadi sosok normal tanpa jubah secara perlahan, aura hitam masuk ke dalam tubuhnya.
“Aku mau ada acara sama teman-teman.. aku akan pulang sore.. aku janji..” Istri Adwin sangat cantik dan menawan juga baik hati, dia mengecup pipi Adwin dan melambai pada Yuna dengan senyuman hangat, membuka pintu dan keluar rumah sambil menutupnya kembali.
“Istrimu?..” Yuna menunjuk ke pintu.
“Huuh~” Adwin menghela nafas, mengangguk pelan. Melihati Ride yang terbaring di sofa.
Adwin mendekati tubuh Ride lalu membopongnya ke kamar tidurnya.
“Rumahmu sempit kak! Tapi perkakasmu ini loh! Widiw..” Yuna duduk di sofa ruang perapian, ada LED TV lebar, karpet coklat empuk berbulu, lantainya berkeramik warna hitam dan dapur terlihat dari ruangan perapian.
Pintu kamar Adwin terbuka, Ride berbaring diatas bed sana. Adwin kembali dan duduk di depan LEDnya menyalakan Play statsion. Yuna bernafas, istirahat, penat. Matanya menuju jam dinding yang mempamerkan pukul delapan pagi. Matahari di luar sana sangat terik dan sangat panas cuaca saat ini, ruangan rumah menjadi seperti sauna.
“Ampun, seharusnya sekarang musim dingin kak!!!..” Yuna mengibas kerah bajunya.
“Kebalikan dunia nyata.. ini dunia pararel..” Adwin memilih menu.
“Kak!! Aku mau itu kak!!..” Yuna beranjak dari sofa dan duduk disamping kiri Adwin di karpet dan mendusel Adwin, merebut stiknya dan mengarahkan pilihan menu.
“Hihi!!!..” Adwin menepuk kepala Yuna dengan tangan kirinya.
Adwin mengambil stik yang lain dan mereka berdua bermain game Sky force war game.
“Gila!!! Apa nanti ini edisi barunya yach! Keren abis!!!..” Yuna menikmati gamenya.
“Hahaha!! Ugh!!.. rasakan…!!..” Adwin menyenggol bahu Yuna dan menembakkan peluru digital di monitor.
“Jhiaaat!! Jurus seribu colekan!! Chat chat chat chatttt tatatatatataatatt!!!..” Yuna berubah menjadi bersuara imut, dia punya alter ego kucing yang lucu.
“Hahahahahaha!!!...” Adwin dan Ride menyukai alter ego Yuna yang ini.
“UUUNGHHH!!!...” Suara Ride dari dalam kamar.
“Wey.. cowok kamu tuh!!..” Adwin asik memencet tombol stiknya.
“Aku lapar!!!..” Yuna berdiri dan menuju dapur untuk mengambil makanan, menggeletakkan stiknya begitu saja diatas karpet sehingga space mother ship dia hancur dihajar rudal Adwin.
“RRGHH!!..” Terdengar lagi suara Ride merintih.
Adwin melihat Yuna tidak peduli dengan cowoknya itu, justru asyik menggoreng telur di dapur.
“Menyusahkan..” Adwin bangkit dan dengan malas menuju kamarnya.
“…” Ride masih tertidur pulas, Adwin memandanginya lalu duduk di pinggiran bed. Meletakkan tangannya di kening Ride dan menghela nafas.
“Sakit…” Suara Ride pelan.
“….” Adwin mengalihkan pandangan ke luar jendela.
“…..” Menoleh kepada Ride lagi yang bergerak, berbalik badan.
“Adek kenapa?..” Adwin membalikkan badan Ride agar terlentang kembali.
“…” Adwin meletakkan telapak tangan di kening Ride.
“Humh..” Ride merasakan keningnya dingin sekali, penglihatannya buram lalu dengan pelan menjadi jernih.
“…. Abang?..” Sosok Adwin terlihat sedang memegangi jidatnya.
“…..” Pipi Ride memerah.
“Kamu sangek ya?..” Ride mengucapkan dengan nada datar.
“&^&#%^#%#^%#!!!!!!!!.. ma.. mana mungkin aku nafsu sama abang!!! ERGH!!..” Pipi Ride semakin merona dan kaku, tetapi badannya masih lemas.
“….” Yuna mengintip dari balik tembok pintu. Jiwa fujoshi Yuna bangkit, ada rasa jail bangun dari mood Yuna.
“Yasudah ayo bangun… temani kakak main game..” Adwin menarik tangannya lalu menghela nafas lelah setelah heal Ride.
“GAME!!!?..” Mata Ride bersinar penuh keemasan.
“%^#%^#^%!!?.” Dari balik dinding muka Yuna palmface.
Dasar cowok gamer bego…’ ketus Yuna yang kehilangan mood fujoshinya. Berjalan ke ruang tamu lalu duduk di sofa dan makan. Ride melihat sekelebatan Yuna lewat di depan pintu kamar.
“Yu.. Yuna…” Ride menelengkan kepalanya dengan muka dongo.
“!!!!..” Adwin menoyor kepala Ride ke depan. Lalu berdiri ke ruang perapian yang terdapat surga game PS3 disana.
Ride mengikuti Adwin ke ruangan itu, awalnya malas dan lesu.
“WAAAAAAAA!!!!! PS!!!...” Matanya cerah dan bersemangat mendadak.
“&^$^&#%!!..” Muka Yuna sangat kusut, mood fujoshinya hancur.
Akhirnya adik dan kakak itu bermain PS dan Yuna tertidur kekenyangan di sofa dengan kipas angin kecil di meja tamu, bungkus makanan dari kulkas berserakan di antara kipas itu, Yuna mendengkur seperti kucing yang pulas.
“Huwaaaah!!! Abang ngalah dikit napa sih bang sama adeknya!!!...” Ride duduk jongkok karena geram dengan Adwin yang terus saja menyerang.
“Hahahaha!! keluarkan cheat terbaikmu kalau bisa hahahah!!!...”  Adwin tertawa jahanam.
“Anjir bener ni orang!!! Ghiyaaahahaha!!!...” Ride menekan terus stiknya.
“WANJIIIERRR!!!... aku kalaaaahhhrghh!!...” Ride guling-guling diatas karpet.
“Hahahaha…” Adwin menyruput susu kotaknya.
“Eh!!!.. oh ya bang..!!
Adek lupa satu hal, mau cerita ke abang!!..” Ride meletakkan kepala di pangkuan sofa.
“Apa dek….” Adwin memakan chip kentangnya yang sudah dia tuang dari wadahnya ke atas mangkuk.
“Adek mimpi.. ketemu sama kembaran adek.. dia jahat bener..
Aku hajar dia.. tapi aku sama dia imbang.. diantara kami ngga ada yang kalah bang!..
Koq bisa gitu ya?..” Ride ikut menyantap chips.
“Hm….
Kamu kurang benci sama dia… coba hajar dengan kebencian diatas kebencian.. melebihi kemurkaan dia..
Atau…..”
“….. atau apa bang?..”
“Atau memaafkan dia..” Adwin meminum susu kotak lagi.
“Iya… nanti kalau sudah bisa kalahin dia, aku beneran bisa jadi kuat kaya’ abang?...” Ride menoleh ke Adwin.
“….” Adwin menoleh ke Ride.
“…?.” Ride canggung karena muka Adwin sangat datar mendadak.
“Kenapa kamu nanya kaya’ gitu?.. mau nandingin aku?..” Adwin menoyor jidat Ride.
“&#%^*%!!!!!..
Bu .. bukan begitu sih!!!..
Aku mau bisa melindungi abang!!.. aku mau kaya’ abang.. hehe..!!..” Ride nyengir.
“Ululu.. gombal…” Adwin menyodorkan bibirnya ke depan, kedua tangannya mencengkram muka Ride secepat kilat.
“DAFAAAAAKKK!!!! TATATATATARTARATARARATARATATARATTTATATA!!!...” Ride mendorong muka Adwin menjauhi muka Ride.
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!...”
Tangan Yuna mendorong muka Ride ke depan sehingga bibir Adwin yang monyong akhirnya menyentuh hidung Ride dengan mantap.
“GHRAAAAAAAAAAAAAAAGAHAHAHSGASJDFYETSFERD476T47R6W8THIJKJ DHBVUKKKKKKKKK!!!!!!!!!!... pih pih pih!!!...” Ride berdiri menggosok-gosok mukanya.
Berbalik badan dan melihat muka Yuna yang sudah nyengir kuda jahanam.
“APA-APAAN SIH KAMU, YANG!!!..” Muka Ride sangat merah.
“#%^%^!!..” Yuna nyengir bangke.
“Koq asem..” Adwin menjilat bibirnya sambil memandang ke arah lain.
“HEIIIK!!!!!!...” Ride menoleh melihati ekspresi Adwin yang datar dengan muka pucat pasi.
“Glk!!..”
“EH!!?..”
Istri Adwin pulang, menutup pintu dan melepaskan sepatunya. Adwin melongo diikuti Ride yang saat itu hanya memakai kolor dan kaos oblong. Yuna juga hanya memakai kaos dan celana pendek sementara itu istri Adwin melihati suaminya telanjang dada dengan kolornya.
“Hihihihi!!!...” Istri Adwin tertawa kecil.
“TY$^*&Y*%&^%&HUJ FHHBTYU&B$*G!!!!!!!!...” Ride berlari masuk ke kamar Adwin yang mana juga kamar istrinya karena malu.
“Ramenya rumah ini, adek kamu lucu semua ya honey!..” Istri Adwin melihat seisi rumah yang sangat berantakan.
“Maaf ya.. aku ngga bisa makai AC.. kalian jadi kepanasan bengini sampai pada makai kolor aja hihihihi…” Wanita itu ke dapur dan menaruh barang belanjaannya diatas meja makan, Adwin berdiri malas dan menuju istrinya.
Yuna melongo lalu mengenakan jaket dan celana panjangnya yang tersampir di sofa ruang perapian. Lalu menuju ke dapur.
“Kami mau pulang, disini sudah mau malam, tandanya di dunia nyata sudah pagi..” Yuna duduk di kursi samping Adwin yang sedang mengupas jeruk.
“Bang…!!..” Ride nongol.
“Kalian ngga makan malam disini dulu?..” Istri Adwin ramah.
“Ngga ah, teh… kami ngga mau merepotkan teteh..” Wajar Ride memanggil begitu karena istri Adwin orang Jakarta keturunan Sunda, Nampak dari logat dan mukanya.
“Aku bawa jeruk ah..” Yuna mengambil satu buah jeruk di kantong plastic putih.
Kemudian mereka berbincang ringan hingga akhirnya membuka pintu rumah Adwin dan berpamitan pulang, dengan pornonya Adwin hanya memakai kolor keluar rumah dengan istrinya mengantar adik-adiknya pergi.
“Dasar guvluk.. miyaw!..” Kekeh Yuna menyindir Adwin sambil berjalan  menarik tangan Ride yang melambaikan tangan, mereka berjalan menuju dermaga.
“Hehehe.. bentar loh sayang, buru-buru amat sih!..” Ride menyusul kaki Yuna.
“Udah siang ini!!!..” Yuna tersenyum lebar.
“Aku masih mau sama kamu!!...” Rengek Ride.
“…” Yuna menoleh kepada Ride.
“…..?.”
“Nanti kita jumpa lagi…” Penglihatan Ride kabur dengan pelan dan dia merasa mengantuk sekali.
****************oOo*****************oOo***********************
Suatu hari kemudian di pagi hari, Ride masih pulas..
 Ride bermimpi memasukkan racun ke minuman bibinya. ‘Apa ini!!!!!! Kenapa aku ini!!! RRRRRRGHHHHHHHHHHHHH!!’ Ride berusaha mengendalikan tubuhnya dan menghentikan tingkahnya tetapi dia tidak bisa menghentikannya.
Ride menyembunyikan jejak dan bersembunyi, menyeringai seolah menanti rencananya berjalan sempurna.
JANGAN MINUM BIBI!!!!!!!!!!!!!’ Tetapi batin Ride meronta, dirinya seperti sedang disetir setan tetapi Ride terperangkap dalam tubuhnya sendiri.
Dengan pelan dia merasakan tubuhnya sedang menikmati pemandangan yang mana memperlihatkan sang bibi kesayangannya sedang mengangkat cupnya lalu meminum air dalam tempat itu dan kemudian.
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?...”
Bibi Ride mencekik lehernya sendiri lalu menjatuhkan cup itu ke lantai sampai pecah. Wanita paruh baya itu jatuh ke lantai dan tergeletak.
“HAHAHAHAHAHAHARGH!!!!.........” Ride berdiri dari balik sofa dan tertawa jahanam.
TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!’
Ride teriak dari dalam hati hingga dirinya terbangun dari tidur.
“Hsh!! Hsh!!..” Jantung Ride berdegup sangat keras.
“??!!!!!!!...” Ride mendengar suara keramaian dari luar ruangan kamarnya.
“?!!!!!!!...” Ride berjalan keluar kamar, terkejut melihat anak-anak bibinya kini di rumahnya dengan muka pundung.
“A.. ada apa?...” Ride terbelalak.
“Mama pingsan…” Jawab salah satu anak bibi ride.
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?...” Lutut Ride lemas.
Ride terpukul tidak percaya, apakah mimpinya menjadi nyata.  Bibi yang sudah membesarkan dia seperti anaknya sendiri sejak kecil, anak-anaknya juga sangat baik pada Ride. Ride sudah menganggapnya sebagai ibu kandung juga. Tetapi apa yang terjadi barusan di alam mimpi membuat dia mengerti maksud kembaran sisi jahatnya yang mengatakan ‘suatu hari kamu akan tahu rasanya menjadi aku’ kepadanya beberapa bulan lalu.
“Sial!!!!!!!!...” Ride meraih ponsel diatas bednya lalu mencari nomor kontak Yuna dan menelfonnya.
“Halo…” Suara Yuna lemas terdengar dari speaker telfon.
“Sayang.. kamu sudah bangun belum.. uhg..” Suara Ride menderu nafas.
“Ka.. kamu kenapa sayang?... selamat pagi…” Yuna masih malas.
“Aku.. bermimpi.. meracuni minuman bibiku.. dan kamu tahu ngga…”
“…?..” Yuna agak bingung.
“Setelah aku bangun tidur, aku sudah terima kalau bibi aku pingsan.. sekarang anak-anak bibi disini, sayang…”
“Itu hanya mimpi… mungkin saja refleksi emosi kamu tersambung ke emosi sekitar kamu saat kamu tidur..” Yuna bermaksud menenangkan Ride.
“Aku kalah sama kembaran jahatku, sayang…” Ride terisak-isak.
“…..” Yuna menjadi cemas.
“Sebentar yach….” Ride menjauh dari telfon, Yuna berfikir sedikit mengenai kejadian yang baru menimpa Ride.
“Mimpi Ride itu luar biasa.. mimpi ke pom bensin yang akan terbakar.. eh.. disini pom bensinnya kebakaran, baru denger juga setelah Ride bangun.. mimpi ada pembantaian.. eh bangun tidur, Ride melihat ada pembantaian di Cina… jangankan itu.. kemarin-kemarin itu saat dia mimpi dan aku dengar dia mengigau bahasa Rusia, eh.. ada Cyber War.. dengar dia ngigau ‘Ahlan wa sahlan (bahasa arab: selamat datang) eh.. ngga lama ada raja Salman (Raja Arab) datang ke Indonesia… Astaga… dia merefleksi mimpi prekognitif terdekat.. sementara Adwin merefleksi prekognisi jarak berbulan-bulan ke depan dan aku merefleksi kejadian random ke depan… tapi kali ini jenis refleksinya lain.. Ride selalu menjadi pelaku kejahatan, padahal itu memang bukan dia.. aku bingung….” Yuna tidak ad aide lagi.
“Halo.. sayangku…” Ride kembali.
“Ada apa disana?...” Yuna menyambut suara Ride.
“Darah tinggi bibi kumat.. gara-gara anaknya pada berantem di rumah tadi.. dia di rumah sakit sekarang, sayang.. aku sedih banget…”
“Kamu tenang aja ya sayang…
Kata ibuku..
Setiap manusia memiliki setan yang tidur dalam dirinya dan mereka menjadi kepribadian jahat kita, jika kita mengalahkan mereka, maka kita akan mendapatkan kekuatan mereka dan bisa menggunakannya untuk melaksanakan urusan demi tujuan kebaikan..” Yuna menjelaskan.
“Iya.. bang Adwin juga bilangnya kaya’ gitu.. aku juga sudah dengar dari pamanku.. katanya suatu saat aku akan bertemu kembaranku yang jahat dan aku harus mengalahkannya, jauh sebelum Adwin mengatakannya kepadaku, yang..” Ride menghela nafas lemas.
“Aku juga punya alter ego jahat koq sayang.. kamu tenang saja.. tapi alhamdulillahnya aku sudah ngalahin dia dengan emosi aku sih…” Yuna menenangkan.
“Iya sayang..”
“Kamu pasti bisa, kita butuh proses kan sayang..” Yuna menenangkan.
“Iya…” Ride menyerah pada waktu.

Yuna jadi teringat  akan masalalunya dulu saat Adwin memerintahkannya agar bisa menjarah sebuah toko hingga isinya bersih. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 2011 setelah Yuna lulus dari sekolah dan melepaskan kemerdekaannya dengan berfoya-foya dijalanan mengikuti gaya hidup Adwin yang rusak dan tidak punya batas waktu pulang ke rumah yang pas.
Tahun 2011………………………………..
“JDUAKKK!!!!!!!!!!!!!!..”Tinju Adwin mendarat di perut Yuna hingga gadis berbadan lebih pendek darinya tersungkur ke aspal.
Semua orang yang melihat tidak berani memisahkan kakak beradik itu.
Yuna tidak menyerah, dia bangkit lalu berusaha meraih badan Adwin. Yuna menjambak kerah pria jangkung itu dan kemudian menluncurkan kepalan tangan kirinya ke pelipis Adwin tapi berhasil digenggam pria itu, Adwin menahan tonjokkan Yuna dengan sempurna. Yuna dengan sigap meluncurkan lututnya ke perut Adwin. Pria itu pun berhasil terjungkal ke belakang dan bersiap menerima serangan Yuna selanjutnya. Sayangnya pria itu sepertinya tak sabar, dia yang berkaki lebih panjang dari Yuna akhirnya menendang punggung Yuna hingga adikknya itu terpelanting lagi ke aspal. Yuna sudah tidak tahan dihajar oleh abang angkatnya karena sudah sedari tadi mereka bertarung.
“Aku sebenarnya tidak tega memperlakukanmu begini, Dek!!.. Tapi apa boleh buat.” Adwin menegakkan berdirinya sambil mengambil nafas.
Yuna tidak berkutik, gadis itu tengkurap dan tidak melakukan perlawanan lagi, badannya tidak bergerak.
Adwin menghampirinya kemudian menganggat kedua bahunya untuk dia bopong. Pria kurus itu menggendong adeknya ke trotoar dan membaringkannya disana.
“Ibuku terancam di pecat dari perusahaan.. 40 juta adalah denda yang mustahil untuk dibayar ibuku. Bukan ibu yang melakukan kesalahan. Tapi temannya! Aku takut!.. aku takut sekali..” Lirih Yuna, mukanya sudah lecet-lecet karena terkena aspal begitu pula lutut dan lengannya.
“Obati dirimu, Dek… ayo ikut aku..!.” Adwin yang duduk di dekat tubuh Yuna kemudian bangkit untuk menuju tempat kendaraannya diparkir.
Yuna berusaha membangkitkan diri susah payah, tulangnya terasa hampir remuk semua dan tubuhnya sekaku kayu broti. Kini dia harus berjalan sempoyongan dan menuju Adwin yang sudah duduk di tunggangannya. Yuna pun akhirnya duduk di sepeda motor besar milik Adwin dengan menyandarkan kepala ke punggung Adwin. Orang-orang hanya diam tidak memberikan komentar karena muka boss Kecenk itu menyimpulkan mata serius kepada penolakan Yuna atas perintahnya malam ini. Sementara satu-satunya gadis di genk mereka itu sendiri adalah adik angkat ketua.
“Boleh ku jujur padamu!..” Suara Adwin terdengar samar karena udara di jalan yang mereka terjang.
Yuna mengangguk, kepalanya masih tersandar di punggung pria itu.
“Saat aku melawanmu, sejujurnya aku menggunakan kemampuanku sendiri. Entah kenapa.. tapi sepertinya kemampuan khadamku tidak mau keluar.. dan sakit sekali rasanya..”
“………..” Yuna tidak terlalu memasukkan dalam fikiran, kini jalan otaknya buntu.
“Hahaha!!!... biasanya kulitku dibakar pun juga tidak terasa apa-apa!!..” Adwin kegirangan.
12 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah kompleks kost putri yang dihuni gebetan Adwin saat itu. Di tahun 2011 ini, Adwin sudah terlalu banyak berganti pacar.
“Kemana nich?..”
“Pacar baru…”
“……Oh….” Yuna memejamkan mata meresapi sakitnya kulit-kulit yang tergores di mukanya.
“YOP!! SUDAH SAMPAI NICH!!..” Adwin menghentikan kendaraannya, Yuna sigap turun kemudian menyandarkan diri di pohon terdekat.
“Aku pegang kunci dia, dan penghuni kost ini malah yang lagi ngga ada, jadi ayo masuk saja!!..” Adwin cepat menuju pintu kost-an dan membuka pintu putih bangunan itu.
“Gila kau…” Bisik Yuna mengomentari Adwin.
Yuna melihat kakaknya sudah melenggang masuk ruangan yang gelap dari bangunan itu lalu seperti ada cahaya lampu dinyalakan. Yuna pun masuk kemudian duduk di sofa.
“Ini rumah sewa apa kost?..” Yunsa sambil membaringkan badan.
“Isinya delapan cewek, kost..!!.. mereka mahasiswi..!..” Adwin melangkah menuju entah kemana ke bagian belakang rumah, hanya suaranya yang terdengar. Yuna tidak peduli, dan mulai menyantaikan diri.
Tak beberapa lama kemudian Adwin kembali membawa P3K, dan melemparkannya ke Yuna.
“ADEWW!!..” Keluh Yuna saat perutnya dilempari P3K oleh Kecenk. Kemudian pria itu duduk di sofa yang lebih pendek dari sofa yang dibaringi Yuna.
“Obati dirimu, jangan lemah seperti itu!!..” tatapan Adwin sinis.
Yuna pun bangun dan menuju ke belakang, dia berniat membasuh lukanya ke kamar mandi. Yuna melihat-lihat isi rumah saat mencari kamar mandi, terlalu mewah untuk di sebut fasilitas rumah kost!.
Setelah kembali dari kamar mandi dan duduk untuk mengobati diri, Adwin membuka percakapan saat melihati adiknya tengah memasang muka yang menahan rasa sakit.
“Putri Elisabeth manja kenapa bersikeras menjual Es Krim?...”
“UMH!! Sudah jelas biar bisa dapat 40 juta itu!...”
“Ng…”
“..!!!.” Yuna memperban telapak tangannya yang lecet karena terkena aspal saat menahan badan dari jatuh.
“Tapi aku ga rela melihatmu kayak gitu loch..!
Mempertaruhkan nyawa untuk bisa dapat uang cuma dengan cara kotor seperti aku..”
“Seperti aku!!?.” Yuna tidak peduli, dia mengambil cermin di kotak P3K kecil itu dan mulai meneteskan obat merah ke mukanya yang babak belur.
“Hahhaa… Hey!!..” Kecenk merasa dipermainkan adiknya.
“..!!!.”
“Hey!!! Aku serius lho!!!..”
“Aku lebih serius!!!...”
“Hmh.. Hihihii…hihi….” Kecenk nyengir melihat muka cemberut Yuna.
“!!!!...” Gadis itu masih sibuk sendiri mengobati lututnya, Yuna memakai celana pendek dibawah lutut dan itu membuat kakinya tadi tidak terlindungi dari padasnya aspal.
“Begini saja, lebih keren kalau merampok atau melakukan pencurian! Bagaimana?..”
Tawaran Adwin membuat mata Yuna terbelalak, dia sigap melempar tembakan mata ke pandangan Adwin.
“Kenapa melotot?!..” Muka Adwin terpasang expresi innocent.
“Tolol! Aku ngga mau jadi pencuri cemen!!!” untuk pertama kalinya Yuna mengumpati ketuanya.
“HAHAHAHAH!!!!!!!!!....” Adwin kegirangan.
“Huuuh dasar idiot kakap….” Gerutu Yuna.
“Kamulah penentu tempat yang akan kita jarah! Itu perintah!..” Adwin memicingkan matanya ke arah Yuna. Dan gadis itu menantang pemuda itu dengan tatapan tajam juga.
“TCHIH lah!!!!!!!.”
“HAHAHAHAHA…!!!!!!!!!!!!!..” Adwin tertawa terpingkal-pingkal.
TCHIH!!! Kalau aku kualat ntar gimana, aku ngga mau kerampokan gara-gara aku pernah ngrampok orang!!!! Aduh!!!!!!!
Yuna berfikir keras sementara Adwin terus saja terbahak-bahak.
“Ayo kita cari makanan! Kamu lapar tidak setelah senam tadi denganku?...” Adwin pasang senyum murahan.
“AS*WWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWW!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.....” Yuna berdiri dan mengumpat lagi.
“HAHHAHAHAHHARGHHHHHHH!!!!....” Adwin berdiri lalu merangkul Yuna keluar rumah dan mengunci pintu bangunan itu lagi.
Yuna menunggu kemudian ikut berjalan bersama ketuanya ke arah sepeda motor berwarna ungu.
“Aku penasaran sama muka cewekmu yang huni rumah ini!?” Yuna masih sewot.
Adwin merogoh sakunya kemudian mengeluarkan smartphonenya, menggeserkan jemarinya kemudian menunjukkan monitornya ke Yuna. Ada seorang cewek semok berdada besar dengan berfose nakal dengan hanya mengenakan bra saja.
“Anj…… EEEEERGH cewek murah aja koq dipacarin!!!!!.” Kesal Yuna yang melihat Adwin begitu gampangan, menel.
“Bukan yach!... Dia makai Jilbab koq kemana-mana..” Senyum Adwin ringan memperhatikan monitornya lagi kemudian menyimpannya ke saku lagi.
“Lhah koq bisa dia selfie kayak gitu?!...”
“Aku yang minta hahaha!!...” Adwin menaiki kendaraannya.
“EEEHH… dasar o’on!!..” Yuna naik di belakang Adwin.
“Dia saja yang ngebet aku nikahi, aku sich santai hahaha!!!..” Kemudian kendaraan itu dinyalakan dan mereka meninggalkan tempat sepi itu.

ψ(∇´)ψ {╋╋┣┫ ╋╋)
Sesampainya Yuna dan Adwin di tempat makan, mereka duduk agak menjauh dari keramaian orang-orang karena pasti agar aman saat jaga percakapan bisnis.
Emang dia kemana koq ngga ada di kost-annya?..
Ngga tahu.. Ke Bali kalau ngga salah, liburan bersama teman sekostnya..
Ohh…”
Jadi bagaimana?.. Adwin nyengir.
Bagaimana apanya?Yuna pasang muka polos.
Nanti mau menjarah toko mana?.. Adwin membidik mata Yuna dengan segenap kelicikan dan aura hitam.
Eh!!... Yuna pasang expresi palmface.
Adwin tersenyum sinis.
Iya sabar, bung!..
Siapa yang bertarung bersamamu tadi?..
!!!.. Eh..?! Yuna mengambil snack yang ada di atas meja.
Aku tahu itu bukan kepribadianmu kan? Itu alter apa tuh?.. Adwin nyengir kuda.
Alter ego, kan enak sih alter-ego.. eja gitu aja masa ga bisa?!..Yuna menyantap snacknya.
Haha! Iya itu..!!..
Iya, itu tadi Veraline.. Alteg gitulah..
Kenapa bisa ada dia?...
Pipi Yuna mulai merah, dia seringnya malu jika ditanyai perihal koleksi altegnya.
Ngga tau aku!.. Yuna mengalihkan pembicaraan.
EH! Ngga ngehargain kalau diajak ngomong! Kebiasaan!!!
Adwin mulai pasang muka tidak puas dan jengkel.
Dia karakter mantan anggota Nazi gitulah.. dihianati komando dan melepaskan diri menjadi gelandangan di jalanan dan mendirikan banyak pasukan elit versi pemberontak pemerintah untuk membebaskan anak-anak yang dijadikan korban human experiment seperti dia, dia sendiri korban human experiment orang tuanya.. begitu..
Waah! Bisa dibikin tuh novelnya! Haha..!
Emang iya!!.. udah aku buat..
Mana coba, Dek!.. Muka Adwin sumringah.
Sejak SMP, aku sudah bikin cerita itu.. dan sudah mencapai chapter 7.. tapi bukunya aku bakar! Aku semakin takut dengan diriku sendiri..
Kalau begitu gunakan dia biar bisa lancar menjarahnya nanti.. gimana? Ide picik Adwin kembali muncul.
Iya, bisa..
Nah.. gitu dong brilliant!...
“….
“….
“….
Aku mau tanya sesuatu!..
Apa, Dek?.
Apakah masalalumu indah?.. maksudku, kamu terus saja tersenyum begitu kalau lagi diam.. apakah kriminil itu tidak hanya dihuni anak-anak broken mental?..
Huuh?.. apa maksudnya?.. haha.
“Masalaluku suram, aku seringnya dibully anak-anak tetanggaku sendiri, di sekolah lebih parah lagi, dan di jalanan aku malah melakukan sebaliknya gara-gara ketemu orang sepertimu.”
“Hum.. begitu yach? Pilu juga masalalumu yach.. Cuma dibully kan?..”
“!!!? Cuma dibully kan?.. Cuma?.. kamu mengalami hal lebih dari itu?...”
“Hahaha, mau tau aja apa mau tau banget?.. masalah buatmu?..” Adwin nyengir kuda.
“Iya!..”
“?...”
“Aku punya masalah denganmu, kamu membuatku begini jadi aku harus tahu seluk beluk mengapa kamu membuatku jadi sepertimu?..”
“EEH!.. aku tidak menjadikanmu sepertiku koq! Aku menjagamu dari perbuatan seperti kegiatanku kan!.. makanya aku hajar kamu tadi biar kamu jera! Aku tidak mau kamu kenapa-napa dipenjara seumur hidup! Kamu kan pemula dan tidak tahu masalah apa-apa.. kamu kucing rumahan, aku yang kucing pasar..”
“….”
“Baiklah….. aku bisa koq kasih tahu semuanya untukmu..”
“!!! Umh!..” Yuna mengangguk.
“Aku… dulu tejebak dalam sebuah genk.. disekolah, aku dihormati banyak orang karena ortuku punya peran besar..” Adwin melihat ke arah jalan.
“..Oh..” Yuna melihat ada tatapan kosong di kedua mata Adwin.
“Saat dijalanan aku sendiri yang suka bergaul akhirnya direkrut sebuah genk berandalan dan aku mengalami sesuatu..” Adwin mengedipkan satu kedipan lama. Seperti memendam hal yang berat.
“…!?.”
“Aku diculik..”
“!!!!!!!?..” Yuna terperangah.
“Aku dibius menggunakan cairan ganja.. dengan dosis tinggi hingga lemas..”
“Ah!!!? Trus?...” Yuna melihat muka Adwin yang berubah menjadi nonekspresi.
“Mereka mengancamku.. Aku harus membantu mereka untuk menjual barang haram ke sekitar lokasi aku tinggal…”
“!!!!!?...”
“Jika tidak!!.. akan ada yang mati.”
“!!!?.. Si siapa yang terancam mati?..”
“Satu per satu anggota keluargaku..”
“Me..memangnya mereka itu siapa?..”
“Itulah yang membuatku dekat dengan segala sumber informasi…
Aku berfikir, bagaimana cara agar aku bisa mengelabui mereka, aku mencari informasi mengenai mereka sembari menjalankan perintah mereka sampai sekarang dan suatu saat pasti akan aku penjarakan orang-orang Australia itu..”
“!!!!!!!!?.... Ah!...”
“Saat kepala sekolah memanggilku beserta kedua orang tuaku, aku kepergok menjual ganja dan pil ekstasi.. kemudian aku di DO dari sekolahan..”
“!!!?...”
“Aku menjelaskan kepada ayahku, dan yang terjadi justru diluar harapanku..
Ortuku bertarung argument. Mereka terus melakukan itu hingga akhirnya ayahku membawaku ke Jakarta. Ternyata ini semua adalah kesalahan pamanku sendiri yang berusaha menjerat ayahku, perusahaan ayahku bangkrut dan ibuku mengasingkan diri.. di Medan.. Ayahku membuangku kesini supaya aman.. dan berniat melindungiku..”
“….”
“Ayahku fikir.. bahwa dengan melarikan diri ke pulau jawa akan membuatnya bisa bersembunyi dari kejaran pamanku, tetapi.. justru sebaliknya… kini ayahku terus berlari aku sendiri kehilangan informasi mengenai keberadaannya.”
“!!!?...”
“Terlalu berat, aku senantiasa memojokkan diriku dan karena tak tahan akhirnya aku mengedarkan barang beracun itu lagi, ini semua karena kepentingan politik dan bukan hanya kepentingan bisnis.. ada yang ingin menghancurkan Negara kita secara perlahan dan tahun depan mungkin cina akan datang untuk memperparah…”
“!!!!!.. aku tidak mengerti….”
“Aku juga tidak mengerti sampai sekarang siapa dan apa sebenarnya yang diperbuat ayahku, aku harap bukan korupsi.. aku benci dengan koruptor..”
“Pamanmu? Kenapa ayahmu tidak melaporkannya ke polisi saja?..”
“Tidak ada barang bukti yang bisa menjebak dia, segala cara tentu sudah dilakukan ayahku..”
“Lalu.. sekarang selanjutnya bagaimana..?.”
“Kota ini tempat yang aman, polisi pasti bisa memenjarakan siapapun yang menjual narkoba.. termasuk anak buahku..”
“Kau memasukkan mereka kedalam daftar rencanamu!!?.. kau yakin namamu tidak akan tersebut oleh mereka..??!.” Yuna semakin memelankan suaranya.
Adwin menggeleng.
“Mereka tidak akan pernah berani..”
“?...”
“Satu orang pernah menyebutkan namaku dan mati di dalam sel tahanan sementara sebelum introgasi selanjutnya dimulai..”
“Ko.. Koq bisa..?.”
“Pengikutku bukan hanya dari orang tetapi juga mahluk jenis selain orang biasa…”
“!!!!!?...”
“Hanya kau yang bisa melaporkanku ke polisi, Dek.. Kekuatanku tidak mempan terhadapmu..”
“!!!!!!?...”
“Siapapun yang menghianatiku harus mati… tapi aku tidak tahu tentang bisakah aku membunuhmu..”
Yuna menelan ludah.
“Siapa sebenarnya pamanmu itu?...”
“Setahuku, dia mafia illegal logging..”
“!!!!!?....”
“Tidak ada yang beres dalam keluargaku, Aceh benar-benar sudah tercemar.. Serambi mekkah itu kini menjadi serambi neraka.. ini hanya fikiranku saja.. Ganja tumbuh subur di pelosok rumah yang tersembunyi.. dan ditanam di dalam rumah beberapa penjahat.”
“…Ini pelecehan kak..”
“Aku tidak menyebutkan hal yang terlarang! Ini kenyataan..”
“….? Lalu sekarang bagaimana?..”
“Aku pasti bisa menjebak mereka dan memenjarakan mereka.. Kau tenang saja.. Ayahku orang yang baik, mungkin dia punya hutang yang belum bisa dibayar pada pamanku sehingga ayahku diperas dan justru aku yang digunakan olehnya dari jarak jauh.. pamanku sangat pintar.. aku yakin orang-orang aussy itu pasti punya hubungan bisnis dengan pamanku.. dia menjual keponakannya sendiri agar hutang ayahku terbayar!! Aku tidak akan pernah terima keadaan seperti ini!!..”
Nafas Yuna tersengal.
“Posisimu begitu sulit!... tak ku sangka!...” Yuna menahan iba dalam dadanya.
“Aku yakin informasi ini benar, beberapa kali aku pergoki ayahku telfon paman mengenai hutang saat kami tiba di hotel Jakarta sebelum ayahku melemparku kesini.”
“… Darimana..”
“Hum..?” Adwin tersenyum menenangkan Yuna agar tidak tenggelam dalam kisah Adwin.
“Darimana kau bisa punya pasukan khadam jin seperti itu.. sampai bisa membunuh anak buahmu yang tertangkap polisi jika buka mulut tentang namamu?...”
“Aku sudah punya sejak kecil..” Adwin tersenyum.
“!!!!!!!!?..”
“Aku ditakdirkan menjadi orang beraura hitam tapi aku bukan anak indigo sok suci yang selalu berusaha menolong orang yang kesusahan.” Ledeknya.
“Indigo sok suci gimana?...”
“Anak indigo selalu berusaha menolong orang lain, itu bedanya aku dengan mereka.. mereka itu juga diikuti sepertiku.. tetapi hasrat ingin menolong orang itu sangat tinggi dalam jiwa mereka, entah mengapa..”
“Kau yang sok kotor…”
“!!!?.. Eung?..”
“Kau .. telah berusaha menolong ayahmu bukan?..”
“…”
“Entah mengapa kau terus saja menolong ayahmu sampai masuk kandang buaya seperti ini, meski ayahmu selamat dan mereka yang menderitakan keluargamu dipenjara tapi… kau akan terkena hukuman seumur hidup juga..”
“Euh..?...” Adwin melihat pelayan yang datang membawa makanan dan meletakkan di meja makan mereka, sate kambing yang lama datang karena banyak yang antri di restoran terkenal itu.
“Hihi kau benar, jadi aku juga sok kotor dan sok suci sekaligus yach!!.” Adwin menyantap hidangannya.
“Mengorbankan diri demi orang lain itu perbuatan yang susah diterima banyak orang yang belum memahami perasaan kita.. kita terpojokkan…” Yuna merenungi masalalunya.
“Hey!!!.”
“!!?..”
“Makan dulu!!.. Sapi saja yang terjebak ikatan tetap mau makan, masa kamu ngga?.. ikatan masalah itu bukan hal yang harus membuatmu mengahiri hidup.. Hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup..”
“Kebalik..”
“Tidak kebalik!!.” Adwin tersenyum yakin.
“Tergantung sudut pandangmu, kita lahir pasti untuk meminum asi ibu.. jika tidak maka akan mati.. jika mayat dikasih makanan pun belum tentu dia akan hidup..”
“EUM!..” Yuna mengangguk lalu menyantap makanannya dengan lahap.
“Soal penjarahan selanjutnya! Aku tidak yakin!..” Pipi Yuna menembam penuh makanan.
“HAHAHAHAA!!!!!!!..........” Adwin tertawa lagi.
Dia tertawa untuk mengubur masalahnya. Semakin seseorang sering tertawa, maka sebenarnya orang itu ingin melupakan masalahnya sejenak.. terasa berat jika terus dipikirkan bukan?
“Dah dapat belum, Dek..?!.” Nada Adwin semangat terdengar dari speaker handphone Yuna.
“E… Sudah kak..” Yuna menghela nafas panjang.
“AYO BERANGKAT!!!!!!!!!!...” Adwin menutup telfon segera setelah memekakkan telinga Yuna dengan teriakannya.
“Sial..” Yuna membanting nafas panasnya yang penuh emosi lalu berjalan keluar rumah sembari memakai jaket hitam bergambar kepala tengkorak Punk, menuju tugu pembatas wilayah desa tempat dia tinggal. Pikirnya pasti dia akan dijemput si Jon seperti biasa. Dan ternyata benar, tak  lama kemudian Jon datang dengan sepeda motor  besar berwarna hijaunya.
“Mbak, nanti kita kumpul di rumah mas Mawir dulu ambil peralatannya!!!..” Jon berteriak saat melewati persawahan.
“Yo wis terserh gimana nyamannya aja!!..” Yuna sungut.
“Kenapa mbak kayak yang bête gitu!!?..” Si Jon membungkuk sambil menambah kecepatan.
“!!!!...” Yuna menurunkan telapak kaki kanannya dan menahan kaki kirinya agar nanti saat menurunkan kecepatan badan dia tidak menyentuh tubuh si Jon, Yuna membungkuk sambil menyilangkan lengan.
“Pegangan mbak, biar ngga jatuh!!..” Si Jon berkelok memotong truk yang ada di depan sambil mendadak berkelok lagi menghindari mobil yang ada di depan.
“!!!!..” Yuna menolak dengan mendengus saja.
Mana mau aku sama kamu begitu!! Ahiiiirghhhh no no lah!!!...’ Yuna merinding sendiri membayangkan si Jon nanti kalau jadi salah mengartikan.
(`Д゚(`゚Д゚´)゚Д´)
MBAK CINTAH!!!...eh mbak citah deink.. hehe!!... Deden menyambut Yuna turun dari sepeda motor, rumah Mawir sudah sangat ramai.
Berapa anggota yang akan ikut?.. Yuna menata rambutnya yang tersibak semua ke belakang.
Ada Mas Mawir.. Ada Deden.. Ada si Jon.. Mas Kecenk.. Mas Badak.. ada Mbak Citah..
mas Badak naek sepeda motor ngawasin kegiatan kita nanti dari pos penjagaan.. Deden menuntun Yuna berjalan ke rumah Mawir yang masuk ke dalam gang sempit, sementara Si Jon melanjutkan perjalanannya menjemput  Badak yang rumahnya dekat dengan Mawir beberapa blok lagi ke depan.
Yuna berjalan mantab meski jantungnya berdebar sangat keras, untuk pertama kalinya dia akan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain karena tuntutan komandan komplotan tengil jalanan itu. Ini menyebalkan sekali.. kera besar itu terus saja bertanya mana.. mana.. mana yang mau dijarah.. toko mana.. sial.. aku jadi berlumuran dosa gara-gara kegiatan haram ini!!!.Yuna mengutuk-ngutuk dalam hati.
Akhirnya mereka sampai di rumah Maweir yang berukuran kecil, rapat jaraknya dengan rumah-rumah tetangga, beberapa orang sudah menunggu. Dan sang ketua sudah pasang muka kusam dengan matanya yang tajam membidik agar Yuna bertindak serius, ini bukan sekedar permainan.
Lama amat!!. Adwin menghisap rokoknya yang sudah mau habis kesal, selama itulah dia menunggu kedatangan adiknya itu, mungkin itu batang ke beberapa batang sebelumnya.
Jangan salahkan aku.. kan aku sudah bilang akan keluar setelah Isya aku mau ke warnet dulu ikutan battle selfie online.. Yuna tidak mau kalah.
Halah.. selfie bikin foto beredar saja.. kalau ketahuan.. polisi enak saja nanti nyariin kamu.. Adwin membuang putung rokoknya dengan sekali sentilan ke depan. Yuna melihati kemana arah putung itu jatuh tidak memperdulikan kritikan Adwin soal hobinya yang aneh itu.
Kemana Dek?.. Nada Adwin turun.
“Eh!!!... Em..” Yuna menggaruk belakang kepalanya.
“Si Jon yang tau.. aku lupa jalan mana..!! biasa aku kan emang begini anaknya.. pelupa..” Yuna duduk di sebuah tempat duduk semen di teras, melihati Mawir yang baru datang entah darimana sambil membawa kardus besar dan sekarung goni putih berisi benda-benda besi.
“Linggis?...” Tebak Yuna.
“Lhoh! Mana Jon!?..” Mawir melongo sambil menaruh semua bawaannya ke lantai teras.
“Jemput mas Badak..” Yuna menghela nafas.
“Kok kayak lemes belum makan satu bulan gitu, mbak?..” Mawir duduk di sebelah bule keparat yang dia anggap sebagai ketua genk.
“Mana tahan aku begini, aku newbe..” Yuna melengahkan muka.
“Ketua kita kan anggota mavia.. masa’ sich mbak takut katangkep?.. asalkan infonya bener.. jamnya bener.. ya ngga bakalan lah mbak kena jeblos penjara hahaha…!!!.” Mawir terlalu asyik memuji Adwin biasanya itu modus supaya dielus-elus si boss.
“Ga ngaruh!.” Ketus Yuna menyilangkan lengan.
Suara knalpot sepeda motor Si Jon berbunyi, datang bergerombolan dengan tujuh anggota lainnya dan tentunya Yuna tidak pernah hafal nama mereka. Terlalu banyak anggota dan mereka yang datang adalah yang berumah dekat dari rumah Mawir, belum lagi nanti jika ke rumah Deden maka anggota lainnya terdekat dari rumah Deden juga pasti ikut reuni seperti ini, dan itu membuat pusing memori.
“Ada sepeda motornya?!..” Adwin berdiri menyambut.
“Ada Mas!!! Hahaha..!!!.” Kobar, itu julukan anak laki-laki STM Bengal yang berbicara barusan, turun dari boncengan temannya dan menepuk keras sadel sepeda motor yang masih menyala itu, motor bebek dengan NOS dan sudah berkondisi rontok body, alias motor yang sudah diotak-atik liar.
“Nah kalau makai barang ini mantab nich..” Adwin berjalan melihati perangkat kendaraan itu.
Jon turun dari sepeda motornya lalu masuk ke dalam rumah Mawir, tujuh anak itu menjaga di halaman sambil merokok dan tertawa dengan cerita khas mereka yang tidak terdengar jelas jika tidak disimak, dengan suara keras mereka yang membahak ke udara malam itu.
“Jadi gini Mas.. Kami sudah keliling.. ini daerah kota tapi sepi banget jalanannya.. memang deket jalan raya besar tapi toko kanan kirinya lebih sore tutup.. sudah aku cek sama Frendy.. ngga ada yang jaga.. dilempari batu pun ngga ada yang datang jenguk..!!.” Tukas Jon sambil duduk jongkok ke lantai sementara Yuna berdiri diantara pintu masuk, Adwin duduk di sofa bersama Badak dan Deden.
“Trus?..” Badak ikutan kepo, tangannya menggertakkan tulang.
“…” Yuna menelan ludah, badannya seperti kepanasan dan perutnya mulas entah kenapa.
“Aku tahu dari mbak Yuna.. dia nyuruh aku periksa ya sudah.. aku tanyai.. apa toko ini mbak.. dia jawab iya!!..” Jon nunjuk Yuna, semua laki-laki menoleh ke Yuna.
“Eng.. enggak ogak gitu koq! Aku bilang! Emang bisa?... ‘Emang bisa?’ gitu koq…” Yuna mengelak, Adwin menghela nafas.
“Jadi gimana?!...” Adwin menatap Yuna dingin dan tegas.
“Eg!!!...” Yuna merinding.
“!!!?.” Adwin terus mendorong mental Yuna dengan tatapan kejinya.
“Iya aku nanti coba usahain biar ngga ada yang datang ke situ..” Yuna menggosok leher belakangnya.
“Gini loh mbak! Mbak kalo mau jadi maling itu harus mau punya pegangan.. taruh saja pocong atau genderuwo di sekitar TKP biar ngga ada yang mau ke situ.. karna hawanya beda..” Mawir bijaksana untuk menghancurkan yang sudah hancur jadi semakin hancur.
“Iya aku bisa koq.. aku coba dikit deh, ngga makek demit juga bisa koq..” Yuna menyesali saran Mawir.
“Kondisi aman jam berapa?!..” Adwin membuang muka ke Jon, seolah sudah tidak mau lagi melihat Yuna yang tidak bertanggung jawab atas perintah dan rencana penjarahan mala mini.
Tiba-tiba ada rasa menyesal karena sudah membuat seseorang kecewa, secara professional.. mereka adalah sudah termasuk golongan penjahat. Tetapi Yuna belum bisa beradaptasi dengan statusnya itu.
“Jam dua belas!!.” Sahut Yuna. Adwin tidak menoleh kea rah muka Yuna lagi.
“Jam dua aja mbak!..” Saran Jon yang menjadi percaya diri karena sudah merebut kepercayaan Adwin.
“Polisi lebih mudah memeriksa suara kecil saat semua lagi hening.. pas -jam dua belas jalanan kan belum hening…” Yuna mencoba mengaktifkan Veraline.
“Terlalu beresiko loh mbak…” Jon mengelahkan muka.
“Semakin beresiko semakin aman, makanya harus gesit jangan bawa banyak orang. Kita harus muat semua dalam satu kendaraan. Lalu barang lainnya dimuat di satu mobil itu bagus.. toko ini besar bukan kios kecil-kecilan.. ada CCTV..!!.” Nada suara Yuna berubah, menyilangkan tangan ke depan.
“Nah….. itu aku suka….” Adwin berdiri lalu menepuk pundak Yuna, berkacak pinggang.
“Aku sudah buat topengnya…” Mawir ke teras mengambil kardus tadi dan dia segera kembali meletakkan topeng-topeng kain merah diatas meja.
“Wekkk Jreng bener itu warnanya!!!..” Badak terpingkal mencoba topeng itu.
“Mas Kecenk khusus deh warna hitam… ini.. mangga.. sepuluh ribu dapat tiga.. dipilih-dipilih…” Sambil menyodorkan malah bercanda garing.
“Kayak jualan sempak eh!.” Yuna ketus.
“Ini masih jam sepuluh.. mobilnya ga usah diambil dulu… jam setengah dua belas baru diambil dari pemilik..” Adwin menyandarkan diri sambil melihati Handgun miliknya yang dia dapatkan entah dari mana, diusapnya pakai kain lap dan dicek isi pelurunya.
“Lengkap nich, komandan?!!..” Yuna meledek sambil menghela nafas.
“Kamu mau?.. nih kamu yang pegang!.” Adwin menyodorkan handgun hitam dengan hiasan besi berpola api bewarna emas di pegangannya itu.
“Waaah!... Epic..” Yuna baru tahu kalau handgun itu berat.
“Aku pegang ini saja!!..” Nada Kecenk lucu seperti sok imut sambil memainkan linggis kecil.
“Disimpen dimana nih?!!.” Yuna mengendus kesal ke muka Adwin, sontak laki-laki dingin itu melempar sabuk wadah handgun.
Yuna menerimanya lalu meletakkan Gun ke meja, melepaskan jaketnya, dan dengan tangan agak gemetaran dia mengalungkannya ke badan dan memasukkan Handgun itu ke sarung yang terdapat di sabuk itu, di depan dadanya yang trepes karena memakai Binder, Yuna benar-benar seperti anak laki-laki.
“DINGIN BESINYA!!!.” Yuna merinding merasakan body gun yang menyentuh kulitd dadanya yang sudah berbalut kain.
“Hahaha! Sini aku hangatkan!!..” Badak mendorokan tangannya.
“Eh As*w lah..!.” Yuna memakai kembali hoodynya.
ヽ(#゚Д゚)ノ┌┛Σ(ノ´Д`)ノ
“Go! Go! Go!...” Adwin melambaikan tangannya tanda menyuruh cepat keluar dari mobil.
Semua siap dengan linggis langsung berusaha membuka pintu garasi toko. Sementara sosok lebih pendek dari pada yang lainnya sedang memegang handgun dengan mantap mengedarkan pandangan ke arah jalan. Jari telunjuknya diap untuk menarik pelatuk. Satu menit kemudian mereka semua masuk ke toko itu dan mengambil semua isi toko itu, baju-baju distro dan topi-topi distro. Yah mereka menjarah sebuah Distro di kota bagian pinggir. Semuanya di borong.
“Siap! Terus! Siap!.. Gerakkan terus cepat!!.. Gerak!..” Yuna mengoper lambaian tangan terus saat orang-orang berlarian membawa baju dan melemparnya ke dalam mobil yang sudah terbuka.
Sepuluh menit kemudian semua isi Distro benar-benar bersih dari barang dagangan. Yuna masuk ke dalam mobil yang sudah disumpali banyak baju, duduk disamping sopir.
“Gerak cepat!!! Dahului saja Kecenk!!...” Yuna mengacungkan Handgunnya ke arah depan memerintah Jagur yang duduk di seat sopir.
“!!!!..” Jagur langsung tancap gas, mobilnya ada di depan mobil yang disopir Deden yang memuat ketua beserta anggotanya sehingga menjadi lebih mudah.
“Lari ke mana mbak!!!?..” Jagur panic.
“Keluar duru dari daerah polsek sini!!..” Yuna melihati Badak sudah mengendarai motor bebek yang tadi dibawa Kobar.
“!!!...” Badak mengimbangi kecepatan mobil yang dikendarai Jagur dan mengarahkan tangannya sebagai petunjuk jalan, pria bertopeng dengan helm teropongnya itu kemudian berbelok ke kiri memasuki gank.
“Kita berpencar lalu masuk markas!!! Barat kota!! Gerakkan cepat gas terus!!.” Yuna mengarahkan sambil menoleh ke belakang melihat mobil yang dibawa Deden yang sudah hilang dari ekor mereka.
“Siap!!..” Jagur tancap gas.
(°Д°)/(. . )
“GILA BENERRRRRRRRRRRRR!!!!!!!...” Yuna berteriak serak melepas topeng dan hoodynya, membanting ke tempat duduk lalu mengusap mukanya.
“Untung saja punya markas di sini!!..” Deden meletakkan diri di atas terpal yang dibentang diatas rerumputan, mereka kini di dalam sebuah daerah jauh dari perumahan dalam bangunan rumah yang sudah dihancurkan atap, pintu dan beberapa jendelanya.
“Sekarang kita jangan diam..  panggil kendaraan bermotor ke sini, kita pulangkan mobil ini.. sementara barang jangan kita lepaskan.. anak-anak bisa saja nyomot barang kita..” Adwin berdiri setelah bernafas sejenak menuju mobil.
“Kita amankan dulu hasil kita, Mas!!..” Mawir bersemangat.
“Jon!! Anak-anak jangan nyampe ada yang kau kasih tau!! Kita Cuma bayar pake eskrim ke mereka soalnya!..” Jagur memang kurang percaya dengan Jon, meski Yuna anak baru tapi Jon terkenal sebagai mulut emberan dibanding Yuna.
“Walah mas, aku ngga kayak gitu koq!!.. aku kan pengawal setianya mbak Yuna! Ya toh mbak!.. aku pernah salah kerja mbak?!..” Jon butuh pemberaan.
“Iyo..” Yuna tidak terlalu peduli.
“Karungnya ngga cukup ternyata!!..” Tukas Mawir setelah memasukkan semua baju ke dua karung yang sudah dia bawa dibantu Jagur dan Deden.
“Terpal ini apa gunanya?!!..” Yuna teriak sambil terengah-engah masih berdebar sehabis tadi karena ada CCTV.
“Oh iya!!..” Jagur lalu menghampiri dibantu Deden semua kerja sama, Jon memutar balik mobil yang terparkir ke dalam bagian belakang rumah untuk di hadapkan ke jalan keluar lalu menyusul Adwin yang memasang plat palsu ke dua ke mobil satunya.
“Dah.. its clear now!!..” Adwin menepuk kedua tangannya membersihkan diri.
“Ganti baju guys!..” Adwin membuka pintu mobil dan mengambil tas berisi bajunya sendiri.
“Kami ngga bawa mas!..” Jon menyela.
“Pakai saja punyaku itu!!.. kenang-kenangan lah hahaha!!...” Adwin menukar bajunya.
“Mas!! Jaketku ini jangan dibuang!!...” Yuna yang dari tadi bersantai hanya melihati, mengeluh.
“Simpan dalam tas sini..” Adwin tersenyum kecil.
“Hehe..” Yuna berjalan ke tas yang sudah diletakkan di samping mobil dengan resleting terbuka, lalu memilih baju putih bertulisan kanji ‘Ronin’ dan masuk ke mobil, menutup pintu untuk ganti baju.
“Udah pada siap, Mas!!..” Jagur keringatan lalu menanggalkan kaosnya dan kemudian mengelap keringatnya. Menghampiri tas dan mengambil baju hitam berlogo kepala Lucifer.
“Njir.. Lucifer…” Yuna tersenyum nyengir tak habis fikir.
“Mas.. ini mau dikemanain barangnya?.. anak-anak mau ditelpon kapan?..” Mawir memakai baju Adwin sambil berfikir.
“Jam setengah satu..” Yuna melihat arlojinya.
“Kita.. taruh saja di belakang ka nada tembok agak tinggi disitu.. telfon saja sekarang..” Adwin berfikir.
“…!.” Mawir sebagai operator terpercaya membuka telfonnya yang berisikan daftar nomor penjahat kemudian berbicara dengan seseorang setelah beberapa lama mencari siapa yang hendak di telfon.
“Halo.. Frank.. loe dimana?.. Oh ya ya.. .. ya.. aku ada urusan ini..
Aku butuh anggota yang rumahnya deket gang Jeruk.. iya.. barat kota.. oh iyo.. berapa orang.. tiga!!..” Mawir mengedarkan pandangan ke semua orang, Adwin mengangguk.
“Oh ya.. iya aku tunggu! Di halte gang Jeruk.. ngerti kan!!?.... iya… Mas Kecenk disini.. cepet yo!!... Sip…!.” Mawir menutup telfonnya.
“Kembalikan dulu mobil ini ke rumah Tia sama Rani..!!..” Adwin langsung melempar kunci mobil ke Jagur karena Deden sudah menyetir.
“Kunci Mobil Rani sama kamu kan Jon!?.” Adwin melambai.
“I.. Iya Mas..” Jon sigap masuk mobil dan melaju pelan-pelan disusul Jagur.
“Dua anak itu nanti abis itu gimana? Suruh pulang apa ikut kita?...” Deden kehausan, tenggorokkannya sepertinya kering, air mineral botolan yang dibawa sudah habis.
“Pulang saja.. kasih tahu mereka…” Adwin jongkok.
“…” Mawir menghubungi mereka berdua secara bergantian supaya setelah mengembalikan mobil cewek Adwin mereka sudah ganti plat mobilnya sebelum memasuki gang rumah mereka dan kemudian mengembalikannya dengan aman lalu pulang ke rumah mereka sendiri dengan cara terserah pada mereka, apakah minta diantar anggota lain atau bagaimananya, tak lupa himbauan agar plat nomor kendaraan diamankan.
“Ribet juga ya mas, sampek ganti plat tiga kali.. gara-gara di kota sendiri..” Keluh Deden.
“Iya lah!.. kalau ditanya.. kemana mobil Rani jam segini bisa keliaran .. berabe aku..” Adwin menyela.
Ponsel  Adwin berbunyi.
“Ya, Jon.” Adwin tegas dengan nada santai sambil memilih menu loudspeaker.
“Plat nomornya sudah aku buang ke sungai besar.. aku pulang sama Turbo Mas..” Suara Jon seperti terterpa angin di jalanan.
“Lanjutkan.. aja Jon… santai aja lewatin polres.. kalau ada kabar sampaikan.” Adwin berdiri merogoh kantong celananya. Telfon pun mati.
“Rencana kita selalu rapi ya mas!!..” Deden nyengir kuda, melihat Adwin menyalakan rokok.
“Pernah sekolah koq.. ya harus pinter..” Ledek Adwin.
Ponsel Adwin berbunyi lagi.
“Ya!.” Adwin mengepulkan asap ke udara.
“Mas aku dah buang plat ke sungai besar!! Aku lagi nyusul Jon ke rumah Mawir nengokin Badak lagi apa sama anak-anak!..” Teriakan Jagur terdengar setelah Adwin pilih menu Loudspeaker.
“Sip…” Adwin lalu mematikan telfonnya.
“Siapa aja tiga anggota kita di sini, Bro..?.” Adwin menawarkan rokok ke Deden dan Mawir, tak lupa ke Yuna yang lagi berleha di depannya, Yuna menggeleng saja.
“Ada Franky.. Ada Sipit sama Yogi..” Mawir menghidupkan api.
“Franky… boleh juga tuh anak mimpin blok barat..” Adwin menetuk rokok dengan jarinya.
“Bagusnya..?.” Yuna hanya ingin mengisi suasana agar tetap ada pembicaraan di tengah angin malam dingin saat itu, di tempat sepi dikelilingi tanaman sawah yang tumbuh tinggi di bawah bukit, gelap dan hanya ada cahaya bulan purnama saja.
“Pinter judi dia…” Adwin menyanggah.
“Tadi jalanan bisa sepi gitu ya!! Beneran bisa macam sirep saja ngga ada yang nolong toko tadi…” Mawir mengedarkan pandangan ke semua orang.
“Jam dua belas itu malah saat polisi baru berangkat keluar pos.. jadi sudah melewati daerah itu.. aku kan sering BMX-an sama grupnya Badri.. anak pesulap itu.. tau kan .. yang sekolah di STM Nusa..” Yuna akhirnya mengambil satu batangan rokok milik Adwin.
“Yah.. abis ini .. baju ini kita jemput lagi.. kita langsung jual ke luar kota.. jangan ada yang makai..” Adwin dapat ilham bagus yang tidak menyehatkan.
“Mala mini?...” Yuna mules mendadak.
“Iya malam ini.. Nanti ke rumah Deden ambil mobil.. Aku.. kau.. Mawir.. Deden.. Badak juga ikut..” Adwin menunjuk dengan rokoknya.
“Mana muat!!...”
“Muat koq!..” Deden mengiklankan diri.
Ponsel Adwin berbunyi lagi.
“Franky!..” Adwin membaca siapa yang menelfon lalu menyalakan loudspeaker.
“Mas dimana?!!.. aku di gang Jeruk sama anak-anakku sekarang..” Tuturnya dengan suara keras tapi sopan.
“Tunggu aja.. aku kesana jalan kaki sama anak-anak..” Adwin.
“Siap Mas… kami di halte..!!..” Suara sepeda motor anggota lain terdengar dibalik suara Franky sebelum akhirnya Adwin mematikan telfonnya.
Tidak boleh mengeluh, agak jauh perjalanan ke halte. Tempat mereka tadi adalah jauh dari komplek perumahan, berjalan dua puluh menit lalu sampailah mereka di  gang. Untungnya halte itu di depan gang.
“Koq jalan mas.. kenapa ngga minta jemput aja..!!” Franky datang menghampiri dengan sepeda motor semi besarnya setelah melihat kerumunan Adwin tiba di mulut gang.
“Ga masalah.. sekali-kali olahraga..” Adwin memang unik dan rapi dengan segala rencana menghilangkan jejaknya bahkan jejak dari anak buahnya sendiri.
Yuna bersama Sipit sementara Yogi membonceng Mawir dan Jagur, mereka menelusuri jalan kota dan menuju ke rumah Mawir.
“Dari mana mbak?...” Sipit, julukan dan sandi untuk nama asli Fadli. Anak keturunan Chinese mix wong Jowo.
“Ke rumah teman mas Kecenk…” Yuna sudah diberi pesan oleh Adwin dengan menyediakan jawaban itu.
“Lah.. tadi naik apa? Koq minta dijemput?..” Sepertinya Sipit kepo.
“Mobil… belum balik, dipinjem sama Mas Jagur.. mungkin mogok dijalan.. ga tahu lah!...” Sesuai pesan Adwin lagi, jawaban itu.
Sesampainya di rumah Mawir, ternyata ada Badak yang sudah menunggu seorang diri di teras rumah Mawir . Mawir tinggal sendirian sehingga rumahnya kosong.
“Antar Deden pulang dulu lah!!..” Adwin mengatakan saat sampai sebelum mesin sepeda motor Franky dimatikan.
“Yo..!!..” Badak langsung berlari menghampiri sepeda motornya yang sudah diparkir di depan rumah Mawir, Deden menuruni sepeda motor Yogi setelah Mawir turun dan menghampiri Badak yang sudah siap lalu pergi begitu saja.
Franky masih menyalakan mesin bersamaan dengan dua rekannya.
“Makasih ya Frank.. barangnya besok!...” Jagur sebagai bendahara Adwin mewakili suara sang ketua.
“Siiiip!!!!...” Franky dan kawan-kawannya senang, lalu pergi meninggalkan mereka.
“Gila anak-anak itu.. dikasih barang yang sudah dioplos padahal…” Ledek Yuna lirih, berjalan memasukki rumah Mawir mengekori Jagur dan Mawir yang menyusul Adwin.


(`´メ)9))
“!!!!..” Yuna melihati jalanan dari balik jendela kaca mobil, merasakan Adwin membawa laju mobil menuju Surabaya. Ada konser band luar negeri di Surabaya sebentar lagi dan Adwin berencana menjual barang-barang yang baru mereka rampas ke Distro milik anak rekannya yang di Surabaya. Nama orang itu Jojo, seorang musisi dan salah satu pesponsor konser metalhead underground disana.
Jagur, Deden, dan Mawir sudah pulas di belakang, Yuna melihati Handgun di tangannya lalu menoleh ke Adwin.
“Barang ini mau ditaruh mana?... kalau ada polisi gimana..” Yuna agak mengantuk.
“Itu Polisi…!!!...” Adwin agak panic. Yuna tidak melihat ke depan, dan tidak menyangka kalau ucapannya akan terjadi.
“Anj*ng.. terus gimana!!..” Yuna panic menyembunyikan handgun itu  di balik jaketnya.
Adwin memelankan mobil lalu putar arah dan berbelok ke arah lain.
“Kemana?...” Yuna melihati jalanan sesekali menoleh ke muka tegang Adwin.
“Gak tahu aku dek.. aku ikuti suara hatiku aja!..” Wajah Adwin sangat serius.
Yuna semakin panic karena Adwin berbelok ke jalanan terjal berbebatuan kecil apalagi di sekitar mereka kini hanya ada persawahan dan jalanan tanpa aspal, juga gelap. AC mobil menambah dingin, Adwin menenangkan diri dengan memelankan alunan music metal yang tergaung dari speaker active mobil.
Aku harap dia ngga nyasar.. moga aja dia lagi sambil nerawang…’ Yuna berfikir sejenak menenangkan diri dengan memegang handgun Adwin melihati jalanan.
Tibalah di jalanan beraspal lagi mereka kini ada di pertigaan.
“Surabaya itu kanan apa kiri?...” Yuna bingung, dia tidak tahu jalanan.
“Tebak yok!..” Adwin menoleh ke dua sisi arah.
“Kiri!!..” Yuna mantab. Adwin langsung gas ke kiri.
“…?.” Yuna penasaran.
Tak beberapa jauh kemudian Yuna melihat sekerumunan genk motor sedang berkumpul dijalanan.
“Tanya Dek!..” Tegas Adwin, anak jalanan tidak boleh takut dengan genk sebelah kota.
Adwin memelankan mobil, Yuna menurunkan kaca jendelanya.
“Maaf mas, mau numpang Tanya..!!..” Yuna menyiapkan handgun yang dia pegang di balik jaketnya.
“Nanya apa dek?!!..” Pria besar bertato dan berkalung rantai menghampiri dengan muka sangat kejam.
“Arah ke Surabaya mana ya om?...” Yuna sopan sambil menarik mukanya ke mobil karena takut, pria itu mendekati jendela.
“Serahkan barang kalian dulu kalau mau sampai ke Surabaya!!..” Gertak pria itu.
Ada sesuatu panas dari dada Yuna secara mendadak saat mendengar itu.
Yuna menaikkan kaki kanan ke seat lalu mengangkat badannya dan menggesar ke dalam mobil mendekati seat Adwin sambil menodongkan handgun dan langsung menarik pengait selongsong peluru, selongsong berputar.
“Mau main-main sama anak mavia bung!!..” Muka Yuna bringas.
“Halah pistol mainan!!!!.” Pria itu mau meraih senjata Yuna.
“DORRRRRRR!!!!..” Yuna langsung menembak tembakan hampir mengenai telinga pria itu, tangan Yuna tidak terhempas, begitu keras dorongan pelatuk mempelor besi keluar dari mulut launcer tapi Veraline membuat Yuna bisa seolah orang pro yang sudah akrab dengan handgun.
“!!!!!!.. ke.. kesana!!..” Pria itu mudur dari mobil, orang-orang mendekati.
“!!!!!..” Adwin langsung gas mobil tanpa ampun, satu orang tertabrak mobil dan terguling di jalanan. Pacuan mobil terus membakar aspal, mereka tidak terkejar.
“Sial!!!!!!!!...” Yuna nyengir kuda, mengambil rokok Adwin yang ada di desk dan menyalakan api, mengisapnya dalam-dalam.
“Santai.. mavia….” Adwin menenangkan.
“Mungkin kita dianggap masih anak-anak ingusan!!..” Dengus Yuna.
“Hahahahaha… Sebenarnya di laci masih ada Handgun lain..” Adwin santai.
“Oh.. iya ini jalan ke Surabaya koq.. hahahaha…. Kasihan peluru tadi kebuang..” Adwin meraih rokok sambil kesal.
(_)
Hentakan music dari mega sound system menyerang telinga dan jantung Yuna, membuatnya lupa akan kejadian kemarin malam. Tak disangka rencana Adwin berjalan mulus, kini uang ditangan mereka ada sekitar lima juta Rupiah. Dengan bangga dan puas kini anak-anak berandalan itu mengenakan busana baru dan menikmati konser kualitas internasional di Surabaya bersama para reka Adwin yang berduduk di Surabaya.
Saat hiatus tiba, MC menyela acara music keras itu dan membuat rekanan Jojo bisa mengobrol dengan Adwin sejenak membicarakan hal-hal basa basi. Saat itulah Yuna mulai melihati bulan purnama yang masih utuh.
“Suatu saat pasti masa seperti ini akan berakhir.. aku harus bisa melepaskan diri dari ini semua…”  Yuna mendongak, menyapa bulan.
“Kenapa ngomong gitu, Dek?..” Ternyata Adwin sedari tadi mendengarkan gumamannya.
“Eh!!.. anu.. itu…” Yuna buang muka.
“Hahahaha!!!...” Adwin menonjok lengan atas Yuna lalu memiting lehernya.
“Egh!!!!...” Yuna mendengus kesal.
“Mainanku masih di kamu kan?..” Adwin menggesekkan kepalannya ke kepala Yuna.
“Anj**g!! iya Pret!!...” Yuna kesal, kini dua Handgun ada di dalam jaketnya yang tersleting rapi menutupi dirinya. Terasa agak tidak nyaman tapi apa boleh buat, kalau di taruh mobil bisa bahaya. Sementara Adwin menyimpan satu lagi di dalam hoodynya, sama dengan cara Yuna menyimpannya. Seharusnya satu lagi dipegang Badak, tapi dia tidak mengenakan jaket. Dengan bodohnya malah menghadang air yang disemprotkan sampai mandi basah.
“Bego loe!! Masuk angin nyahok eh!!!..” Jagur mengejek sambil headbang lagi, music kembali memainkan intro.
“Siapa yang peduli dengan suatu hari nanti!!?.. lebih bagus peduli dengan orang-orang ini!!..” Adwin mendorong kepala Yuna ke depan sampai tertunduk.
“Argh!!!!!!..” Yuna mengambil tangan Adwin sambil headbang lalu membuangnya ke udara.
Adwin berlari ke arah koloninya dan lalu berpesta, menghempaskan badannya ke segala arah dia mampu, bertabrakan dengan badan rekan-rekan yang dia kenal sejak lama. Sementara Mawir bergoyang layaknya sedang di konser dangdut, Badak mengikuti.
“EH GOBLOOOK!!!!... Pelecehan!!!..” Yuna tertawa terpingkal-pingkal.


Lampiran Chapter 3





Lampiran Chapter 4