Ringkas
cerita :
Ini adalah cerita fiksi lainnya bagian
lain Alter Ego vs Alternative Escape
yang terjadi di tahun 2011 hingga tahun 2013 yang tidak di ceritakan author
di sesi sebelumnya agar tidak memperlama plot chapter awal. Cerita ini dinilai
memiliki konsep berbeda karena itu diputuskan untuk diletakkan di bagian
chapter belakang menyusul chapter yang akan diteruskan selanjutnya.
Yuna mengingat masalalunya yang penuh
dengan cerita abnormal selama mengenal sosok Adwin, kakak angkatnya yang
misterius.
Terima kasih sudah membaca ( ^___^)・~
Tahun 2013 pukul 19.00 WIB
…………………………………………………..
‘Hay..’ Sebuah pesan Yuna terima dari
sebuah akun, tanpa foto profil.
Malam minggu kali ini Yuna habiskan
hanya untuk online dan membuka lapak terawangan online di sosmed untuk melatih
intuisinya agar semakin tajam.
‘Ya..’ Yuna membalas, gadis itu
seperti biasa masih asyik berkomentar di grup metafisika di sosmed. Dia tidak
mempermasalahkan akun apapun yang tidak memiliki foto profil, sebab Yuna bisa
merasakan energy seseorang dari ketikan komentar mereka.
‘Sepertinya
dia besar sekali energinya, orang seperti apa dia ini…’ Yuna terperangah
merasakan energy akun Cookie Monster Kidd, benar-benar seperti monster pemakan
cookies.
‘Kakak kenal kak Adwin?..’ Akun itu
membalas lagi.
“PFFFFFFFFFFRTHHHH!!!!...” Yuna
hampir tersedak.
‘Orang
sialan itu bagaimana bisa dikenal orang sosmed yang mengetahui namaku di
sosmed!..’
‘Adwin?.’ Yuna masih shock.
‘Ngga kenal ya?
Padahal aku ingat kak Adwin pernah
menyebutkan nama Yuna..
Maaf kalau salah sambung ya kak!..’
“!!!!!!!!!???????????...” Yuna shock.
‘Eh! Tunggu dulu!..’ Tidak mau
melepaskan kesempatan untuk menggali informasi Adwin selama setelah mereka
berpisah, ini adalah kesempatan langka bagi Yuna karena Adwin menghilang begitu
saja.
‘Ya?..’
‘Adwin sudah lama tidak pernah online
dan kami sudah tidak pernah bercakap-cakap lagi..
aku pun tidak tahu kini dia ada
dimana..’
Akun bernama Cookie Monster Kidd,
tidak ada foto profilnya, terlihat dari chatbox avatar lalu entah bagaimana
sekarang berganti menjadi berfoto profil gambar beruang di luar angkasa.
‘Kak Adwin bilang mau ke Pekanbaru..
kakak datang dong..’
“EH!!!.. kalau tidak salah hari raya
idulfitri nanti keluargaku mengajakku ke Jawa lagi.. huftthh…” Yuna menghela
nafas penat.
‘Aku malah mau ke pulau Jawa nich..’
‘Begitu yach kak..’
Sejak saat itu Yuna dan akun itu
berteman, ternyata dia seorang anak kecil masih SD dan tinggal di Samarinda. Mengejutkan
sekali sebab anak itu memiliki bakat supernatural yang besar dan nyaris pernah
menyelakakan banyak orang dengan kekuatan emosionalnya yang bangkit akibat
trauma. Cookie Monster mengenal Adwin karena dia adalah sepupu Adwin dan
menyebutkan akun Yuna saat menceritakan bahwa dia punya seorang adik angkat dan
masih mengingatnya, Yuna terharu menyimak cerita itu dari akun Cookie Monster
Kidd.
Dua hari kemudian Yuna ke pulau Jawa
naik pesawat terbang untuk menjemput ibunya ke Sumatera. Perjalanan berjalan
normal hingga dua hari Yuna ada di kampung halamannya. Kini sampailah saat Yuna
duduk di dalam pesawat disamping seorang wanita Chinese yang cantik dan
glamour.
“….” Yuna melihati awan yang Nampak
di jendela, wanita Chinese itu duduk di sebelah kanannya dekat jendela.
“!!..
Kamu mau melihati langit ya?..”
Wanita itu ramah.
“Euh!... ma.. maaf mengganggu..” Yuna
menarik mukanya ke depan karena malu jika wajahnya yang tidak cakep dilihat
oleh wanita serupawan dia.
“Ya sudah kita tukaran seat yuk..”
Wanita itu tersenyum ramah.
“Ma.. maafkan saya.. tidak usah…”
Yuna mendengarkan suara wanita itu, terdengar nyaring dan lembut.
“Tidak usah begitu yach.. Sudah..
kemarilah..” Wanita itu berdiri.
Yuna pun keluar dari seat dan setelah
wanita itu duduk di seatnya, Yuna menduduki seat wanita itu.
“Te.. terima kasih..” Yuna langsung
memandangi langit langi.
“Hum.. hum.. nama kamu siapa..?..”
Wanita itu menyodorkan popcorn.
‘Ehh!!
Pop.. popcorn…?!..’ Yuna menoleh ke wanita itu, bibirnya yang berlipstik
merah mengembangkan senyum mengagumkan seperti bidadari turun dari bulan.
“Euh… Yu.. Yuna..” Yuna sangat
kebingungan, dia sangat takut dengan perempuan karena trauma di masalalunya.
Yuna selalu merasa dia tidak bakat berteman dengan perempuan di bumi ini, itu
karena Yuna tidak terbiasa membahas kesukaan cewek.
“Ellen.. panggil saja begitu
yach..!..” Wanita itu meletakkan bungkus popcorn di pangkuan Yuna.
“Terima kasih..” Yuna membuka
pelan-pelan bungkus itu karena tidak sopan jika menyimpannya setelah diberikan
untuk dimakan, apalagi dengan tersenyum seperti itu.
“Perasaanku tadi tidak enak banget
dech!...” Wanita itu melihati lampu pesawat.
“….?..” Yuna mengambil sebutir
popcorn dan memakannya pelan-pelan.
“Tapi setelah menyapa kamu koq aku
merasakan ketenangan yach..!..”
“!!!!
UHUKKKKKKK!!..” Yuna tersedak.
“E.. eh kamu kenapa?!!...” Wanita itu
memukul-mukul pelan punggung Yuna.
“Ti.. tidak.. I am fine.. xie xie…”
Yuna tersenyum canggung.
‘Setelah
menyapaku? Apa maksudnya!!..’ Yuna melanjutkan makannya pelan-pelan.
“Wu qe xi…” Wanita itu menjawab.
‘Untung
aku tahu bahasa Cina dikit-dikit.. huffth jadi ngga kelihatan bego banget dech
depan cewek sekeren dia, huahhhh..’
“Oh ya.. Yuna-chan.. kamu mau
kemana?..” Wanita itu terus memperhatikan Yuna.
“!!!.. E.. ke Pekanbaru..” Yuna
melotot canggung sambil tersenyum aneh.
“Hihi.. keganggu sama aku ya.. maaf
ya..” Wanita itu tersenyum lagi.
“EGH!!..
Ofcourse no!! don’t count at
all!!...” Yuna nyengir palmface.
“Entah kenapa loch.. kamu kaya punya
energy fengsui yang bagus.. aku bisa merasakan kenyamanan seperti sedang
berbicara pada keluarga aku sendiri.. itu bikin aku nyaman.. aku sudah tiga
tahun tidak berkomunikasi sama satu pun anggota keluargaku…” Wanita itu
blak-blakkan.
‘Dia
menceritakan itu, supaya aku tetap mau berbicara dengannya?.. supaya aku
memahami perasaannya?.. Atau.. mau ngehipnotis aku supaya bisa nyopet uang di
sakuku..’ Palmface Yuna.
“Bukankah.. orang Chinese itu
mengutamakan keluarga diatas segala-galanya.. Keke…” Yuna hendak menyindir ketidak
masuk akalan wanita itu.
“Ellen.. kan sudah dikasih tahu
namaku..” Wanita itu tersenyum hangat.
“Iya.. Keke Ellen..”
“Hu-um.. ibuku sudah meninggal dunia,
Yuna-chan.. aku suka ala-ala Japanese gitu malahan dibandingkan Chinese.. hihi
aneh ya..!...” Ellen tersenyum polos seperti anak kecil.
‘Cantik-cantik
aneh.. bukannya orang Chinese seharusnya membanggakan rasnya karena mereka
terkenal cerdas, pekerja ulet, tangguh dan memprioritaskan keluarga yang
solid.. dia manggil aku Yuna-chan, berarti dia mau dipanggil neesan gitu kan..’
Yuna masih skeptic.
“Ellen-neesan.. batu liontinnya
bagus.. itu Kristal ya?..” Yuna mengambil popcorn, bermaksud basa-basi agar
tidak terlihat angkuh dan bodoh dengan muka Yuna yang kalah cantik dengan Ellen.
“Iya ini Kristal, auranya itu loch..
unyu-unyu.. di dalamnya ada seekor perinya loch.. kamu percaya sama peri?..” Ellen
memegangi liontinnya lalu menoleh ke Yuna.
“!!!?...” Yuna mengamati muka Ellen
yang seperti anak kecil.
‘Wanita
ini.. blak-blakan sekali..’
“Iya percaya, berapa umur neesan?..”
Yuna membuka tutup minuman mineral di kantong seat depannya.
“Dua puluh delapan tahun..” Ellen
menghela nafas, mungkin merasa sudah semakin tua. Tetapi faktanya dia terlihat
masih 23 tahun dengan tingkah childishnya itu.
“Ternyata neesan percaya sama
ghaib-ghaib semacam itu juga ya..” Yuna meminum mineralnya.
“Coba lihat itu!! Itu namanya tongkat
penyeimbang bumi!!.. ada tujuh di dunia ini, tetapi sepertinya itu tongkat
iblis deh… aku salah lihat!!” Tiba-tiba Ellen menunjuk ke jendela.
Yuna menoleh ke arah jendela dan
begitu shock, ada hamparan laut dan daratan mulai terlihat, diatas daratan tak
jauh dari tepi pulau itu ada sebuah tiang menjulang ke angkasa berwarna merah
terlihat dari kejauhan.
“Itu.. itu……..” Yuna masih
tercengang.
“Kamu bisa melihat hal ghaib
juga!!?..” Ellen tiba-tiba memeluk Yuna.
“!!!!?..” Yuna masih melihati tongkat
raksasa itu.
’Mungkin
kah pesawat jatuh karena melewati tongkat ghaib itu!!!..’ Yuna berfikir.
“Semoga saja pesawat ini baik-baik
saja.. aura yang mengitarinya seperti tornado energy jahat!!!...” Wanita itu
memeluk Yuna sangat erat. Sementara mata ke tiga Yuna tidak bisa melihat
tornado energy jahat yang mengitari tongkat itu, Yuna hanya melihat tongkat itu
saja.
“Minta nomor telfon neesan yah..
sebentar lagi kita mendarat.. kita doakan saja semoga bandara penerbangan di
Medan di pindah ke tempat lain jadi ngga rawan melewati tongkat itu lagi..”
Yuna memegangi tangan Ellen.
(pada tahun 2015 kemudian bandara di
kota Medan dari Polinia di pindah ke Kualanamu)
“Ma!! Kamu turun di Medan? Ngga di
Pekanbaru?..” Ellen melepaskan pelukannya lalu bermuka sedih dan kecewa seolah
sudah mengenal Yuna bertahun-tahun dan enggan melepaskannya.
‘Wanita
ini?..
Makanya ajak
ngobrol dari awal take on lah.. udah mau take off gini baru ngajak ngobrol..
Hahaha….’ Baru ini Yuna menemukan
wanita baru kenal seperti ini terhadapnya.
“Tenang saja… kita akan bertemu
lagi.. aku akan ke Pekanbaru..” Yuna tersenyum tipis, masih belum tahu harus
merespon dengan perasaan seperti apa kepada Ellen yang kini dilihatnya mulai
berkaca-kaca.
Ellen membuka tas kecilnya lalu
merogoh ponselnya sambil terisak-isak.
‘!!!!!!!!!?...
Uh…?...’ Yuna heran dengan Ellen.
“Perasaanku sedih sekali…” Ellen
menyodorkan ponselnya, ada nomor Ellen di monitor.
“…” Yuna mengambil ponsel di sakunya
lalu mencatat nomor Ellen.
“Aku akan menelfon nanti malam…” Yuna
tersenyum hangat.
“….” Ellen mengangguk melihat Yuna
lalu mengelap matanya.
“…” Yuna menyodorkan ponsel Ellen.
“!!!!...” Ellen memegang tangan Yuna.
“Mungkinkah kamu reinkarnasi
seseorang yang dekat dengan aku di kehidupanku yang lama..” Ellen tersenyum
haru pada Yuna.
“Tidak mungkin.. aku meninggal karena
sebuah bom saat masih anak-anak.. itu ingatan terakhirku.. memang aku pernah
menjadi seorang laki-laki tapi aku yakin bukan kekasihmu…” Yuna memalingkan
muka ke arah lain.
“Mungkin bukan suamiku atau
istriku..” Ellen mengambil dagu Yuna dan menghadapkannya ke muka Ellen.
‘Wa..
wanita ini kenapa menangis begitu!!...’ Yuna terbelalak melihati muka Ellen
sekarang, make upnya menjadi berantakan.
“Mungkin saja kau pernah lahir
sebagai anakku…” Ellen mengusap pipi Yuna.
“Anak?.....” Yuna terbengong.
“Mohon perhatian, pesawat kita akan
segera mendarat, mohon perhatian..”
Suara pengumuman tiba-tiba memudar
tidak terdengar karena Yuna kehilangan kesadaran dan tenggelam dalam projeksi
yang kini memenuhi alam sadarnya.
“!!!!!!!.. Ayo turun!!!...” Suara
kakak Yuna terdengar.
“Eh!!! Iya…!!!.” Yuna menyahut.
“Ya sudah Neesan.. sampai jumpa
yah!!!..” Yuna menoleh ke Ellen yang sudah berlinangan air mata.
Yuna berdiri, menepuk lembut bahu Ellen
lalu meninggalkannya. Yuna berjalan menuju tangga pesawat dan melihat punggung
ibu kandungnya tengah berjalan di bawah sana digandeng abang iparnya.
‘Ibuku…’
Bagaimana perasaan saat logika
menguasai, tetapi kemudian Yuna menoleh ke belakang saat ada antrian ngadat
untuk turun, Ellen melihatinya dengan tangis lalu tersenyum tipis.
“…” Yuna tersenyum tipis.
“Aku akan menelfon!.. aku janji!..”
Yuna berbicara agak keras dengan senyum hambar masih tidak tahu harus
berkomentar apa. Tapi hatinya lega saat bisa membuat Ellen menganggukkan
kepalanya dan melambai pelan.
‘Ibu yang
cantik…’
Yuna menuruni tangga pesawat dengan perasaan aneh, antara logika yang menolak
dan hati yang mengasihani.
(^ω^)
Akhirnya sampai juga di rumah, Yuna
membanting diri ke bed setelah selesai membantu keluarganya mengemasi barang
dan lain-lainnya. Mereka sampai di rumah pada waktu malam hari sekitar pukull
sebelas malam.
“Dadaku.. rasanya sakit.. seperti
sedang merindukan seseorang.. hahaha…” Yuna membuka ponselnya.
“Aku tahu bukan aku yang kangen
kamu..” Yuna mencari nomor telfon Ellen di daftar kontak lalu memencet tombol
‘Call’.
“Tapi kamu lagi kangen sama aku
kan?...” Yuna meloud speaker karena tidak suka menunggu proses penerimaan
panggilan dari penerima panggilan.
“Halo…” Suara Ellen terdengar.
“Kenapa suaramu begitu?..” Yuna
nyengir kuda.
“Yuna-chan!!!!!!!...” Suara Ellen
yang lemas berintonasi agak naik dan seperti ada desahan nafas lega.
“Aku pikir kamu lupa sama aku..”
Suara Ellen parau.
‘….’ Yuna trenyuh.
“Sebegitu berharga kah aku?.. kita
kan baru kenal..” Yuna meletakkan telfon di bantalnya, dekat wajah Yuna.
“Sangat!!!.. sangat amat sangat!!..” Ellen
terisak-isak.
“Hehe.. aku belum mati koq..” Yuna
cengengesan.
“Jangan bilang begitu lagi dong!!!
Aku bisa mati mendengarnya!..” Ellen menangis.
“….?..”
“Kalau masih nangis aku matikan
telfonnya yach..” Yuna nyengir jahat.
“I..iya… Janji ngga akan nangis lagi,
sayang..”
‘…..
Sayang…?...’
Yuna
tersenyum tipis, terharu. Gadis tomboy itu masih belum bisa menerima logika
yang Ellen sampaikan dari caranya beremosi seperti itu. Tapi hanya ada rasa
kasihan jika ternyata Ellen hanya sedang terkena ilusi.
“Coba ceritakan kehidupan masalalu
kamu..
Eh.. tapi aku akan ceritakan masalalu
aku dulu ya.. di kehidupan sebelumnya..” Yuna menyadari, mungkin saja hanya
jiwa orang dulu yang menitis, maka Yuna memiliki memori jiwa orang itu, tetapi
gaya bahasanya Yuna rubah agar tidak menyakiti hati Ellen.
“Iya.. Sayang.. mama mau dengar..”
Suara Ellen serak basah, sexy dan lembut, membuat Yuna merinding.
‘Sial!!!!!!!!!!!...’
Yuna palmface.
“Aku dulu..
Kisah terakhir saat masih hidup
sebelum mati di masa lama..
Saat itu aku berusia sekitar enam
atau lima tahun..
Aku hidup di daerah Belanda..
Waktu itu aku bermain di lapangan..
entah ada perayaan apa.. katanya sih ada yang berhasil dan membuat Negara
Belanda kaya..
Tetapi kemudian ada bom jatuh dan meledak..
Dan aku mati.. tapi sebelum aku
mati.. aku bertemu seorang anak laki-laki lebih tua dari aku.. mungkin usianya
delapan tahun atau tujuh tahun..
Dia menggandengku untuk berlari
sesaat sebelum terpental dan terbakar..”
“Srrrlpp.. huh… …” Ellen sepertinya
menangis lagi.
“Kenapa?..” Ellen bingung harus
bicara apa.
“Dulu.. aku punya dua anak.. anak
yang pertama itu cowok..
Aku disuruh nikahin bapaknya karena
keluarga aku kelilit hutang.. dia kaya banget.. dari pernikahan itulah anak
cowok itu lahir.. tapi kemudian aku minta cerai paksa ke suamiku itu..
Aku tahu dia ngga akan tanda tangani
naskah perceraian kami, maka itu aku kabur dan ninggalin anakku dirumah pria
itu.. aku kabur ke desa.. aku mau menemui kekasih aku yang dulu aku kenal sejak
kecil.. kami bersahabat sejak kecil..
Tapi ternyata dia sudah bekerja di
kota.. aku ngga menghubungi keluargaku sama sekali.. aku balik lagi ke kota
mencari dia, dan ketemu.. dia bekerja di kepemerintahan.. tetapi menentang
kebijakan pemerintah..
Posisi kehidupanku saat itu juga
sedang di Belanda..
Dia berbeda dengan suami aku yang
pertama, membela pemerintah Belanda..
Lama sekali aku membuntuti pacarku
yang aku tinggal nikah itu, aku takut jika dia sakit hati karena aku tinggal
pergi begitu saja tanpa kasih kabar selama tiga tahun..
Sedih sekali.. aku tidak bisa
melupakan dia..
Dia bertemu denganku saat aku memaksa
berjumpa dengannya..
Sejak itulah kami sering janjian..
dan dia pun melamar aku.. aku tidak tahu pria yang menikahi aku itu sudah
menandatangani nasakah perceraian atau belum tapi aku tidak peduli.. aku
menerima lamaran kekasihku dan dari pernikahan itulah lahir anak perempuan..
Suatu hari.. ada bom yang meledak dan
merenggut anak perempuan dan suamiku..”
“Ngga Cuma itu, disisi lain aku juga
mengalami penglihatan di sisi kehidupan lain..
Tapi di saat itu aku melihat bulan
seperti ada tiga lalu dibelah sama pesawat angkasa.. space mothership gitu..
tapi itu bulan apa pesawat ya?.. aku dikelilingi orang gitu..”
“Futuristik kan? Aku juga ngga tahu
deh.. masa sih kiamat itu ada beberapa kali…” Ellen.
“Ah.. itu di dunia ghaib kali..
kehidupan di dunia ghaib..” Yuna tidak mau ambil pusing.
“Mungkin kah anak perempuanku itu
kamu?..” Nada Ellen lembut.
“Iya mungkin saja, tidur sana.. aku
temani yach.. aku capek.. dua hari lagi ke Pekanbaru.. jadi.. kita bisa ketemu
disana nanti..” Yuna sudah bernada ngantuk.
“Iya.. selamat malam Yuna-chan…” Ellen
tertawa kecil.
Yuna menutup telfon.
“Huhfth…” Yuna membuka akun
sosmednya.
‘Kakak kemana? Kenapa ngga balas
pesan aku lagi?.. kakak sudah tidak mau kenal aku lagi?’ Pesan dari Cookie
Monster Kidd.
‘Bukan gitu dek, kakak baru sampai
rumah, kan kakak sedang sibuk melakukan perjalanan dek..
Oh ya,
kakak kenal sama seorang cewek, dia
yakin banget kalau kakak ini anaknya di kehidupan yang lama, masa sih
reinkarnasi itu ada dek?..’
‘Dia punya akun sosmed ngga kak? Aku
mau tau..’
‘Iya, bentar aku tanyain dia..’
Yuna mengirim SMS pada Ellen, ‘Mama
punya akun sosmed ngga?..’
‘Ngga punya Yuna-chan..’
‘Ya sudah nanti aku buatkan akun
untukmu ya.. buat ngehubungi aku kalau nomor HP ku ganti bisa cari aku di
sosmed nantinya..’
‘Iya, sayang… bobo gih sudah malam,
sayang.. peluk cium buat Yuna-chan..’
“Hufthhh…….” Yuna agak geli juga
diperlakukan seperti bayi besar begitu.
(·
´ ▽
` )ノ
‘Dek.. kakak sudah ada di Pekanbaru
nich.. kamu dimananya?.. kata Cookie kamu di Pekanbaru juga?.. Besok kakak mau
ke Jakarta lho.. ngga ada waktu buat kita ketemu..’ SMS dari nomor tanpa
identitas.
“Gimana cara bikin SMS kayak gini
ya?.. Ini Adwin apa Rhean?..” Yuna masih di salon sedang memotong rambutnya
setelah tadi bertemu dengan Ellen di Mall untuk makan siang di sebuah kafe yang
ada di sana.
“Aku di Mall QueenMart kak..” Yuna
nyengir kuda, mengingat Cookie Monster Kidd pernah mengatakan Adwin mau ke
Pekanbaru, tapi Yuna sama sekali tidak mempercayainya. Yuna bisa ke Pekanbaru
juga karena keluarganya ternyata meminta ibu Yuna untuk berkunjung ke Pekanbaru
menemui keluarga yang sedang sakit, ini semua serba kebetulan sehingga Yuna
bisa memanfaatkannya untuk bertemu Ellen.
“Yuna-chan mau diwarnai juga ngga
rambutnya?..” Ellen yang mentraktir Yuna nyalon rambut hari ini blak-blakkan
aja memanjakan putri reinkarnasinya.
“Iya, mama..” Yuna tersenyum ramah.
“Bentar ya sayang.. temen mama sudah
datang..” Ellen menjauhi Yuna, pelayan salon membersihkan Yuna dari
rambut-rambut. Yuna mengekori kemana arah Ellen pergi.
Terlihat Ellen membuka pintu kaca,
menyapa seorang perempuan mungkin seusianya dengan rambut bob yang keren,
cipika cipiki.
“Mesra amat, merangkul gitu kayak
orang lesbi..” Yuna palmface.
Telfon Yuna berdering dari pemanggil
tanpa nomor.
“Halo..” Yuna sedang beranjak bersiap
untu dilumuri cat pada rambutnya, pelayan salon sedang mempersiapkan
keperluannya.
“Adek dimana sih koq ga balas SMS
kakak!..” Suara pemuda mengamuk manja.
“Tolol!! Ngga ada nomornya!! Kamu
make operator VIP!!..” Yuna mengumpat tidak mau kalah setelah mengenali suara
siapa yang berbicara dengannya lewat telfon. Jantung Yuna berdebar-debar
tiba-tiba masih belum bisa mempercayai kejadian ini semua.
“Eh!! Hahahaha!!! Iya-iya princess
Elisabeth!!.. kamu dimana say?!..”
“Najis!!!!!!!!!?... lu berubah
setelah ke Aussy, Kak!!!!!?....” Yuna palmface parah.
“Hahaha!.. lets go on me, baby.. aku
jemput dech!..”
“&^%&#%^&%!!!!!!!!!!!!!...”
Yuna tidak habis fikir, Adwin yang dingin bisa selebay itu.
“Aku di Mall QueenMart! Lagi nyalon,
bentar lagi deh kak..!!..” Yuna palmface.
“Iya!!.. kamu di salon saja aku
datang bentar lagi..”
“!!!!!!!!!!!!?...” Jantung Yuna terus
berdegup laju, masih tidak percaya.
Ellen menghampiri Yuna yang rambutnya
sedang diolesi cat rambut.
“Ini Yuna-chan…
Kenalin ini Katrina.. pahlawan saya
hihihi..” Ellen tersipu dengan senyumnya.
“…” Yuna tersenyum menjabat tangan
Katrina yang keren dengan busananya yang fashionable itu, sepertinya dia orang
kaya.
“…” Yuna tertegun.
“Aku akan dijemput sama abangku dia
lagi di jalan.. kalian mau kemana abis ini?..” Yuna kini sudah dilumuri cat pada rambutnya dan sebentar lagi tinggal
duduk menunggu.
“Bukannya seharusnya kita habiskan
waktu bersama..” Katrina sepertinya lebih percaya diri dalam bergaul, dia cepat
mengakrabkan diri dengan Yuna, wanita Chinese itu juga terlihat lebih tomboy
meski memakai sepatu cewek dan rok setengah paha.
“Kalian Lesbian ya? Kalian
pacaran?..” Yuna tidak bisa menahan diri, dia sudah tidak asing dengan dunia
Lesbian di masalalunya selama di jalanan dengan Adwin. Yuna tidak peduli jika
pelayan salon mendengar, Yuna yakin Ellen tidak berlangganan salon disini sebab
tidak mengajak pelayan salon disini mengobrol sedari tadi, jadi tidak masalah
kalau percakapan mereka terdengar atau tidak, toh Yuna tidak akan kesana lagi
setelah ini.
“Koq tahu, kamu bisa mengenali cewek
lesbian dan cowok gay ya?.. hihi..” Katrina menoleh pada Ellen.
“Soalnya.. Mama melihat kamu dengan
cara berbeda..” Yuna melihati wajahnya di cermin, Ellen melihatnya dari cermin
dengan senyuman.
“Kalian benar-benar mirip..” Katrina
menyilangkan lengannya dengan tertawa kecil.
“Hehehe..” Yuna bingung harus apa,
mereka berdua menepi dan duduk di ruang tunggu.
Akhirnya rambut Yuna sudah selesai
dilumuri cat, Yuna menunggu dengan bercakap-cakap online dengan teman-temannya.
Kemudian Ellen datang lagi setelah
pelayan salon menghampiri Yuna lagi untuk membilas rambut Yuna.
“Mbak, coba di blow keriting.. mau
lihat dia jadi manis kaya boneka..” Ellen meminta pada pelayan salon lalu
bergegas pergi menuju Ellen lagi.
‘Gila..
aku beneran kaya princess.. mana Adwin tadi memanggilku begitu di telfon.. aku
jadi merasa kalau hari ini aku terlahir jadi karakter berbeda..’ Yuna
menghela nafas pelan dan bingung harus berkomentar apa hari ini, bertubi-tubi
semua terjadi secara ajaib.
Kini Yuna sudah siap dikeramasi dan
sedang diblow up.
“Dek!!..” Suara Adwin tiba-tiba
terdengar.
“^&%&^^^&!!!!!..” Yuna
menoleh ke sumber suara.
Nampak Adwin membuka pintu kaca salon
di mall itu dan menuju kepada Yuna, Ellen dan Katrina memandangi Adwin, Yuna
menoleh ke kaca agar bisa melihat mereka yang ada di belakang Yuna dengan
praktis karena sedang dilayani.
“Kakak duduk saja dulu, dua wanita
itu.. mereka kenal sama aku.. ngobrol aja dulu..” Kata Yuna setelah Adwin
menghampirinya sambil bercermin.
“Iya..” Adwin berlalu dan duduk dekat
wanita-wanita Chinese di belakang sana, di ruang tunggu.
“….” Yuna melihati mereka bertiga
bercakap-cakap, terlihat akrab dan saling melempar senyum ramah. Yuna tersenyum
tipis.
Kini sudah tiba saatnya Blow up
rambut Yuna selesai. Yuna berdiri dan berjalan menuju mereka bertiga.
“Ayok lah..!!!..” Katrina memakai
kacamata hitam berbingkai putihnya sambil berdiri.
“Kemana?..” Yuna mengenakan jaketnya
yang tersampir ke kursi tunggu dekat tas Ellen.
“Adwin mengajak kita ke
Waterpark!!...” Katrina merangkul Yuna, selayaknya seorang ayah gemas pada
anaknya.
“Yuna…” Adwin melongo melihati Yuna.
“…..!!!!!!!?...” Yuna malu
sejadi-jadinya, untuk pertama kalinya Adwin melihati Yuna dengan tatapan penuh
perhatian dan keheranan seperti itu.
“Ternyata kamu beneran bisa jadi
cantik yach..” Adwin menoyor jidat Yuna.
“!!!!!..” Yuna sungut. Lega rasanya
jika Adwin seperti itu lagi, dia paling geli jika melihat Adwin lebay seperti
barusan. Lebih baik jika melihat Adwin jahat dan dingin terhadapnya.
“Adwin bawa mobil ngga?..” Katrina
membawakan tas cantik milik Ellen. Dan Ellen merangkul lengan Katrina dengan
mesra, mereka semua berjalan menelusuri mall bersiap ke parkiran mobil.
“Engga, naik taxi tadi ke sini..”
Adwin berjalan memasukkan tangannya ke kantong celana.
“Kalau gitu naik mobilku aja yach..”
Katrina menikmati momen digandeng Ellen yang tersenyum sangat bahagia. Mereka
berjalan di belakang Yuna sementara Adwin di depan Yuna.
“….” Yuna tersenyum tipis menahan
perih, entah perasaan apa ini.
‘Aku
tidak suka.. entah mengapa.. aku seperti orang-orang keren ini..
Kak Adwin
dengan busana kasualnya yang bermerek mahal gitu..
Ellen dan
Katrina jelas-jelas pakai baju mahal dan sepatu mahal.. tapi aku tidak bahagai
dengan baju yang dibelikan Ellen ini.. sepatu ini.. Ellen dengan kekasihnya
Katrina.. menganggapnya pahlawan.. dan Adwin datang dari Aussy.. menyempatkan
diri bertemu aku.. dan perhatian sama aku setelah sekian lama.. dia berubah..
Aku benci!.. aku tidak suka!.. padahal aku sudah cantik dan pakai baju mahal
yang dibelikan Ibu reinkarnasiku.. tapi!.. aku tidak suka..” Yuna melihati punggung
Adwin yang berjalan di belakangnya dan terus memutar-mutar fikirannya,
keluhannya dia ulang-ulang terus dalam kepalanya tanpa henti.
‘Kenapa
kau berbeda.. kau berubah.. aku tidak suka..’ Dalam dada Yuna terasa sesak,
Adwin berjalan santai dan Yuna tetap melihati punggung Adwin.
“!!!!!!?..” Adwin mengulurkan
tangannya ke belakang kepada Yuna tanpa menoleh ke belakang melihat Yuna.
“Aku tidak berubah…” Adwin meraih
tangan Yuna, menoleh pada Yuna.
“!!!!?..” Yuna merasa sangat
terkejut, seolah Adwin kini memiliki kekuatan baru yang bisa membuatnya
mendengarkan suara hati Yuna.
“Aku tidak akan berubah!..” Adwin
tersenyum.
“!!!!!!!!!?...”
“!...” Adwin mempererat gandengannya.
Jalan yang kini dirasakan Yuna,
langkahnya semakin berat. Ada kesedihan mendalam yang entah apakah itu. Dia
sangat membencinya, sangat membenci perasaan yang tiba-tiba muncul itu. Tidak
ada rasa suka sama sekali. Yuna mencari-cari sebenarnya perasaan apakah itu,
yang dia benci. Yuna melihati tangan Adwin yang menggandengnya sangat kuat.
Kekuatannya tidak berkurang sama sekali.
Adwin yang dulu dia patuhi dan
takuti, kini dia memperhatikan Yuna. Ibu reinkarnasi yang ber-uang banyak
memanjakannya dengan apa saja. Sisi mana yang Yuna tidak sukai?..
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Semenjak kita berpisah, aku melatih
sisi bakat supernaturalku kak..
Aku tumbuh menjadi lebih kuat lagi..
aku ingin seperti kakak.. melindungi siapapun.. aku ingin bisa menjadi seperti
kakak.. diandalkan banyak orang..” Mata Yuna dibalik kacamata milik Katrina
sudah berkaca-kaca, gadis itu duduk disamping Adwin diatas kursi pantai putih
di pinggir kolam renang dimana kedua perempuan yang dia kenal sedang
bersenang-senang.
“Kakak menjijikkan ya?..” Adwin
memegang bahu kiri Yuna, Yuna menoleh kepada Adwin dengan lemas.
“Tidak..” Yuna menjawab dengan rasa
mengambang, merasa bahwa Adwin mungkin ingin diperhatikan Yuna dan membuat Yuna
agar menoleh kepadanya.
“Maafkan kakak!!!..” Adwin
menghentakkan kaki kanannya ke lantai.
“!!!!?..
Kenapa semarah itu??!..” Yuna tidak
habis fikir.
“Disaat kamu berusaha!!.. kakak justru
menghabiskan waktu di Aussy untuk melakukan banyak hal bodoh!!..” Adwin
membuang muka.
“….” Yuna menyisihkan rambutnya ke
telinga, tidak ambil pusing. Dia sudah memahami watak keras kepala dan angkuh
hati Adwin, itu hal biasa.
“Itu sudah jalanmu.. dulu aku mati
karena sebuah bom.. dan Ellen adalah ibuku di kala itu…” Penuturan Yuna
membuatnya menoleh dan menyimak Yuna.
“Sebelum aku mati.. sesaat sebelum
bom itu menewaskanku.. aku bertemu seorang anak laki-laki.. dia menggangdengku
hingga nafas terakhirku..” Yuna menitikkan airmata, dia memegang tangannya
sendiri.
“…” Adwin menatap Yuna dengan mata
iba.
“…” Yuna menggigit bibirnya.
“Aku mencari-cari perasaan apa yang
aku benci barusan saat kamu datang padaku.. saat kamu menggandeng aku!!.. itu
..” Yuna menangis, bahunya terguncang.
“A… Adek..!..” Adwin memegang tangan
Yuna.
“Aku..
Itu tadi pertama kali kakak berjalan
menggandeng aku dan..” Yuna sangat terguncang.
“Adek!!!..” Adwin menjatuhkan
lututnya, menarik badan Yuna dan memeluknya sangat erat.
“Semenjak kenal Ellen, aku jadi
sangat peka dengan memori kehidupan masa lampau.. aku jadi cengeng kak!! Aku
malu!..
Aku sudah menganggap anak laki-laki
itu kakakku.. dan aku tidak bertemu dengan dia hingga di kehidupan saat ini..
kini aku mengerti perasaan Ellen saat dia tidak mau kehilangan aku lagi..” Yuna
meraih pinggang Adwin.
“…” Adwin hanya diam, detak
jantungnya terasa oleh Yuna, Adwin sangat berdebar-debar.
“Saat aku menggandeng tangan kakak..
Rasanya aku seperti ingat.. bagaimana
cara anak laki-laki itu menggandeng tanganku kak..
Sekarang aku tahu perasaan apa yang
aku benci!!..”
“Adek!!!..” Adwin meletakkan tangan
kanannya diatas kepala Yuna.
“Perpisahan!.. aku benci perasaan
itu.. aku tidak bisa mempertahankan kalian semua.. saat ada Ellen dan kakak..
perasaan itu membabi buta menghantam emosiku!!..” Yuna memeluk Adwin sangat
erat, tidak peduli seperti apa terhormatnya Adwin di masalalu, sejauh apa
sebenarnya mereka dulu, hubungan yang kaku antara ketua dengan anak buahnya.
“Kau kan adekku!!..” Adwin mendorong
kedua bahu Yuna dan menatapnya dengan mata berlinang air mata.
“!!!!!!!!...”
‘Ke..
kenapa dia… kenapa menangis..?..’ Yuna melepaskan kacamata milik Katrina
yang dia pinjam.
“…” Adwin tersenyum, airmatanya
menitik pelan.
“Kakak menemuimu hari ini.. agar bisa
bertemu dengan Ellen juga.. kita bertiga!..” Adwin mengusap pipi Yuna.
“…?!!!.” Dentuman emosi di hati Yuna
meledak.
“Diam-diam.. kakak sering chat dengan
Ellen.. kamu bisa baca chat kami…” Adwin merogoh kanton celananya lalu
mengeluarkan smartphonenya dan cepat menyodorkan kepada Yuna.
“….” Yuna meraih smartphone itu lalu
melihat monitornya, sudah masuk di inbox akun sosmed Adwin, kakaknya itu tetap
saja masih berbakat untuk mencari segala informasi dengan cara apapun, selalu
lebih cepat dari angin dan petir untuk mencari jawaban, tiba-tiba ada rasa puas
dan bangga untuk mengenal Adwin.
“……?..” Yuna menscroll ke atas.
“Kakak tahu dari Cookie Monster
Kidd..” Adwin mencubit keras pipi Yuna.
“Uch!!..” Yuna menahan sakit dengan
muka datar dan penasaran, benar bahwa di monitor itu ada nama akun yang Yuna
buat untuk Ellen.
“Astaga….” Yuna terbelalak.
‘Kamu ibu rainkarnasi Yuna?’ Adwin.
‘Iya.. ini siapa yach?’ Ellen.
‘Di masa hidupku yang usang..
Aku mati karena sebuah bom, sambil
menggandeng seorang anak kecil perempuan..
Sebelum meninggal dunia, aku adalah
anak seorang insinyur penerbangan..
Ibuku meninggalkanku sejak kecil..
Aku terus saja memimpikan itu sejak
aku masih TK.. sampai sekarang..
Apa kamu juga mengalaminya?..
Aku mau minta solusi..’ Adwin.
‘Benarkah kamu anakku?...’ Ellen.
‘Apa?..’ Adwin.
‘Yuna juga menceritakan bahwa dia
tewas karena ledakan bom dan menggandeng seorang anak laki-laki.. suamiku
menyusulnya tetapi ikut tewas dalam ledakan itu..’ Ellen.
‘Suami?..’ Adwin.
‘Aku memiliki dua suami, anak pertama
aku tinggal dengan suamiku.. dan Yuna adalah anak kedua dari suamiku yang
terakhir..’ Ellen.
‘Kenapa kau meninggalkanku!!!’ Adwin.
‘Maafkan ibu, nak..’ Ellen.
‘Aku tidak bisa memaafkanmu!!!.’
Adwin.
‘Ibu mohon maafkan ibu.. aku tidak
bisa membesarkanmu…’ Ellen.
‘Kau egois. Aku benci kamu.’ Adwin.
‘Siapa kamu? Ayo bertemu.. aku di
Pekanbaru.. Yuna juga akan datang ke Pekanbaru.. besok dia sampai disini..’
Ellen.
‘Aku sudah di Pekanbaru.. ada
pekerjaan dan tiga hari lagi akan ke Jakarta..’ Adwin.
‘Ayo kita ketemu, ibu bisa
menjelaskan semuanya.. ini nomor telfon ibu.. +62XXXXXXXXXXXX telfon saja
sekarang jika perlu.. ibu akan jelaskan semuanya, sayang maafkan ibu…’ Ellen.
‘Tidak akan aku maafkan.’ Adwin.
‘Ibu akan bertemu Yuna, datanglah..’
Ellen.
‘Aku akan menemui Adikku, bukan kamu.
Sekalipun melihatmu, aku tidak akan peduli padamu.’ Adwin.
“………!!!!!!!!!!!?????!...” Yuna
terbengong, tidak percaya dengan semua yang terjadi.
“Ini kah takdir?..” Adwin melihati
Yuna dengan raut kusut.
“…” Yuna tersenyum hambar.
“….Kakak berjanji seumur hidup akan
menjagamu dari kejauhan..” Adwin tersenyum sedih.
“Ellen tidak mencintai ayahmu,
mungkin saja dia tidak ada uang untuk membesarkanmu..” Yuna mengingat anak
laki-laki yang menggandengnya sempat memainkan miniature pesawat, berlari
dengan tawa lebar mengangkatnya ke angkasa dan berlari-lari kecil, mengitari
Yuna kecil di tengah keramaian. Jika Adwin tidak dibesarkan pria itu, mungkin
saja Adwin tidak akan pernah sebahagia itu.
“Kakak tidak mau tahu!!.. Hidup kakak
terkutuk.. ayah dan ibu kakak di kehidupan yang sekarang pun sedang terpisah..
kini hanya ada kamu..” Adwin mencubit pipi Yuna.
“Kakak sangat ingin punya adek
perempuan…” Adwin menunduk.
“Dulu aku mengejarmu yang bermain
pesawat sambil menarik sebuah balon, kamu ingat itu?.. kamu ngga akan bertemu
aku saat itu jika ibu ngga cerai sama ayah kamu dan menikah dengan ayahku..”
Kedua tangan Yuna mencubit pipi Adwin dan menariknya, melar. Adwin mengangkat
kepalanya lagi sambil tersenyum dingin dan kaku.
“Aku tidak mau tahu!!!..” Adwin
menarik kepala Yuna dan mencium kening Yuna.
“%^&$%^*$^&#!!!!!!!!!!!!”
Yuna cepat-cepat menarik kepalanya lalu menoyor jidat Adwin.
“Kamu berubah!! Kamu bilang kamu
tidak akan berubah!!! Kamu menjijikkan! Aku geli!!..” Yuna menggosok-gosok
jidatnya.
“…” Adwin tersenyum tipis.
“Kamu bisa telepati dengan kakak
kalau kamu berfikir keras soal kakak mulai sekarang..” Adwin meletakkan
tangannya di depan kepala Yuna, menutupi jidat Yuna.
“I IYA LOH KOQ TADI BISA GITU
YAH!!..” Yuna teringat.
“Sepenuh hati dan fikiran! Pasti
bisa!! Karena kita sudah terhubung sejak awal!!..” Adwin tersenyum tipis.
“… menjijikkan..” Yuna bernada datar
tidak habis pikir.
“Bagaimana dengan Clara?.. kakak
masih suka bertransformasi jadi kecewekkan?..” Yuna melihat Adwin berdiri dan
duduk di bangku santainya lagi menghadap Yuna.
“Masih.. tapi kakak yakin ngga
apa-apa..
Selama kakak di Aussy.. kakak makin
playboy.. suka berfoya-foya.. kakak sering frustasi.. melihat kamu jadi
sembuh..” Adwin blak-blakkan.
“Kamu berubah jadi genit!! Dan
blak-blakan..!!..” Yuna sebal.
“Dek!..” Adwin menarik smartphone
dari genggaman Yuna.
“…” Yuna melepaskan benda itu.
“Cuma adek, orang yang bisa kakak
percaya!!.. karena itu kita terkoneksi.. jadi hanya adek yang akan jadi tempat
sampah curhatan kakak!! Hahahaha!!..” Adwin meninju pipi Yuna pelan seperti
hanya menoyornya saja.
“Euh!!..” Yuna menelengkan kepala.
Lalu tersenyum tipis.
“Berenang yok!!..” Adwin berdiri.
“Ngga mau, aku lagi cantik nihh!!..”
Yuna menyandarkan diri ke bangku santai.
“Mother Hell… baru ini juga kita
barengan sebagai kakak dan adik kandung kan!! Eh.. mantan saudara kandung dink
hahahah!!!..” Adwin menyilangkan tangan sambil berdiri.
“Eh!!!!!!...” Badan Yuna diangkat
Adwin.
“%^&%^*#^!!!!!!!!!!!!..”
“BYUUUUUURRRRRRRRRRRR!!!!!!!!..”
Adwin membanting Yuna ke air kolam.
Yuna kelabakan, dia tidak bisa
berenang. Mata Yuna perih dan air sudah sedikit tertelan, tenggorokan Yuna
turut perih. Nafas Yuna tersengal, panic.
Adwin melompat dan meraih tubuh Yuna.
“Adek ngga bisa renang ya!!..” Adwin
meledek.
“Kakak itu memang berubah! Tapi satu
hal yang ngga bisa berubah!!
Kamu jahat!!!!!!!..” Yuna menyikut
perut Adwin yang memeganginya.
“!!!!!!!...” Adwin menyentuh dada Yuna.
“AAAAAAAAAAAAAAARGHHHHHHHHHHH!!!!!!..”
Yuna memukul muka Adwin sekeras mungkin.
“ADUH!!..” Adwin memekik pelan, Yuna
menepi dan meraih dinding kolam mengangkat badannya lalu mengambil handuk.
“Dasar genit!!!!!..” Yuna memeluk
dirinya.
“Eh! Ngga sengaja tau!! Lagian datar
juga ngga bakalan bikin aku sangek dek!!..” Adwin cengengesan.
“%^&%^^&*$^&^&$^*$!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Yuna lari ke tempat duduk Katrina, mengambil baju kering. Lalu menoleh ke kolam
diam-diam.
Adwin berenang menuju Ellen dan
Katrina, kemudian Yuna melihati mereka bertiga bercanda di tengah kolam yang
ramai.
“Entah apa yang terjadi, memang sejak
tadi di salon dia sudah tersenyum saat bertemu Ellen kan.” Yuna tersenyum lega.
Setelah puas bermain disana, mereka
ke sebuah restaurant dan makan malam bersama ditraktir Katrina yang merasa
sebagai ayah. Adwin tidak berkomentar mengapa di kehidupan kali ini Ellen
memutuskan untuk menjadi penyuka sesama jenis begitu pun Yuna. Ellen ingin
menemukan jalan kebahagiaan dengan caranya sendiri.
Lalu seusai makan malam, Katrina
mengantar Adwin ke hotel tempat Adwin menginap.
“Jaga diri baik-baik ya kakak!!..”
Yuna berdiri di depan Adwin yang sudah turun dari mobil dengan muka gengsi.
“Iya!!..” Adwin melihat Yuna,
meletakkan tangan diatas kepala Yuna.
“!!!!!!..” Yuna buang muka, tidak mau
tahu.
“Sampai jumpa lagi, sayang..” Ellen
membuka pelukan.
“….” Yuna menoleh melihat Ellen dan
Adwin, tercengang.
Awalnya Adwin hanya melihati dengan
tatapan sinis, matanya menembakkan pandangan dendam ke mata Ellen.
‘Kemanakah
keceriaan tadi selama di salon, di kolam, di restaurant?...’ Yuna bingung.
“!!!?..” Kini Yuna melihat Adwin
dengan pelan membuka pelukan dan meraih tubuh Ellen, memeluknya dan Ellen
mengangkat tumitnya mengecup kening Adwin.
“Love you..” Ellen mengusap pipi
Adwin tetapi Adwin tidak tersenyum, padangannya kosong lalu melepaskan pelukan
Ellen dan langsung meraih tubuh Yuna dan memeluk Yuna sangat erat seperti
berkata untuk menemaninya merasakan sebuah rasa perih mendalam.
Jantung Adwin berdegup sangat cepat,
Yuna bisa mendengarkannya karena kepalanya tenggelam dalam dekapan Adwin.
“!!!...” Adwin mencium pipi Yuna.
“!!!!!..” Tangan Yuna kini di
pinggang Adwin hendak mendorong dan melepaskan diri.
“!!!!..” Adwin mencium kening Yuna.
“!!!!..” Adwin memeluk Yuna lagi.
“Maafkan ibu…” Ellen melihati Adwin
lebih memilih mengasihi Yuna, Yuna melihat muka Ellen yang kini basah oleh
airmata.
“Kakak!.. ibu menangis!...” Bahu Yuna
lemas.
“Biarkan saja!..” Adwin mengelus
kepala Yuna.
“Jangan begitu!!!..” Yuna mendorong
tubuh Adwin dan melepaskan diri, terlihat muka Adwin yang sembab menahan emosi.
“Bagaimana pun juga aku lahir dari
suami keduanya.. kakak harusnya membenci aku juga!! Ini ngga adil sama
sekali!!..” Yuna mengepalkan tangan.
“….” Adwin menghelakan nafas
kesedihan.
“Aku tidak bisa…” Adwin mengucapkan
kesadarannya, Katrina turun dari mobil lalu menghampiri Ellen.
“Akhirnya kalian tenggelam di
masalalu lagi.. aku peringatkan.. itu memori lama dari jiwa.. jiwa yang sudah
mati dan menitis pada kalian.. bukan memori kalian yang sesungguhnya!! Jadi
tidak ada kesalahan Ellen bagi Adwin dan Yuna.. hanya Bella yang bersalah pada
Luis dan Mirth..” Katrina berkata tegas sambil mendekap Ellen ke pelukannya,
Yuna dan Adwin memandang muka yakin Katrina yang sepertinya juga paham akan
dunia supernatural tetapi dia lebih dewasa pemikirannya dibandingkan Ellen,
Adwin dan Yuna.
“Kau..” Adwin bingung.
“…
Kakak!... aku tidak akan lahir dan
menemani sekaratnya kakak lhoh kalau ibu ngga nikah sama ayahku…
Kakak punya adik perempuan sebelum
melepaskan diri dari masa itu kan..
Keinginan kakak terkabulkan..” Yuna
meraih tangan Adwin, mencoba meyakinkan.
“Kau benar..
kalian semua tidak tahu bagaimana
perasaan jiwa Luis saat itu..
“Maafkan Bella…” Ellen menangis
sesenggukan.
“…..” Adwin mengangguk pelan.
“….” Ellen tersenyum tipis penuh iba.
Adwin menarik tangan Ellen dan
memeluknya, meraih kepala Yuna dan meletakkan di dadanya.
“Kalian akan aku jaga dari
kejauhan..” Adwin melepaskan pelukannya lalu berjalan tanpa menoleh menuju
hotal.
“Dia ngga ingin mengatakan salam
perpisahan.. ini bukan perpisahan…” Katrina berjalan melewati Yuna menuju
mobil.
“Ini.. bukan.. perpisahan…” Yuna
menyadari, lalu tersenyum tipis.
Semenjak itu Adwin sudah menghilang
kembali tidak ada komunikasi pada Yuna.
****************oOo*****************oOo***********************
Tahun 2015
‘Dek itu Greenland grup apa sich? Koq
isinya aneh-aneh?..’ Adwin.
‘Itu grup terhubung ke dunia pararel
di galaksi lain kak.. kakak bisa ke sana via mimpi sama aku koq.. mau?..’ Yuna.
‘Ya sudah.. ayok kita coba.. Rhean
masih suka gangguin kamu ngga?..’ Adwin.
‘Aneh sih kak, semenjak kakak
kembali.. aku kan makai foto palsu buat akun sosmed kakak, tapi dia fikir kakak
itu jiwa buatan aku dan itu memakai jiwa dari Rhean.. entah jenis jin apa yang
mengikuti Rhean itu.. sampai dia fikir aku ini terus mencoba membajak jiwa
dia.. dia fikir kalau aku ini jahat.. tapi dia sudah tidak menggangguku lagi
koq kak..’ Yuna membalas pesan Chat Adwin.
‘Siapa sich dia?.. sampai kamu
menganggapnya twinflame kamu gitu.. kan twinflame kamu ada disini.. Adwin..’
‘Hehe.. dia mah baik aslinya, hanya
ada pihak yang ngga suka kalau aku sama dia akur jadi kami diadu domba biar
ngga bisa bertarung sama para penyembah setan lagi gitu.. dia samaan kaya’
kakak koq kurasa..’ Yuna mencoba menjelaskan.
‘Tidak sama, sama sekali tidak..’
Adwin mengelak.
Kemudian mereka Chat sampai Yuna
ketiduran, di dalam mimpinya Adwin datang dengan Clara mereka bergandengan
tangan. Yuna berdiri di gerbang Greenland lalu mengantar mereka masuk.
“Ini kan kampung halamanku!!!..”
Clara tersenyum lebar saat setelah masuk ke dunia Greenland.
“Benarkah!!!!??...” Yuna dan Adwin
terkejut sejadi-jadinya.
“Iya!!!..” Clara mengangguk pelan
dengan senyum lebar, matanya menitikkan airmata dan menjadi Kristal saat lepas
dari kulit wajahnya.
“Biarkan aku yang antarkan nona Clara
ke Guardinal #Sensored4...” Diamond datang sambil tersenyum ramah.
“Iya!!..” Clara mengangguk.
“Atau bisa aku panggil dengan nama
asli #Sensored5..” Diamond berjalan pelan diikuti Clara.
“Nama aslinya Clara itu #Sensored5?..” Yuna menoleh ke Adwin yang
bengong.
“Kak!!..” Yuna meraih lengan Adwin
dan menggoyang pelan badan Adwin.
“Eh!!.. Iya mungkin..” Adwin masih
bengong.
“Ini mimpi kan dek?..” Adwin menoleh
pelan ke muka Yuna dengan tatapan kosong.
“Iya..” Yuna menggandeng Adwin yang
bengong saja.
“Dimana pohon itu…” Adwin mengedarkan
pandangan dengan tatapan kosong.
“Kakak!!!?..” Yuna menampar Adwin.
“ADAW!!..” Adwin memegangi pipinya.
“Sakit Dek!!..” Adwin membentak Yuna.
“…?!..” Yuna melihati tingkah Adwin
yang baru sadar.
“Ada apa?.. pohon apa yang kamu
cari?..” Yuna melihati Adwin yang menggosok pipinya.
“Pohon itu berdaun putih.. di tengah
sebuah padang rumput.. aku bertemu Clara di bawah pohon itu saat masih sekolah
dulu..” Adwin mengatakan dengan terbata-bata.
“Kakak pernah ke sini jauh sebelum
aku!!!..” Yuna tersenyum lebar.
“…” Adwin mengangguk pelan sambil
menoleh kemana pun mengedarkan pandangan.
“Kakak itu beneran kakak aku ya ternyata
hehehe!!!..” Yuna berlari menarik tangan Adwin, sementara pemuda itu berlari
mengikuti Yuna dengan tatapan mata masih shock.
Agak lama berlari dan kini Yuna
menaiki bukit.
“Adek mau bawa kakak kemana sih
dek!!..” Adwin bingung, dia tidak kelelahan sama sekali tetapi Yuna tidak heran
karena udara di Greenland penuh energy.
“Itu pohonnya!!..” Yuna menunjuk ke
sebuah pohon yang tadi digambarkan Adwin. Berdiri di tengah hamparan rumput
yang dikerumuni pebukitan bunga dan gandum menguning.
“!!!!!
Subhanallah!!..” Lutut Adwin jatuh ke
tanah.
“Yah!! Allahu akbar kak!!..” Yuna
tersenyum lebar.
“Astaghfirullah inahu kana
ghafaraa..!!! Adek!!..” Adwin menoleh ke Yuna.
“Yah!!!..” Yuna tersenyum kuat.
“Kakak ngga bakalan lupain adek
deh!!.. hehe!!.. setelah Allah tentunya!!..” Adwin menarik tangan Yuna, Adwin
duduk bersama Yuna memandangi hamparan pebukitan yang indah, padang rumput
disekelilingnya bunga tumbuh dan nanjauh disana ada gunging yang terhampar,
angin sejuk bertiup bersama butiran kosmik emas. Serangga bercahaya beterbangan
menikmati aroma harum bunga yang terbawa arus udara.
“Entah dunia apa ini, katanya sih
setiap manusia tulus saja yang bisa kesini kak.. aku yakin ngga hanya kita
berdua.. maka itu grup Greenland aku bentuk.. tetapi koneksi ke sini hanya jika
kenal sama aku saja.. karena aku ngga tahu hal lebih mengenai gerbang dunia
ini..”
Semenjak itulah Clara pulang kampung
dan Yuna dipanggil Guardinal Greenland untuk menerima amanah baru sebagai duta
gerbang Greenland, dan Adwin diberi kesempatan pribadi berhak masuk dan keluar
dimensi Greenland kapan saja.
(•͡˘˛˘ •͡)
‘Siapa Brighter dek?’ Pesan Adwin datang.
‘Ada apa kak?..’ Yuna membalas.
‘Kenapa kamu memanggil dia sengan
sebutan Ayah terus?..’ Adwin.
‘Oh.. dia ayah reinkarnasiku kak..
rencananya sih mau aku kenalin ke mama Ellen.. siapa tahu mereka satu masa
kehidupan di masa lama..’ Yuna.
‘Oh..’ Adwin.
‘Dia dulu mengejar anaknya dan mau
mengajak ke sebuah space mothership saat dia mau bertugas kembali, anaknya
berlari dan entah kemana memasuki tempat penampungan orang-orang yang mau di
evakuasi.. ledakan besar terjadi dan dia meninggal dan masih mencari-cari
anaknya itu.. mimpi itu menerornya sejak dia kecil sampai usia dua puluh
tahunan kak..
Sementara di ingatan aku, aku melihat
bulan ada tiga lalu sebuah pesawat angkasa melasernya hingga terbelah.. kata
Brighter itu mothership musuh.. masuk akal juga, masa bulan di laser sama
pesawat kan.. aku melihatnya di antara orang-orang yang sedang berlindung,
mereka kebanyakan tiduran di tanah.. di malam hari.. ada perang di udara..
pesawat besar dimana-mana.. lalu ada ledakan dan aku ngga ingat lagi..
Aneh kan? Itu memori sepertinya
futuristic.. ngga mungkin kan kalau jaman purba itu sudah ada tehnologi
futuristic sementara peninggalan Firaun aja belum ada tehnologi canggih selain
guci charger tradisional..
Setelah aku bahas itu, dia merasa
lega tiba-tiba loh kak..
Terus yah kak sejak aku di grup
metafisika, aku tuh ngga pernah menuruti kata-kata orang lain.. tapi anehnya
apapun kata dari Brighter.. aku turutin dia.. nurut sama nasehat dia.. dan dia
itu sejak pertama kenal aku emang cuma nganggap aku itu masih bocah, padahal
aku sudah gedhe dan berhasil bikin oaring-orang menghargai aku.. tetep aja dia
nganggap aku cuma bocah.. dan anehnya setelah membahas kehidupan lama kami dan
saling menerima fakta bahwa kami adalah Ayah dengan Anak, perasaan jiwa tua
antara dia dan aku kayak menguat..
Tapi aku rasa pertemuan kami itu di
kehidupan lain, di bumi pararel, kembaran ghaib bumi ini kak..’ Yuna.
‘Masa sich dia kenal Ellen?..’ Adwin.
‘Coba ku kenalkan aja deh..’ Yuna.
(≖‿≖ )
“Anehnya, aku tuh biasanya ngga
pernah nurut sama cewek dan aku ngga mudah buat jatuh cinta sama cewek loh,
sama istri aku aja.. proses nikahnya kami itu lama..
Tapi Ellen bisa bikin aku tenggelam
dalam asmara dan emosiku itu seperti dalam banget.. apapun ucapan dia juga aku
nurut.. anehnya.. dia mengomel pun.. aku senang loh.. biasanya aku risih..”
Brighter menelfon Yuna setelah beberapa hari kenal dengan Ellen sebelum Ellen
menghilang dan menyerahkan akunnya kepada Yuna lagi.
“Kemarin saat kalian bertengkar
sebelum Ellen pergi gara-gara ayah bilang mau nikahin Ellen lagi, kan aku
chatting sama kalian berdua, mendadak deviceku mati, listrik di kotaku juga
mati!.. awan menjadi berantakan.. gila bener energy kalian berdua bener-bener
dasyat..” Yuna menepuk jidat.
“Hahaha.. itu belum seberapa..”
Brighter juga bingung mengapa bisa begitu.
“Tapi yach, asal kamu tahu saja.. aku
mimpi di sebuah ruangan dan aku melihat dia lagi disiksa.. dipaksa melayani
pria.. prostitusi.. mungkin itulah yang menyebabkan dia malu untuk aku nikahi..
aku benar-benar bisa koq menerima dia apapun nasib dia sekarang tapi dia malu..
gilanya dia mau meninggalkan anaknya dan suaminya untuk menyusul Katrina di
Filipina..” Brighter.
“Masa’ sih, ayah!!?..” Yuna bingung.
“Dia bilang membunuh ibu entah
neneknya aku lupa deh..” Yuna pernah ditelfon Adwin dan Adwin menceritakan
masalalu Ellen tetapi Yuna tidak ingat pastinya.
“Dia tidak mau aku perhatikan lagi..
ya sudah.. dia takut kenangan di masalalunya itu menguasai jiwanya lagi dan memutuskan
melanjutkan sisa hidupnya.. tapi.. anehnya dia bilang usia dia sudah tidak lama
lagi.. itu yang aku takutkan.. aku menduga kalau dia merencanakan bunuh diri..”
Nada Brighter serius.
“Ah.. masa sich…” Yuna lemas tidak
ingin memikirkannya.
“Hahaha.. aku juga bingung sama
dia..” Brighter.
“Aku tidak tahu, dia juga sudah
menjauhi aku koq..” Yuna kecewa.
“Ya udah deh, nggausah dipusingkan..
kapan-kapan aku telfon lagi yah..” Brighter.
“Iya, ayah jaga aja kesehatan ayah..
nggausah cemaskan Ellen, dia ngga bisa ditebak..” Yuna menutup telfon setelah
menjawab salam Brighter.
“Ellen itu serius tidak sih!!..” Yuna
membanting HPnya ke Bed.
“……..” Yuna melihat awan berbentuk
naga emas, spirit energy milik Ellen.
Sebelum Ellen menghilang, dia sempat
selalu melindugi Yuna dari bahaya ilmu hitam yang menyerangnya. Apalagi
melakukan dream walking dan berkelana bersama-sama, khususnya pengalaman saat
Adwin dan Yuna mencoba menyelamatkan Ellen yang jiwanya terculik penyembah
setan ke dunia pararel. Disaat itulah Yuna menyaksikan Ellen menjadi spirit
naga emas dan menyelamatkan Yuna yang akan terjatuh kejurang saat melawan
seekor monster setan. Kesedihan mendalam membuat Ellen bisa bertransformasi dan
mengirimkan energy naga ke Adwin hingga Adwin yang biasanya berubah menjadi
serigala api biru justru berubah menjadi naga hitam kebiruan yang kemudian
melawan monster setan itu.
“Terasa aneh…” Yuna kini melihati
awan di hadapannya.
“Kau ingin membuktikan kau
menyayangiku, karena itu kau mengirimkan energimu ke sini..” Yuna melihat
dengan datar.
“Kenapa kau tinggalkan aku dan
ayah..” Yuna bingung.
“Beeep beep!!!!..” Telfon berdering,
Yuna berjalan kembali ke bed lalu mengambilnya.
“Kakak…” Sapa Yuna setelah membaca
nama pemanggil dan mengangkat telfonnya.
“Kenapa adekku sedih?.. jantung kakak
sakit..” Adwin kini ada di Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan besar,
karena itu dia bisa menelfon Yuna.
“Aku baru saja ditelfon Brighter dan
ibu mengirimkan energinya kesini untuk membela diri.. dia ingin berpisah dengan
aku dan ayah.. apakah dia masih menghubungimu?...” Yuna berjalan ke balkon lagi
lalu duduk lemas di tengah pintu balkon.
“Dia tidak pergi, hanya tidak
menghubungi.. dia mengawasi dari jauh koq..” Adwin menenangkan.
“…”
“Dia menghubungi kakak via Camchat
jika liburan..”
“Begitu…”
“Adek kenapa sih!!!.. lemah amat!!..”
Adwin geregetan.
“Ceritakan aku masalalu Ellen yang
kamu ketahui..” Yuna mulai kesal dalam hati karena tidak tahu apa-apa soal
Ellen selama ini selain bahwa kini dia sudah punya anak yang masih balita dan
suami yang super sibuk, sementara Katrina sebagai kekasihnya masih
menghubunginya dan sering memadu kasih bersama Ellen saat suami Ellen pergi.
“Kehidupan kakak dikutuk dek..”
“Ujaran itu lagi!!..”
“Bukan dek.. ini betulan.. selain
ayah dan ibu kakak terpisah, ibu Ellen juga menderita di kehidupannya dari dulu
hingga kini.. di kehidupannya dulu dia melakukan prostitusi, dan di kehidupan
ini juga..”
“!!!!!!!!!!!!!!!!?..”
“Ibu Ellen bekerja sebagai orang di
panti social dan mengabdikan diri untuk kuil saat siang hari.. tetapi di malam
hari, alter egonya menguasai sisi gelapnya.. dia berkemelut dengan dunia
gemerlap malam seperti kakak dan lebih parah lagi..” Adwin menghela nafas
kesal.
“Suaminya dan anaknya?..” Yuna
bingung.
“Nikah kontrak..”
“%^&^&^#*#&%^&#!!!!!!!!...”
“Itu kebenaran.. dia hancur!..”
“Bagaimana ini.. katanya dia mau
menikah dengan Katrina?.. Katrina kan kaya yah..” Yuna berdiri.
“Kalo kaya kenapa ngga bisa bantuin
Ellen sih!!..” Yuna kesal.
“Sudah dek.. Kate sudah bantuin..
tapi tetap saja ada yang ngga bisa diselesaikan dengan cara gampang.. aku juga
ngga ngerti.. dia ngga cerita lebih.. apalagi kejadian yang bikin ibunya
terbunuh…” Adwin terdengar stress.
“Kak, dia bohong dan
mengarang-mgarang cerita kali kak! Ngga mungkin sebejat itu.. dia itu cewek
kalem dan dia itu ngga…”
“Alter ego itu gimana sih?.. dia
punya sisi jahat.. jiwa dia yang lain… seperti kakak..” Adwin memotong ucapan
Yuna dengan ketus.
“!!!!!!!!!?... sisi lainku… tidak
seperti aku, dia berhijab dan bercahaya.. nggak!! aku ngga percaya!!!!..” Yuna
penat.
“Itu kan kamu dek!!!.. tapi lihat
disini kamu badungnya gimana!!..” Adwin ikutan emosi.
“Kenapa kakak ngebelain Ellen
sekarang!!!..” Yuna naik darah.
“Karena dia ibuku dek!!!.. aku
pendosa dan aku paham perasaannya!!.. dia ingin lepaskan diri dengan hidup
bersama Kate.. menebus dosa.. entah gimana menurut akal dia sendiri!!..” Adwin
melemaskan nada bicaranya.
“Sekian lama aku main sosmed, aku
merasa akan menemukan sesuatu disosmed dan itu ternyata ayah rainkarnasi aku,
aku dari kecil selalu menangisi ayah.. padahal aku punya ayah di rumah, tapi
tetap saja.. dan kini setelah dia ada.. malah dia menjadi error.. kakak tahu
tidak..”
“Apa..?.”
“Ayahku kemarin sedang marah besar
karena ibu menolak dia ajak menikah lagi, dan dia bilang.. ayah menjadi
binatang seharian emosi dan meledak-ledak.. ngga bisa kendalikan diri dan
menjadi kejam.. hanya ibu yang bisa menjinakkannya.. dan entah apa yang akan
terjadi saat ibu pergi lebih lama tanpa kabar ke dia.. itulah sisi jahat ayahku
itu..” Yuna menyandarkan diri ke pintu balkon, melihati langit semakin gelap.
“Dia akan baik-baik saja.. karena
anaknya saja seperti kamu.. dia melebihimu..” Adwin menenangkan.
“Akankah Ibu bertemu dengan ayahmu
kak..?..” Fikiran aneh Yuna muncul.
“Adek lucu deh..” Adwin kesal.
“Hehe.. siapa tahu saja..” Yuna agak
melunturkan kekesalannya.
“Dia sudah bertemu di Thailand tahun
dua ribu empat belas lalu..” Adwin berbicara dengan nada datar.
“Lalu?..” Yuna bingung dengan nada
Adwin, sepertinya kisahnya buruk.
“Ayahku menyakiti ibu..” Adwin lemas.
“…..?...” Yuna bingung harus merespon
dengan bagaimana.
“Ayah bekerja di perusahaan swasta,
di perkebunan anggur dan bertemu ibu disana.. ibu mengikuti kata hatinya..
pekerjaannya membuat dia bisa jalan-jalan.. tetapi bos-bosnya itu bejat dek..
mereka lah yang senantiasa berbisnis tubuh dengan ibu.. bukan pelanggan
jalanan..” Adwin menghela nafas.
“Anjing-anjing itu…” Yuna gusar.
“Ibu mulai membahas masalalunya, dan
pria itu mengatakan selalu bermimpi membuat rancangan pesawat.. sampai
mengajaknya ke rumah.. ibu dikasih tahu banyak lembaran sketsa pesawat.. aku
dikirim fotonya juga..
Hal itu paling gila..
Mereka tenggelam dalam asmara..
Sampai pria itu mengangiaya ibu
setelah mengingat bahwa dia meninggalkan pria itu demi pria lain..
Entah bagaimana pria itu ingat, mungkin
lewat mimpi.. dia melihat ibu jadi istri orang setelah sekian lama berpisah..”
Adwin terbata-bata.
“Pria itu ngapain?..” Yuna semakin
galau.
“Memukuli mukanya.. perutnya.. gila..
aku saja tidak percaya.. tapi foto dia yang saat itu lusuh karena pria itu pun
dikirim ke aku, dek..” Adwin semakin galau.
“Kak…” Yuna bingung harus bagaimana.
“Ibu ngga jadi melaporkan pria itu ke
polisi, dia simpan foto itu..
Seharusnya itu jadi barang bukti
kasus penganiayaan..
Tapi dia urungkan untuk bayar dosa
dia ke ayahku..
Aku jadi malu sama diriku sendiri..”
Adwin mendengus kesal.
“Sudah, kita skip saja kak.. yang
penting kakak nanti…. kakak jangan kaya’ gitu ke istri kakak yah!..” Yuna masuk
ke kamarnya, mengingat bahwa Adwin itu tipe sadis.
“Adek juga cari suami yang kaya’
kakak lah.. mavia hehe.. biar dijagain tuch!..” Adwin terkekeh.
“Iya lah!! Aku kan mantan mavia juga,
welk!!!..” Yuna nyengir kuda.
****************oOo*****************oOo***********************
Tahun 2017
Adwin menghilang lagi, tanpa kabar
setelah kembali ke Aussy lagi. Tetapi Yuna mendapatkan informasi dari Cookie
Monster bahwa Adwin sedang sakit dan masuk rumah sakit. Yuna tepukul mendapati
kabar itu sehingga menutupi hilangnya Adwin rapat-rapat. Hingga datang sebuah
kabar baru dari Adwin yang menikah pada bulan Juni, saat itu sedang puasa
Ramadhan.
Suatu sore, sebuah telfon dari nomor
aneh menghubungi Yuna.
“Halo..”
“Adek..”
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!????????..” Suara
Adwin, terdengar sangat lemah dan serak.
“Kakak kenapa?...” Yuna seperti
dipukul dari dalam, tiba-tiba perasaan kecewa datang.
“Maafkan semua dosa kakak pada adek
yach…” Suara Adwin tidak main-main, sangat parah seraknya dan tidak bergairah,
lemah dan tipis.
“KAKAK KENAPA!!!?..” Yuna
kebingungan, tangannya mengepal tidak terima dan kecewa.
“Kakak begini… uhk… karena menahan..
eugh.. serangan para penyembah setan.. dek.. .. jangan macam-macam sama..
mereka…” Adwin kesusahan, seperti sangat lelah baginya untuk berbicara.
“Aku tidak akan macam-macam?!!!
Aku akan membalas perbuatan mereka
kak!!!..
Cookie bilang, kakak di rumah
sakit!!! Kakak sakit tipes atau sakit apaan!!!..” Yuna tidak bisa menahan
amarah.
“Doakan pernikahan kakak ya dek..
nanti kita ketemu lagi di Medan.. hehe… kakak pasti akan mendatangi adek koq..
hehe.. aku tidak akan semudah ini mati.. ughk!!...” Tawa serak dan lemah Adwin
mengembang di telfon.
“Kakak jangan maksain diri, kalau
masih sakit ditunda aja pernikahan kakak..” Yuna khawatir, karena kesehatan
Adwin menurun drastic setelah hendak menikahi calon istrinya.
Adwin memaksa dirinya untuk
menonaktifkan indera supernaturalnya dan membendung semua penderitaan yang
dikirimkan para penyembah setan kepadanya tanpa melawan sedikit pun. Akibatnya
tubuh Adwin drop hingga masuk rumah sakit, pasalnya jika Adwin membalas maka
para penyembah setan akan mencelakai calon istri Adwin saat itu.
“Orang calon kakak yang mendesak, dia
ingin jadi janda katanya..” Adwin sebal dengan gaya lemah tak berdaya.
“Adwin lagi jatuh cinta sampai
mengorbankan diri seperti itu ya.. akhirnya kamu tahu juga rasanya cinta yah
kak..” Yuna tersenyum lega karena kakaknya selama ini membenci wanita, mungkin
Ellen merubahnya.
“Kakak nasibnya ngga jauh dari jalan
adek.. adek dapat Ride so kakak dapat Amanda..” Adwin terkekeh. Yuna merasakan
semangat Adwin, dia tersenyum tipis trenyuh.
“Ugh…” Suara keluh Adwin membuat Yuna
menghilangkan senyumnya lagi.
“Kalau kakak nikah sama pacar yang
sekarang, berarti aku bakalan nikah sama Ride dong!.. hehehehehe” Yuna senang
tanpa alasan. Dia ingin Adwin menunggui Yuna lebih lama agar bisa melihat masa
depan Yuna dengan Ride nantinya.
“Hehe.. iya.. Adek santai saja..
Amanda kan Cristal Child.. dia bisa heal kakak.. dia wanita yang limited
edition..” Kekeh Adwin pelan sedikit terbatuk.
“Ya sudah tidur sana.. hehehe Ride
itu menyenangkan.. aku juga tidak menyangka bisa dapat cowok kaya’ dia
hihhihi…” Yuna nyengir.
“Iya, sampai jumpa nanti ya dek..”
Adwin menutup telfon, seperti biasa dia tidak mau mengucapkan salam perpisahan.
“Banyak pulsa.. nelpon dari Aussy..
tapi kirim pulsa jarang..” Yuna sungut. Tapi dalam hatinya ada kecemasan luar
biasa.
‘Aku
yakin serigala itu tidak mudah mati karena salju, meski musim es tidak
berujung.. meski tidak ada matahari..’ Yuna menguatkan hati dan yakin,
mengingat Gold dan Holly bahkan Cookie sekarang masih menunggu kembalinya
Adwin. Ada banyak yang mengharapkan Adwin kembali, jadi pasti Adwin akan
kembali.
****************oOo*****************oOo***********************
Dua minggu kemudian, di sore hari..
Yuna mengendarai sepeda motornya ke
sebuah perempatan jalan tempat arah Adwin akan lewat karena mau ke kota sebelah
tempat Yuna tinggal. Adwin sudah SMS Yuna bahwa dia akan melewati perumahan
tempat tinggal Yuna. Dan saat itulah Yuna berdebat dengan Ride yang cemburu
kepadanya. Yuna menemui Adwin dan takut jika Yuna akan melupakan Ride sesaat
saat memperhatikan Ride.
Yuna pun berniat membatalkan
pertemuannya dengan Adwin demi Ride, tetapi Ride kemudian mengalah. Saat Yuna
memutuskan untuk membatalkan pertemuan dan ingin kirim kabar ke Adwin bahwa dia
tidak bisa datang, SMS Adwin justru datang.
‘Sekali saja ingin melihat adikku..
kakak sudah dekat..’
“!!!!!!!!!?..” Yuna teringat kembali
kondisi kakaknya saat ini sedang parah-parahnya. Yuna tidak tega dan akhirnya
dia mengambil kendaraan di garasi dan melaju menuju perempatan dimana Adwin
akan berbelok melewatinya ke kota sebelah.
Rambut Yuna masih sedikit basah
karena baru mandi. Tetapi Yuna tidak ambil pusing jika harus malu, tetapi
fikirannya terus memikirkan Ride saat itu. Ride tidak tahu sejauh apa hubungan
Yuna dengan Adwin selama ini dan dulu Ride tahu bahwa Yuna dan Adwin berpacaran
di sosmed, padahal itu hanya metode agar Yuna tidak didekati cowok di sosmed.
Semua berkecamuk, bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Ride saat itu yang
terus saja menghawatirkan nasib hubungan mereka. Ride begitu cemburu kepada
Adwin karena Yuna lebih banyak menuruti Adwin dibanding Ride, itu semua karena
Adwin berwatak sangat kera. Kedua orang itu sama-sama sangat keras kepala,
tidak ada yang bisa dipilih.
“Mau mati saja rasanya..” Yuna
menghentikan sepeda motornya setelah menepikannya di depan toko tutup yang ada
di perempatan.
Sebuah mobil berhenti dekat tempat
Yuna menunggu beberapa menit kemudian. Adwin keluar dari mobil dengan agak
lemah.
“Astaghfirullah, kakak.. kakak belum
sehat koq sudah keliaran sih, penting amat ke kota sebelah ya!!...” Yuna
berlari memegangi Adwin yang terlihat sangat lemah.
Adwin berdiri tegak secara perlahan,
meletakkan tangan kiri diatas kepala Yuna sambil menghela nafas.
“Masih segini aja koq!..” Adwin
memegangi bahu Yuna karena payah berdiri.
Yuna mengambil HPnya, ‘Kenapa Ride ngga menelfon juga.. padahal ini
timing yang pas supaya dia bisa bicara sama Adwin.. dia belum pernah sama
sekali bicara sama Adwin.. kasihan dia.. pasti dia merasa Adwin benci atau
semacamnya..’ Ternyata tidak ada sinyal.
‘Energi
Adwin ini loch.. negative banget ternyata!!!.. sampai sinyal aja bisa ilang..
tapi tadi dia bisa SMS aku.. jangan-jangan karena energiku me-nol-kan energi
disekitar dia..’ Yuna makin cemas. Yuna merasakan getaran energy negative
kuat sekali keluar dari kulit Adwin. Yuna tanpa sadar merasa takut pada Adwin
karena kini Adwin seperti sosok lain, seperti hantu.
Saat ini Adwin berambut kecoklatan,
terlihat seperti bule 100%. Yuna menduga mungkin sakit Adwin mendadak, Adwin
tidak pernah mengecat rambutnya. Coklat adalah warna rambut yang melukiskan
rasa bahagia seseorang. Tentu saja saat itu kan Adwin akan menikah, pasti
tanggalnya sudah direncanakan Adwin. Tetapi sepertinya di tengah jalan ada yang
menjegalnya. Sehingga hari bahagia dia akan tertunda, tetapi siapa sangka.
Adwin tetap nekat menikah saat kondisinya seperti ini. Komitmennya pantas untuk
ditiru oleh Yuna, tiba-tiba Yuna teringat pada Ride lagi. Membayangkan pasti
nanjauh disana Ride sudah amat jengkel, mencoba menelfon Yuna tetapi nomor Yuna
sedang sibuk karena tidak ada sinyal. Fakta dan ujian yang menyedihkan, kini
Yuna merasakan adanya energy yang menyelimuti Adwin berpengaruh supaya siapapun
membenci dan menjauhi Adwin. Mungkin saja, istri Adwin dulu juga jadi pemarah
pada Adwin setelah Adwin sakit. Yuna ingin menanyakan itu semua kepada Adwin,
tetapi tidak ada keberanian.
“Dek!.” Adwin membuka pelukan.
“Maaf kak.. bukannya aku menolak….”
Yuna sangat sedih dan terpukul. Sesak memenuhi dadanya, nafasnya menjadi panas
selayaknya terbakar emosi dan menguap.
“….. Ngga kangen sama kakak.. kakak
kangen lho sama adek.. hehe..” Adwin tersenyum.
‘Padahal
Adwin sedang ramah-ramahnya padaku..padahal dia sedang ingin aku semangatin..
tapi… akunya malah lagi begini..’ Mata Yuna mulai basah, tapi Yuna lekas
membuang muka dan menguatkan mental.
“Aku menemui kakak… tapi.. Ride sudah
nyuruh aku buat jaga jarak sama kakak…” Yuna mengusap matanya dengan kuat.
“….” Adwin meletakkan tangannya
diatas kepala Yuna, mengusapnya.
“Selfie aja deh, istriku mau tahu
muka kamu.. senyum ya…” Adwin mengeluarkan HP qwertynya dan mengarahkan kamera.
“!!!?...” Yuna melihat Adwin, Adwin
menggigit bibir bawahnya.
‘Dia
kenapa… apakah kontak batin terjadi.. dia sedih juga?..’ Yuna memundurkan
langkahnya, tidak mau menerima kenyataan konyol ini lagi.
“….” Adwin melihati Yuna seperti
tertegun.
“…” Yuna bingung harus apa.
Adwin berjalan menuju Yuna, Yuna
tidak bergerak dan tetap bernafas dengan sesal. Adwin berjalan ke belakang
Yuna, mereka berdiri di depan sebuah toko yang sudah tutup dan sore itu cerah,
Yuna melihati kendaraan yang lewat dan langit yang indah, ingin melupakan
sekarang apa yang sedang terjadi. Adwin ke belakang Yuna lalu mengangkat HP
qwertynya ke udara.
“Jangan meninggalkan kesedihan,
senyum aja apapun yang terjadi..” Yuna melihat ke arah kamera lalu tersenyum
tipis. Bunyi taken pict dari kamera terdengar.
“…” Adwin berjalan lagi ke mobil.
“Yasudah lah.. farewell adek..” Adwin
berjalan kembali ke mobil.
“….” Yuna murung melihati kondisi
Adwin yang kuat kini terlihat seperti bukan dia yang biasa di masa legendanya
dulu.
“Farewell!!..” Adwin melambai dengan
senyum dibalik jendela mobil, mesin dinyalakan oleh sopir.
“…kenapa kamu mengucapkan salam
perpisahan kak..?..” Yuna mendekat ke jendela.
“Satu kali saja bertemu adek… kakak
mau ke Aussy lagi beberapa bulan lagi.. entah kapan lagi mau bertemunya..”
Adwin tersenyum tipis, Yuna melirik ke seat sopir, sopir Adwin masih muda
mungkin itu anak buah Adwin.
“Bodoh…” Gumam Yuna.
Yuna berjalan menaiki kendaraannya
dan kembali pulang, terlihat mobil yang dikendarai Adwin melaju dengan pelan.
Yuna kini melaju dengan kesal menuju
perumahan yang dia tinggali, dia masih merasa kecewa dengan Adwin yang
memutuskan mengalah pada serangan para penyembah setan yang selalu memburunya. Entah
mengapa Adwin bisa berhadapan dengan mereka. Kini Yuna sudah sampai di rumah
dan berlari ke kamarnya. Duduk di depan PC dan merasakan nyeri di dadanya, ini
perasaan Adwin yang tersalur pada Yuna. Entah apa yang akan terjadi pada Ride
jika mengetahui bahwa Yuna selama ini selalu merasakan perasaan Adwin dan bisa
bertelepati dengan Adwin. Biasanya perasaan Adwin tidak menimbulkan masalah,
karena perasaan Adwin selalu kosong dan hambar, kadang ada rasa murka dan sadis.
Hanya ada perasan tega dan tidak peduli jika Yuna menikmati emosi dari pesan
Adwin. Tetapi semenjak Adwin masuk pondok pesantren lagi di awal tahun 2017
sebelum ke Aussy, Adwin berubah secara perlahan menjadi memiliki sisi emosional.
Mungkin saja pengaruh membaca al-Qur’an bisa melunakkan sisi psikopat
seseorang.
“Beep beep!..” Telfon Yuna berdering,
ada panggilan dari Ride.
“Kenapa kamu matiin HP kamu?.. ngga
mau diganggu yah?!.. biar bisa berduaan aja sama abang kamu itu” Ride ketus.
“….” Yuna bingung harus menjelaskan
apa, ada dunia Yuna yang belum pernah Ride tahu selama ini.
****************oOo*****************oOo***********************
Sekarang lebih sering terjadi
pertengkaran dengan Ride, Yuna selalu mendapati kasus yang sama saat
memperhatikan Adwin. Ride pasti cemburu kepada Adwin meskipun sudah Yuna
jelaskan semua yang terjadi di belakang Ride selama ini antara Yuna dan Adwin.
Hingga membuat Yuna muak dan akhirnya memutuskan untuk menjauhi Adwin dan
menghilangkan kontak dengan Adwin.
‘Jauh
pun tidak masalah.. perasaanmu masih bisa kakak rasakan..’ Adwin
mengirimkan pesan kepada Yuna, terdengar jelas di telinga Yuna saat menuju
lelap.
‘Tidak
usah mengomel.. aku mau tidur..’ Yuna melakukan sebuah afirmasi dan
mendindingi dirinya dengan gelembung energy seperti kaca.
Energi Adwin memantul dan tidak bisa
masuk ke alam bawah sadar Yuna. Yuna menarik nafas panjang dan memeluk
gulingnya, tidak mau mengambil pusing. Lelah rasanya bertengkar terus dengan
Ride, dulu Yuna mengatakan lebih memilih Adwin karena ingin memancing emosi dan
potensi Ride, tapi kini Yuna marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa
mengambil pilihannya sendiri. Jadi untuk saat ini Yuna tidak ingin tahu lagi
mengenai Adwin supaya bisa bebas dari masalalunya yang kelam. Bersama Adwin
hanya ada kenangan hitam.
Beberapa hari setelah memutuskan
koneksi dengan Adwin, emosi Yuna berubah menjadi sangat datar dan hambar.
Kesehatan tubuhnya juga menurun karena menjadi malas makan, banyak yang terjadi
mulai dari Holly yang semakin mengalami mimpi buruk hingga keluhan sakit member
Greenland yang mulai berdatangan. Banyak mahluk ghaib berdatangan ke rumah Yuna
dan membuat keponakan dan keluarga Yuna demam, tapi Yuna tidak ambil pusing.
Dia tidak menghentikan kekacauan itu, Yuna tidak memerangi setiap mahluk ghaib
kiriman para penyembah setan musuh Adwin, karena Yuna tidak sekuat Adwin.
Serangan penyembah setan itu berantai dan bertubi-tubi seumur hidup. Yuna tidak
bisa membuang waktu untuk berghaib ria, ada depresi, trauma, tekanan dan frustasi
yang belum Yuna urusi, hidup Yuna bahkan tidak sebahagia dulu setelah teman
kampusnya memfitnah dia sebagai penyembah setan. Karena itulah Yuna tidak bersemangat
lagi.
Selama ini yang terus menghadang
mahluk-mahluk itu adalah Adwin, Yuna sama sekali tidak pernah menghadapi
mahluk-mahluk ghaib yang mau mencelakai dia dan keluarganya karena Adwin ingin
melatih kemampuannya dengan cara menghadapi mahluk-mahluk yang ingin mencelakai
Yuna dan keluarganya. Yuna banyak bekerja sama dengan Adwin untuk melawan para
penyembah setan selama ini, diam-diam Adwin terus menguji kemampuannya juga
untuk mendekatkan diri kepada Tuhan karena menjadi seorang petarung melawan
mahluk jahat harus memiliki energy ketuhanan yang besar. Adwin menggunakan
jalan ini untuk berubah dan memperbaiki masalalunya. Adwin tidak memiliki
masalah yang bisa membuatnya bergairah untuk hidup, tetapi Adwin sempat mengaku
bahwa bisa sedikit bersenang-senang dengan mengikuti masalah yang Yuna hadapi.
Suatu malam..
“Aku tidak tahu jika akan terjadi hal
separah ini.. maafkan aku.. aku menyesal berusaha memisahkan kamu sama kakak
kamu itu..” Ride menelfon.
Yuna mengingat Adwin selalu melihat
pesan Ride di chatbox akun Yuna, memata-matai Ride jarak jauh dan melindungi
Ride diam-diam tetapi Ride tidak menyadarinya sama sekali. Canggung bagi Yuna
untuk membongkar kebiasaan Adwin itu pada cowok yang sempat dia tes secara
sadis beberapa bulan diawal mereka pacaran dulu.
“Sudah.. sudah tidak apa-apa.. dia
akan kembali.. dia sayang sama kamu koq..” Yuna meyakinkan Ride dan mengelus
kepala Ride. Akun Adwin sudah tidak pernah online lagi semenjak kejadian Yuna
memutuskan koneksi darinya.
‘Adwin
menyukai Ride.. pasti dia mengerti..’
Beberapa hari setelah itu, akun Adwin
aktif kembali dan Ride mengirimkan permohonan maaf kepada Adwin, tetapi seperti
biasa bahwa Adwin tidak menanggapinya terlalu dalam. Mungkin dengan cara
seperti ini Adwin bisa membuat Ride memahami. Semenjak itu Yuna melihat mereka
sepertinya semakin dekat.
‘Kakak mau pergi dek.. nanti balik
lagi.. tapi entah kapan..’ Adwin mengirimkan pesan kepada Ride.
‘Abang mau kemana?..’ Ride menjawab
dengan bingung, tetapi akun Adwin offline kembali.
Adwin offline.
Besoknya juga..
Berminggu-minggu, member keluarga di Greenland
mulai bertanya-tanya kemana lenyapnya Adwin. Biasanya di beranda aka nada
kiriman sadis berdarah dan menjijikkan dari Adwin, ramalan-ramalan dan
informasi bocoran dari adwin. Tetapi kini sepi.
Yuna tetap beraktifitas seperti
biasanya, meneliti masalah supernatural dan sibuk dengan penemuan barunya. Dia
yakin Adwin baik-baik saja nanjauh disana, dia tidak pernah membahas Adwin
setelah itu, sehingga Ride mungkin sudah melupakan sosok Adwin. Yuna ingin Ride
menikmati saat bersama Yuna tanpa ada perasaan cemas lagi. Yuna terus focus dan
membatasi pergaulannya, bahkan tidak pernah keluar rumah dan hanya
berkomunikasi dengan member Greenland, meskipun terkadang kejenuhannya juga
membawanya ke grup yang Adwin larang untuk masuki. Yuna sudah bisa terbiasa
menikmati rasa jenuhnya.
Tetapi ternyata di belakang Yuna, ada
yang terjadi pada diri Ride.
‘Rasanya ada
yang hilang..ngga ada yang bisa diajak
bercanda lagi..’
Ride menunggui kembalinya Adwin, ada
perasaan kehilangan yang tiba-tiba muncul setelah bisa akrab bersama Adwin.
‘Aku
tidak bisa melupakan bang Adwin.’ Ketus Ride memprotes dirinya sendiri yang
serba bingung harus apa, dia mendapati perubahan Yuna menjadi drastic dan kini
dia tidak tahu harus apa. Hingga malam ini Ride tidur, perasaan kosong tentang
Adwin terasa kembali.
****************oOo*****************oOo***********************
“….” Ride mengucek matanya. Udara
agak dingin berhembus, Ride merasakan cahaya matahari hangat menusuk kulitnya
tetapi angin yang berhembus justru menusuknya juga.
“Aku dimana?..” Ride membuka matanya,
dihadapannya ada keramaian, dia tersadar dan sedang duduk di taman dekat
perkotaan.
“Sudah bangun dek?..” Suara seorang
pemuda terdengar disamping kirinya.
“?!!..” Ride menoleh ke sumber suara
itu..”
Adwin duduk disamping kiri Ride
sambil melihati langit.
“Abang!!?.. koq.. koq ada disini
juga..?!..” Ride mendadak canggung karena baru ini bertemu Adwin secara
langsung dalam posisi sempurna.
Biasanya Adwin menggunakan kostum
phantom dan membuat Ride lari terbirit-birit tapi kali ini Adwin terlihat
berbeda. Adwin mengenakan kemeja squarelines dengan celana hitam dan sepatu
biasa.
“Kamu tidak takut padaku kan?..”
Adwin melirik Ride.
“Enggak ah!..” Ride melihat
sekitarnya.
“Ayo keliling, disinilah tempat aku
tinggal selama tidur..” Adwin berdiri.
Ride berdiri dengan malas.
“Aku sudah lama melarikan diri dari
kejaran penyembah setan dek..”
“!!!?..
Pe.. penyembah setan?..”
“Mereka adalah orang-orang yang
menyusun rencana dan mengarahkan kekuatan global.. global artinya seluruh
dunia.. mereka sisi gelap.. kepribadian ganda dari para sosok baik di dunia
ini. Mereka merancang kehancuran untuk kepentingan politik dan kekuasaan..”
“?....
Adek ngga ngerti maksud abang..” Ride
berjalan di belakang Adwin yang berjalan pelan, Ride melihati Adwin yang tidak
menoleh sama sekali, tangan Ride dan Adwin masing-masing dimasukkan ke kantong
celana. Orang-orang berlalu lalang dan kendaraan melaju di jalan besar, mereka
berjalan di trotoar pejalan kaki.
“…” Adwin menghentikan langkahnya,
Ride berjalan ke samping Adwin, Adwin melanjutkan jalannya.
“Kakak ikut organisasi penyembah
setan untuk memata-matai mereka..
Tetapi kakak terjebak dek..” Adwin
memperhatikan keramaian kota.
“Kenapa ikutan organisasi yang
seperti itu, bang?..
Lihat aja sekarang nasib abang gimana
kan..” Ride ikut mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Hhhh..” Adwin menghela nafas.
“…?..” Ride melihat Adwin sedang
penat.
“Kakak sedang melarikan diri dari
kejaran polisi..
Masa lalu kakak sebagai kriminil bisa
mencelakai kakak.. kakak bersembunyi dari polisi dan mereka..
Para penyembah setan, menghalalkan
masa lalu kakak..
Mereka membantu kakak bisa melarikan
diri dari kejaran polisi..
Agar kakak bisa menuntut balas pada
mavia yang sudah menghancurkan keluarga kakak..
Singkatnya, organisasi setan itu
memanfaatkan kakak..
Kakak masuk ke organisasi mereka
hanya untuk mengamankan diri..
Tapi mereka juga tahu kalau kakak
hendak menghancurkan mereka, mereka masih mencoba untuk mencuci otak kakak agar
memihak mereka..
Lagi pula, mereka juga kriminil..”
“Bang..
Jadi adek harus apa, bang?..” Ride
tidak memahami dengan pasti.
“Mereka tidak suka dengan orang
seperti Yuna.. dan akan membuat hidup Yuna menderita..”
“??!.. koq bisa?.. emangnya Yuna
ngapain?..”
“Dia sedang mencari kebenaran dibalik
organisasi mereka..”
“Kan hanya cari tau sih?!!..” Ride
tidak memahami.
“Dia juga berusaha menghentikan.. dia
tidak satu-satunya.. aku dan teman-temannya.. dan masih banyak orang lain di
setiap tempat di bumi ini..” Adwin menuju ke sebuah game center.
“Bang, mau main game?!..” Ride
keheranan.
“Ayo kita kencan sehari!! Haha!!..”
Adwin memukul bahu Ride pelan.
“$^%#%^%!!!!!!!!..” Ride palmface.
Mereka berdua tenggelam dalam dunia
game, bermain seharian hingga sore hari. Tidak memikirkan masalah apa-apa,
sedalam apapun pertanyaan tentang masa depan. Dan rasa bersalah, khawatir juga
malu, kecewa dan dendam, semua hilang. Terlampiaskan pada game yang selalu
ceria senantiasa mau menerima perlakuan siapa aja yang ingin menjalankannya.
Bagaimana pun cara kasar seseorang menghabisi tantangan yang game berikan, game
tidak mengeluh. Itulah kesamaan prinsip Adwin dan Ride, mereka melupakan apapun
saat bermain game bersama. Game adalah teman terbaik.
“HAHAAAA!!!!..” Ride tertawa lebar.
“Haha..” Adwin menikmati permainan di
area game itu.
“Haduuh.. lapar nih bang!!!..” Ride
memegangi perutnya yang keroncongan.
“Udah, kita makan aja dulu dek!..”
Adwin meletakkan consolenya lalu berjalan pelan meninggalkan mesin permainan.
“??...” Ride mengikuti Adwin berjalan
keluar.
“Bang! Seru banget tempat abang ini,
penat aku ilang, mana tempatnya rame banget.. hadeh.. capek adek main game
seharian ama abang!! Hehe!!..” Ride nyengir kuda.
“Iya.. kamu mau senjata mesin juga
bisa dek.. dunia mimpi itu luas.. jamahilah sejauh kau bisa..” Adwin berjalan
ke sebuah kafe.
“Eh!??..” Ride mengikuti Adwin
memasuki sebuah kafe lalu duduk di depan Adwin saat pemuda lebih tua dua tahun
itu sudah duduk di sebuah kursi diantara meja makan.
“Bang, adek dulu juga punya masalalu
kayak abang.. kalau abang mau cerita ke adek, ngga bakalan jadi masalah koq
bang..”
Ride memeriksa daftar menu.
“Kakak dulu binatang dek.. tapi kakak
coba bertaubat.. Alhamdulillah.. kakak jadi ketagihan sama dunia Islami..”
“Ya, bagus lah bang.. Alhamdulillah..
adek juga masuk ponpes kan.. kalau ngga salah waktu itu abang juga masuk
ponpes.. kita barengan..” Kemudian Ride memesan makanan, disusul Adwin.
“….” Adwin melihat meja dengan
tatapan kosong.
“Abang kayak kecapekan gitu..” Ride
menyalakan rokok.
“Memang..”
“…?!..”
“Lihat ini..” Adwin membuka kancing
baju di pergelangan tangannya.
“….?..!..” Ride mengamati.
Ada tasbih panjang tergulung,
menggelangi tangan kanan Adwin.
“Kakak taubat, tapi masuk kelompok
itu..
Kakak berjanji di sertifikat mereka
bahwa saat itu kakak akan jadi kafir.. tapi kakak berdusta dan tetap menyembah
Allah..
Akibatnya kakak dihantui setan
terus..
Kemana-mana kakak bawa tasbih agar
bisa berlindung.. berdzikir..
Kakak tidak bisa membiarkan setiap
mahluk yang mencium gerakan kakak begitu saja, saat kakak sholat.. satu setan
akan datang.. sebelum dia kembali ke markas setan, kakak harus bunuh mahluk
itu.. dan selalu datang mahluk baru pada kakak.. setiap saat.. memang
melelahkan..
Jika kelompok pemuja setan itu sampai
tahu kakak sholat, mereka akan membuat kakak celaka dek..” Adwin menuturkan
sambil menutup kembali kemeja lengannya, Ride tidak habis fikir, dia hanya
tercengang membayangkan betapa Adwin harus berlari marathon setiap waktu.
“Aku berburu nafas..” Adwin tersenyum
tipis lalu menyalakan rokok.
“Pantesan abang kurus banget, tapi
Alhamdulillah kayaknya abang udah sehat ya bang?.. badan abang agak berisi
sekarang..
Beberapa minggu kemarin aku harap
bisa bicara sama abang.. tapi Yuna matiin HP-nya.. katanya sih ngga ada
sinyal..”
“Ngga ada sinyal.. HP kakak saja
error terus kena energy negative kakak..”
“Ooh… beneran ternyata, ngga ada
sinyal..?..”
“Iya.. itu lah mengapa kakak ngga
online..”
“Wow.. Keren…” Ride menghembuskan
asap.
“Sebelum kakak nikah, istri kakak
waktu itu berubah mudah mengamuk..
‘kamu niat ngga sih nikah, malah
sakit begini, janjinya nikah tanggal sekian sekian blabla….’
Cerewetnya dia..”
“Hahaha…”
“Nah… jadi kakak harus menikahi dia,
dia seperti jengkel melihat kakak penyakitan.. padahal demi dia juga kakak
menahan serangan..” Adwin menghembuskan asap ke udara.
“Terus gimana?..” Ride melihati
makanan yang diletakkan meja oleh pelayan yang membawakan makanan ke meja
mereka.
“Setelah menikah, kakak meditasi dan
melakukan ritual terlarang.. tapi kakak pakai doa islami.. buat hancurkan semua
penderitaan kakak..” Adwin mengambil cangkir berisi kopi hangat.
“Aku ngga ada rasa benci apapun ke abang
lho..
Aku cuma ngga suka kalo.. aku ngga
diperhatiin sama abang atau Yuna di saat bersamaan.. aku juga ingin bisa dapat
perhatian dari abang..
Karna aku udah menganggap abang..
sebagai abang aku sendiri..
Sejujurnya begitu..” Ride mengisap
rokoknya lagi.
“Hehe…” Adwin mematikan rokoknya ke
asbak. Meminum air mineral lalu menyantap hidangan yang sudah tersedia di
hadapannya.
Ride melihat tingkah Adwin jadi teringat
pada Yuna, gadis itu melarang Ride merokok banyak-banyak. Ride ikut membuang
rokoknya ke lantai lalu menginjaknya. Dan kemudian mengambil makanan dan
menikmatinya.
“Adek harus mempelajari sejarahnya
kelompok penyembah setan di bumi ini..
Adek harus jadi sekuat baja.. kakak
akan bantu adek dari belakang..” Adwin menyantap lagi.
“Iya, bang.. tenang aja, aku bakalan
belajar.. lagian aku sebenernya juga sama koq kaya’ abang di dunia nyata ato di
dunia mimpi.. hanya aja aku ngga mau cerita ke Yuna.. aku ngga mau Yuna tau
bang.. bahwa aku bisa bertarung!..” Ride hampir selesai dengan makanannya.
“Hmm..” Adwin mengunyah makanan
terakhirnya, dia makan porsi kecil.
“Abis ini kita kemana bang?..” Ride meminum
mineralnya.
“Adek ngga usah bayar, kita kabur
saja..” Bisik Adwin.
“Ka.. kabur?..” Ride bingung, menoleh
ke segala arah, ramai sekali. Ada banyak pelayan berdiri mengawasi kafe.
“Mavia itu tidak takut melanggar
aturan dek..” Adwin menusuk mata Ride dengan menyeringaikan senyuman bengis.
“……!!..” Ride menoleh ke Adwin lalu
tersenyum sinis.
Perasaan keji dan bengis kini
membanjiri jantung Ride. Tubuh Ride tiba-tiba menjadi ringan, dirinya melebur
menjadi asap hitam lalu melayang terbang bersama Adwin mengarungi langit kota,
mereka menuju sebuah gedung tua, badan mereka kembali menjadi padat.
“Hahahaha.. seru banget
ternyata..!!..” Ride merasakan tubuhnya hangat karena baru saja kembali utuh.
“Energi kebencian membuat kita terbakar
dan lebur menjadi aura kejahatan dek, warnanya hitam.. karena itu.. tetaplah
membenci..” Adwin menunjuk dada Ride, menekan telunjuknya ke dada Ride.
“Jangan kau hilangkan dirimu yang
jahat... dia akan jadi kekuatanmu jika kau bisa mengendalikannya..mengalahkannya…”
Adwin menusuk mata Ride dengan pandangan dingin.
“Iya bang.. aku pasti bisa kayak
biasanya dulu..” Ride tersenyum flamboyant. Menoleh ke arah pemandangan nanjauh
disana, ada pantai yang menemani matahari tenggelam.
“Ke sana yok bang, kayaknya bakalan
cakep panoramanya kalau kita kesana..” Ride menjadi asap hitam dengan cepat
menuju pantai.
“…” Adwin mengikuti Ride.
Keduanya mengalun melawan udara dan
mendekat ke bibir lautan. Ride menenangkan diri dan focus lalu menjadi utuh
kembali memijakkan kaki ke pasir.
“Tuh kan bener, cakep!!..” Ride
tersenyum lebar melihati pemandangan sunset.
“…..” Adwin menyilangkan lengannya.
“Sebenarnya aku ngga mau abang pergi
dan ngga ngasih kabar!!..” Ride menahan emosinya.
“Aku akan kembali!!..” Adwin memukul
pelan bahu Ride.
“Aku sedang meneliti perusahaan yang
mencetak uang..” Adwin menoleh pada Ride.
“….”
“Aku tidak akan meninggalkan orang
yang aku lindungi.. aku masih harus mengurusi para setan yang mengejarku dek..
aku selalu ada di belakang kalian..” Adwin meletakkan telapak tangan kanannya
ke dua mata Ride.
Ride memejamkan mata.
Saat Ride membuka mata, kini dia
sudah tergeletak diatas bed. Ride memutuskan untuk tidak menceritakan mimpinya
itu pada Yuna. Karena dia merasa Yuna tidak akan percaya kepadanya. Dimata
Yuna, Ride selalu saja memusuhi Adwin. Padahal di belakang Yuna selama ini,
hubungannya dengan Adwin cukup dekat dan hangat.
Semenjak mimpi itu terjadi, Ride
memiliki keyakinan diam-diam dalam hati bahwa Adwin pasti tidak lama lagi akan
hadir. Beberapa hari kemudian Adwin online lagi dengan nuansa energy baru,
lebih dingin dan lebih senyap.
Suatu malam, Ride bermimpi bertemu
dengan kembaran dirinya yang jahat. Mereka melakukan pertarungan sampai pagi,
tetapi diantara mereka berdua tidak ada yang menang sama sekali.
‘Jika
aku tidak bisa mengalahkan sisi jahatku, maka aku tidak akan bisa menguasai
kekuatan Darkness!!...’ Ride menhentakkan pukulan terakhirnya lebih keras
tetapi kembarannya menolak dengan kepalan tinju.
“KRRRRRRRK!!!..” Tulang mereka saling
beradu.
“Suatu saat!! Kau akan merasakan…
rasanya menjadi aku!!!!! Hahaha!!..” Sosok kembaran Ride itu kemudian
menghilang menjadi asap hitam dan berburai ke udara.
‘Apa
maksud dia itu..’ Ride kemudian beranjak terbangun dari tidurnya.
Beberapa minggu kemudian,
Yuna mengajak Ride untuk melakukan
petualangan dream walking, ada sebuah kasus yang ingin Yuna teliti akhir-akhir
ini. Sebuah isu kegelapan mulai tersebar kembali ke telinga Yuna dan mengganggu
gadis itu, Adwin dan Gold sedang sibuk sehingga tinggal Yuna sendirian yang harus
menjalankan misi kali ini.
Setelah Yuna dan Ride sampai di dunia
pararel. Mereka berlari diantara semak, mereka kini ada di sebuah gurun tetapi
pasirnya kaku dan membatu, matahari diselimuti mendung geap. Angin berhembus
bersama pasir halus, Ride dan Yuna memakai jubah hitam berkerudung dengan kain
yang menjadi penutup mulut, melilit wajah mereka.
“Ikuti aku!!!..” Yuna melompat, aura
hitam keluar dari kulitnya dengan lebat dan langsung membungkus tubuhnya dan membantu
Yuna melesat terbang ke udara.
“!!!!..” Ride mengerahkan dendam dan
amarahnya lalu tubuhnya menjadi sangat panas tetapi hanya sekejap saja, dia
menjadi asap hitam lalu melaju menuju Yuna.
Kedua remaja itu memiliki kebencian
yang sama akibat trauma di masalalu tetapi sepertinya Yuna tidak memasukkan
kebenciannya itu ke dalam hatinya yang paling dasar seperti Adwin dan Ride
hingga mereka bisa membunuh orang lain di masalalunya.
“Itu!!! Kak Rosemarry!! Gold!!..
Adwin!!!..” Yuna melihat dibawah ada Rosemarry yang memakai jubah putih
melayang meninggalkan Adwin lalu menghilang ditelan cahaya sementara Gold
berubah menjadi api emas dan menghilang.
Adwin tetap diam mengamati kedatangan
Yuna dan Ride.
“Kalian telat banget!..” Adwin
menggerutu singkat.
Tubuh Ride dan Yuna menjadi utuh
kembali ke bentuk normal.
“Kakak tadi ngapain?.. bukannya
mereka ada misi lain kak?..” Yuna bingung dan no idea.
“Kakak tadi kasih tahu arah kemana
mereka harus pergi.. bu Rosemarry harus menemukan arsip yang masih rahasia..
Arsip itu berisikan cikal bakal
naskah konspirasi di eranya yang tertua..” Jelas Adwin serius dibalik topeng
phantomnya yang dikerudungi oleh jubah hitam.
“Woah…” Yuna tidak mengerti.
“Di sebelah sana ada desa dan ritual
sedang dilakukan oleh para pemuja setan.. bu Rosemarry ke sana..
Sementara Gold akan lembah dan
mencari avatar yang bisa menjelaskan secara supernatural apa yang bisa kita
lakukan untuk mencegah rencana penyembah setan selanjutnya..
Sementara kau dan Ride, ikut aku..
kita bantai pasukan setan yang datang.. jangan sampai mereka tiba di tempat
pemujaan ritual setan di desa tempat bu Rosemarry bertugas memata-matai..
Kita harus bantai semuanya!..” Adwin
mewujudkan pedang sabitnya dan menjadi kepulan asap hitam.
“Baik!!..” Ride mengaktifkan
kebenciannya dan menjadi asap hitam, menyusul Adwin yang pelan-pelan sudah
melayang pergi.
“!!!.. Ride!!!?..” Yuna khawatir pada
Ride, dia mengeluarkan aura hitam dari kulitnya lalu asap hitam membuatnya
melayang melesat ke udara.
Mereka melesat melawan angin yang
membawa pasir, menuju sebuah hamparan luas di kaki gunung. Para monster setan
berbaris dan berlari hendak menuju kuil pemujaan setan untuk memenuhi panggilan
para pemuja setan.
Tubuh Adwin mengutuh, membuka
jubahnya dan mengayunkan pedangnya, para setan yang sudah mengetahui dan
mencium kedatangan mereka pun melawan. Tubuh Ride mengutuh dan mengeluarkan
senjata mesih dari balik jubahnya dan menembak monster-monster buas besar di
hadapannya. Yuna menarik pedang kembarnya dan menyabet udara, naga putih dan
hitam keluar dan meluncur seperti ular menggores para setan dengan sisik api
mereka. Naga-naga itu masih bertarung, Yuna terus menusuk dan menebas dengan
pedangnya mematikan para monster secepat mungkin karena banyak monster di
belakang yang terus berlari berdatangan.
“Tidak akan aku biarkan kalian
lewaaat!!!!!!!!...” Ride mengaktifkan kebenciannya dan kemudian senjata mesin
ditangannya berubah menjadi launcer.
Ride memondong dibahunya lalu mengisi
selongsong senjata itu dengan keyakinan.
“JHAARGGHH!!!...” Api terbentuk di
mulut launcer lalu bola api tertembak ke monster-monster. Mereka teriak dan
terbakar.
“Bismillah….” Yuna menyatukan
pedang-pedangnya lalu menyabet barisan monster, api putih keluar dari aura
tebasan pedang itu.
“Laailaha ilallah.. Laailaha
ilallah..
Laailaha ilallah..” Yuna terus maju,
dalam kondisi menenangkan jiwa dia terus menebaskan pedangnya dengan yakin.
“Allahu akbar..” Dengan menenangkan
jiwa Yuna menebas lebih kuat ke monster setan yang lebih besar di hadapannya.
“HARGHHHHHHHHHHHHH!!!..” Ride
melemparkan bom granat energy takbir yang dia batinkan dan ..
“DJRRRRRRRRRRRAARRRRRRRRRRRRRR!!..”
Ledakan terjadi di tengah kerumunan monster nanjauh disana.
Sementara itu di sisi lain Adwin
berputar diri dengan pedangnya mencabik setan-setan yang kini mengerumuninya,
Adwin terbiasa masuk ke dalam barisan dan membuat ombak terror. Dia memusatkan
ketenangannya lalu berputar, membuat energy auranya mendingin dan menghasilkan
komparan petir. Monster di sekelilingnya tersetrum dan mati.
“Lakukan semampu kalian!!! Tinggal
beberapa ekor raksasa di belakang sana!!!..” Adwin berteriak, menjadi naga
hitam beraura putih lalu melesat terbang ke arah para raksasa setan yang menuju
ke arah mereka.
“Akan aku bereskan mereka
semuanya!!!!.. JHAAARGHH!!!..” Ride menembaki monster-monster dengan senjata
mesin energy.
“GHRRGH!!..” Yuna menebas monster
tanpa henti.
Lalu Yuna berhenti melangkah sambil
melihati sekitar yang sudah penuh dengan dinding debu, berdiri dan mengambil nafas.
“Sial!..” Yuna melihati beberapa
raksasa setan mendekat dan Adwin disana tengah bertarung dengan pedang sabitnya
menghadapi seekor raksasa yang kuat. Kedua spirit naga pedang Yuna musnah
menjadi udara karena dipukul raksasa-raksasa.
“Kali ini kita harus bisa gunakan
energy supernatural kita yang lebih besar!!..”
Yuna berlari menuju kerumunan yang
dihadang Adwin.
“Tapi bagaimana caranya!!!...” Ride
berlari menyusul Yuna.
“Aku tidak tahu!! Tapi ayo kita
konsentrasi untuk ikhlas dan pasrah pada Allah sebentar pasti bisa!!!..” Yuna
menghentikan langkahnya lalu memejamkan mata.
‘Bismillahhi..
rahmani.. rahim..’
“$%^$%&^%!!!!!!!!!~” Ride.
“!!!!!!!?..” Yuna membuka mata
langsung menoleh ke Ride.
“AAAAAAAAAAAARGHHHH!!!!!..” Ride
mengerang tanpa sebab, menjatuhkan lututnya ke tanah lalu cahaya dari dalam
dadanya mencuat keluar bagai ledakan perlahan.
“Ride!!!?..” Yuna terkejut sampai
kaku badan.
Ride berubah menjadi sosok berambut
putih panjang dengan bentuk muka mulus tanpa paras, tubuhnya menjadi bentuk
lain, layaknya seekor serangga tanpa sayap memegang cambuk, tubuhnya bercahaya
putih. Ride melesat ke arah para monster dan mencambuk mereka, petir keluar
dari cambuknya.
‘Saat
seseorang tulus dan tidak mengharapkan apa-apa selain perlindungan Allah.. maka
akan ada kekuatan yang membentuk jiwanya menjadi sosok baru..itu bisa terjadi
pada siapa saja saat mengaktifkan jiwa bersih mereka..’
Suara Dandy terdengar dari dalam
batin Yuna.
Yuna berjalan pelan melihati kakak
dan pacarnya yang sedang bertarung, menyiapkan pedang di tangannya.
“Allahuma shali alaa muhammad
rasulullah..” Yuna mengeratkan pedangnya.
Berdiri tegap, mengangkat pedang ke
atas dengan dua tangannya lalu memejamkan mata. Merasakan debaran jantungnya,
lalu menebas ke bawah. Sebuah hempasan angin besar dari aura energy pedang
plasmanya muncul dan angin itu memporak-porandakan para monster sampai ke
langit, terjatuh dan mati.
Yuna membuka matanya.
“!!!!!!!!!?...” Yuna melihat Ride
yang melayang perlahan berubah menjadi dirinya yang normal dan jatuh. Adwin
menangkapnya lalu Yuna berlari sekuat tenaga menuju mereka berdua.
“Ride!!!..” Yuna tidak tahu apa yang
sedang terjadi.
“Dia hanya pingsan.. sebaiknya
biarkan tetap tidak sadar saja.. kita akan ke kuil sekarang, aku tidak mau dia
kemasukkan energy setan karena lagi ngga sadar begitni..” Adwin merebahkan Ride
di tanah.
“Um!..” Yuna mengangguk mantab.
“…!.” Adwin berdiri dan mengarahkan
kedua tangannya ke depan, membuat gelembung perisai hitam, menyelubungkannya
diantara badan Ride, bola besar hitam itu melayang dan mengangkat tubuh Ride.
“Ayo kita pergi!!..” Adwin menjadi
asap hitam dan melesat, bola itu mengikutinya.
Yuna melayang dengan aura hitamnya
menyusul Adwin.
Mereka terbang mengikuti suara hati
mereka yang sama, melewati gurun dan pepohonan, puing-puing kuil tua dan
tibalah di sebuah pedesaan.
Adwin dan Yuna masih menjadi asap
hitam, mereka bersembunyi dibalik semak-semak.
“Mereka lah grup pemuja setan yang
baru dek.. isu politik sebentar lagi akan diperbarui.. gossip-gosip soal
penyakit akan disebarkan.. kakak tidak tahu.. siapa anggota politik yang akan
mati setelah ini..” Adwin melihat sepertinya Rosemarry sudah kembali pulang.
“Mbak Rosemarry sudah pulang deh
sepertinya, ayo kita balik.. pasti Gold baik-baik saja kan kak..” Yuna menoleh
ke Adwin.
“Kalian istrirahat saja di rumahku
dulu.. jangan ke Greenland.. bisa-bisa setan mengikuti kalian..” Adwin membuka
portal hitam dan mempersilahkan Yuna masuk duluan, Yuna masuk diikuti Adwin dan
tubuh Ride.
Setelah melakukan perjalanan di
lorong portal pararel, mereka pun akhirnya tiba di dalam ruang tamu rumah
Adwin.
“Sudah pulang?..” Istri Adwin
tersenyum sambil memakai sepatu.
“Mau kemana?..” Adwin pulih menjadi
sosok normal tanpa jubah secara perlahan, aura hitam masuk ke dalam tubuhnya.
“Aku mau ada acara sama teman-teman..
aku akan pulang sore.. aku janji..” Istri Adwin sangat cantik dan menawan juga
baik hati, dia mengecup pipi Adwin dan melambai pada Yuna dengan senyuman
hangat, membuka pintu dan keluar rumah sambil menutupnya kembali.
“Istrimu?..” Yuna menunjuk ke pintu.
“Huuh~” Adwin menghela nafas,
mengangguk pelan. Melihati Ride yang terbaring di sofa.
Adwin mendekati tubuh Ride lalu
membopongnya ke kamar tidurnya.
“Rumahmu sempit kak! Tapi perkakasmu
ini loh! Widiw..” Yuna duduk di sofa ruang perapian, ada LED TV lebar, karpet
coklat empuk berbulu, lantainya berkeramik warna hitam dan dapur terlihat dari
ruangan perapian.
Pintu kamar Adwin terbuka, Ride
berbaring diatas bed sana. Adwin kembali dan duduk di depan LEDnya menyalakan
Play statsion. Yuna bernafas, istirahat, penat. Matanya menuju jam dinding yang
mempamerkan pukul delapan pagi. Matahari di luar sana sangat terik dan sangat
panas cuaca saat ini, ruangan rumah menjadi seperti sauna.
“Ampun, seharusnya sekarang musim
dingin kak!!!..” Yuna mengibas kerah bajunya.
“Kebalikan dunia nyata.. ini dunia
pararel..” Adwin memilih menu.
“Kak!! Aku mau itu kak!!..” Yuna
beranjak dari sofa dan duduk disamping kiri Adwin di karpet dan mendusel Adwin,
merebut stiknya dan mengarahkan pilihan menu.
“Hihi!!!..” Adwin menepuk kepala Yuna
dengan tangan kirinya.
Adwin mengambil stik yang lain dan
mereka berdua bermain game Sky force war game.
“Gila!!! Apa nanti ini edisi barunya
yach! Keren abis!!!..” Yuna menikmati gamenya.
“Hahaha!! Ugh!!.. rasakan…!!..” Adwin
menyenggol bahu Yuna dan menembakkan peluru digital di monitor.
“Jhiaaat!! Jurus seribu colekan!!
Chat chat chat chatttt tatatatatataatatt!!!..” Yuna berubah menjadi bersuara imut,
dia punya alter ego kucing yang lucu.
“Hahahahahaha!!!...” Adwin dan Ride
menyukai alter ego Yuna yang ini.
“UUUNGHHH!!!...” Suara Ride dari
dalam kamar.
“Wey.. cowok kamu tuh!!..” Adwin asik
memencet tombol stiknya.
“Aku lapar!!!..” Yuna berdiri dan
menuju dapur untuk mengambil makanan, menggeletakkan stiknya begitu saja diatas
karpet sehingga space mother ship dia hancur dihajar rudal Adwin.
“RRGHH!!..” Terdengar lagi suara Ride
merintih.
Adwin melihat Yuna tidak peduli
dengan cowoknya itu, justru asyik menggoreng telur di dapur.
“Menyusahkan..” Adwin bangkit dan
dengan malas menuju kamarnya.
“…” Ride masih tertidur pulas, Adwin
memandanginya lalu duduk di pinggiran bed. Meletakkan tangannya di kening Ride
dan menghela nafas.
“Sakit…” Suara Ride pelan.
“….” Adwin mengalihkan pandangan ke
luar jendela.
“…..” Menoleh kepada Ride lagi yang
bergerak, berbalik badan.
“Adek kenapa?..” Adwin membalikkan
badan Ride agar terlentang kembali.
“…” Adwin meletakkan telapak tangan
di kening Ride.
“Humh..” Ride merasakan keningnya
dingin sekali, penglihatannya buram lalu dengan pelan menjadi jernih.
“…. Abang?..” Sosok Adwin terlihat
sedang memegangi jidatnya.
“…..” Pipi Ride memerah.
“Kamu sangek ya?..” Ride mengucapkan
dengan nada datar.
“&^&#%^#%#^%#!!!!!!!!.. ma..
mana mungkin aku nafsu sama abang!!! ERGH!!..” Pipi Ride semakin merona dan
kaku, tetapi badannya masih lemas.
“….” Yuna mengintip dari balik tembok
pintu. Jiwa fujoshi Yuna bangkit, ada rasa jail bangun dari mood Yuna.
“Yasudah ayo bangun… temani kakak
main game..” Adwin menarik tangannya lalu menghela nafas lelah setelah heal
Ride.
“GAME!!!?..” Mata Ride bersinar penuh
keemasan.
“%^#%^#^%!!?.” Dari balik dinding
muka Yuna palmface.
‘Dasar
cowok gamer bego…’ ketus Yuna yang kehilangan mood fujoshinya. Berjalan ke
ruang tamu lalu duduk di sofa dan makan. Ride melihat sekelebatan Yuna lewat di
depan pintu kamar.
“Yu.. Yuna…” Ride menelengkan
kepalanya dengan muka dongo.
“!!!!..” Adwin menoyor kepala Ride ke
depan. Lalu berdiri ke ruang perapian yang terdapat surga game PS3 disana.
Ride mengikuti Adwin ke ruangan itu,
awalnya malas dan lesu.
“WAAAAAAAA!!!!! PS!!!...” Matanya
cerah dan bersemangat mendadak.
“&^$^&#%!!..” Muka Yuna
sangat kusut, mood fujoshinya hancur.
Akhirnya adik dan kakak itu bermain
PS dan Yuna tertidur kekenyangan di sofa dengan kipas angin kecil di meja tamu,
bungkus makanan dari kulkas berserakan di antara kipas itu, Yuna mendengkur
seperti kucing yang pulas.
“Huwaaaah!!! Abang ngalah dikit napa
sih bang sama adeknya!!!...” Ride duduk jongkok karena geram dengan Adwin yang
terus saja menyerang.
“Hahahaha!! keluarkan cheat terbaikmu
kalau bisa hahahah!!!...” Adwin tertawa
jahanam.
“Anjir bener ni orang!!!
Ghiyaaahahaha!!!...” Ride menekan terus stiknya.
“WANJIIIERRR!!!... aku
kalaaaahhhrghh!!...” Ride guling-guling diatas karpet.
“Hahahaha…” Adwin menyruput susu
kotaknya.
“Eh!!!.. oh ya bang..!!
Adek lupa satu hal, mau cerita ke
abang!!..” Ride meletakkan kepala di pangkuan sofa.
“Apa dek….” Adwin memakan chip
kentangnya yang sudah dia tuang dari wadahnya ke atas mangkuk.
“Adek mimpi.. ketemu sama kembaran
adek.. dia jahat bener..
Aku hajar dia.. tapi aku sama dia
imbang.. diantara kami ngga ada yang kalah bang!..
Koq bisa gitu ya?..” Ride ikut
menyantap chips.
“Hm….
Kamu kurang benci sama dia… coba
hajar dengan kebencian diatas kebencian.. melebihi kemurkaan dia..
Atau…..”
“….. atau apa bang?..”
“Atau memaafkan dia..” Adwin meminum
susu kotak lagi.
“Iya… nanti kalau sudah bisa kalahin
dia, aku beneran bisa jadi kuat kaya’ abang?...” Ride menoleh ke Adwin.
“….” Adwin menoleh ke Ride.
“…?.” Ride canggung karena muka Adwin
sangat datar mendadak.
“Kenapa kamu nanya kaya’ gitu?.. mau
nandingin aku?..” Adwin menoyor jidat Ride.
“&#%^*%!!!!!..
Bu .. bukan begitu sih!!!..
Aku mau bisa melindungi abang!!.. aku
mau kaya’ abang.. hehe..!!..” Ride nyengir.
“Ululu.. gombal…” Adwin menyodorkan
bibirnya ke depan, kedua tangannya mencengkram muka Ride secepat kilat.
“DAFAAAAAKKK!!!!
TATATATATARTARATARARATARATATARATTTATATA!!!...” Ride mendorong muka Adwin
menjauhi muka Ride.
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!...”
Tangan Yuna mendorong muka Ride ke
depan sehingga bibir Adwin yang monyong akhirnya menyentuh hidung Ride dengan
mantap.
“GHRAAAAAAAAAAAAAAAGAHAHAHSGASJDFYETSFERD476T47R6W8THIJKJ
DHBVUKKKKKKKKK!!!!!!!!!!... pih pih pih!!!...” Ride berdiri menggosok-gosok
mukanya.
Berbalik badan dan melihat muka Yuna
yang sudah nyengir kuda jahanam.
“APA-APAAN SIH KAMU, YANG!!!..” Muka
Ride sangat merah.
“#%^%^!!..” Yuna nyengir bangke.
“Koq asem..” Adwin menjilat bibirnya
sambil memandang ke arah lain.
“HEIIIK!!!!!!...” Ride menoleh
melihati ekspresi Adwin yang datar dengan muka pucat pasi.
“Glk!!..”
“EH!!?..”
Istri Adwin pulang, menutup pintu dan
melepaskan sepatunya. Adwin melongo diikuti Ride yang saat itu hanya memakai
kolor dan kaos oblong. Yuna juga hanya memakai kaos dan celana pendek sementara
itu istri Adwin melihati suaminya telanjang dada dengan kolornya.
“Hihihihi!!!...” Istri Adwin tertawa
kecil.
“TY$^*&Y*%&^%&HUJ
FHHBTYU&B$*G!!!!!!!!...” Ride berlari masuk ke kamar Adwin yang mana juga
kamar istrinya karena malu.
“Ramenya rumah ini, adek kamu lucu
semua ya honey!..” Istri Adwin melihat seisi rumah yang sangat berantakan.
“Maaf ya.. aku ngga bisa makai AC..
kalian jadi kepanasan bengini sampai pada makai kolor aja hihihihi…” Wanita itu
ke dapur dan menaruh barang belanjaannya diatas meja makan, Adwin berdiri malas
dan menuju istrinya.
Yuna melongo lalu mengenakan jaket
dan celana panjangnya yang tersampir di sofa ruang perapian. Lalu menuju ke
dapur.
“Kami mau pulang, disini sudah mau
malam, tandanya di dunia nyata sudah pagi..” Yuna duduk di kursi samping Adwin
yang sedang mengupas jeruk.
“Bang…!!..” Ride nongol.
“Kalian ngga makan malam disini
dulu?..” Istri Adwin ramah.
“Ngga ah, teh… kami ngga mau
merepotkan teteh..” Wajar Ride memanggil begitu karena istri Adwin orang
Jakarta keturunan Sunda, Nampak dari logat dan mukanya.
“Aku bawa jeruk ah..” Yuna mengambil satu
buah jeruk di kantong plastic putih.
Kemudian mereka berbincang ringan
hingga akhirnya membuka pintu rumah Adwin dan berpamitan pulang, dengan
pornonya Adwin hanya memakai kolor keluar rumah dengan istrinya mengantar
adik-adiknya pergi.
“Dasar guvluk.. miyaw!..” Kekeh Yuna menyindir
Adwin sambil berjalan menarik tangan
Ride yang melambaikan tangan, mereka berjalan menuju dermaga.
“Hehehe.. bentar loh sayang,
buru-buru amat sih!..” Ride menyusul kaki Yuna.
“Udah siang ini!!!..” Yuna tersenyum
lebar.
“Aku masih mau sama kamu!!...” Rengek
Ride.
“…” Yuna menoleh kepada Ride.
“…..?.”
“Nanti kita jumpa lagi…” Penglihatan
Ride kabur dengan pelan dan dia merasa mengantuk sekali.
****************oOo*****************oOo***********************
Suatu hari kemudian di pagi hari,
Ride masih pulas..
Ride bermimpi memasukkan racun ke minuman
bibinya. ‘Apa ini!!!!!! Kenapa aku ini!!!
RRRRRRGHHHHHHHHHHHHH!!’ Ride berusaha mengendalikan tubuhnya dan
menghentikan tingkahnya tetapi dia tidak bisa menghentikannya.
Ride menyembunyikan jejak dan
bersembunyi, menyeringai seolah menanti rencananya berjalan sempurna.
‘JANGAN
MINUM BIBI!!!!!!!!!!!!!’ Tetapi batin Ride meronta, dirinya seperti sedang
disetir setan tetapi Ride terperangkap dalam tubuhnya sendiri.
Dengan pelan dia merasakan tubuhnya
sedang menikmati pemandangan yang mana memperlihatkan sang bibi kesayangannya
sedang mengangkat cupnya lalu meminum air dalam tempat itu dan kemudian.
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?...”
Bibi Ride mencekik lehernya sendiri
lalu menjatuhkan cup itu ke lantai sampai pecah. Wanita paruh baya itu jatuh ke
lantai dan tergeletak.
“HAHAHAHAHAHAHARGH!!!!.........” Ride
berdiri dari balik sofa dan tertawa jahanam.
‘TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!’
Ride teriak dari dalam hati hingga
dirinya terbangun dari tidur.
“Hsh!! Hsh!!..” Jantung Ride berdegup
sangat keras.
“??!!!!!!!...” Ride mendengar suara
keramaian dari luar ruangan kamarnya.
“?!!!!!!!...” Ride berjalan keluar
kamar, terkejut melihat anak-anak bibinya kini di rumahnya dengan muka pundung.
“A.. ada apa?...” Ride terbelalak.
“Mama pingsan…” Jawab salah satu anak
bibi ride.
“!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!?...” Lutut Ride
lemas.
Ride terpukul tidak percaya, apakah
mimpinya menjadi nyata. Bibi yang sudah
membesarkan dia seperti anaknya sendiri sejak kecil, anak-anaknya juga sangat
baik pada Ride. Ride sudah menganggapnya sebagai ibu kandung juga. Tetapi apa
yang terjadi barusan di alam mimpi membuat dia mengerti maksud kembaran sisi
jahatnya yang mengatakan ‘suatu hari kamu akan tahu rasanya menjadi aku’
kepadanya beberapa bulan lalu.
“Sial!!!!!!!!...” Ride meraih ponsel
diatas bednya lalu mencari nomor kontak Yuna dan menelfonnya.
“Halo…” Suara Yuna lemas terdengar
dari speaker telfon.
“Sayang.. kamu sudah bangun belum..
uhg..” Suara Ride menderu nafas.
“Ka.. kamu kenapa sayang?... selamat
pagi…” Yuna masih malas.
“Aku.. bermimpi.. meracuni minuman
bibiku.. dan kamu tahu ngga…”
“…?..” Yuna agak bingung.
“Setelah aku bangun tidur, aku sudah
terima kalau bibi aku pingsan.. sekarang anak-anak bibi disini, sayang…”
“Itu hanya mimpi… mungkin saja
refleksi emosi kamu tersambung ke emosi sekitar kamu saat kamu tidur..” Yuna
bermaksud menenangkan Ride.
“Aku kalah sama kembaran jahatku,
sayang…” Ride terisak-isak.
“…..” Yuna menjadi cemas.
“Sebentar yach….” Ride menjauh dari
telfon, Yuna berfikir sedikit mengenai kejadian yang baru menimpa Ride.
“Mimpi Ride itu luar biasa.. mimpi ke
pom bensin yang akan terbakar.. eh.. disini pom bensinnya kebakaran, baru
denger juga setelah Ride bangun.. mimpi ada pembantaian.. eh bangun tidur, Ride
melihat ada pembantaian di Cina… jangankan itu.. kemarin-kemarin itu saat dia
mimpi dan aku dengar dia mengigau bahasa Rusia, eh.. ada Cyber War.. dengar dia
ngigau ‘Ahlan wa sahlan (bahasa arab: selamat datang) eh.. ngga lama ada raja
Salman (Raja Arab) datang ke Indonesia… Astaga… dia merefleksi mimpi
prekognitif terdekat.. sementara Adwin merefleksi prekognisi jarak
berbulan-bulan ke depan dan aku merefleksi kejadian random ke depan… tapi kali
ini jenis refleksinya lain.. Ride selalu menjadi pelaku kejahatan, padahal itu
memang bukan dia.. aku bingung….” Yuna tidak ad aide lagi.
“Halo.. sayangku…” Ride kembali.
“Ada apa disana?...” Yuna menyambut
suara Ride.
“Darah tinggi bibi kumat.. gara-gara
anaknya pada berantem di rumah tadi.. dia di rumah sakit sekarang, sayang.. aku
sedih banget…”
“Kamu tenang aja ya sayang…
Kata ibuku..
Setiap manusia memiliki setan yang
tidur dalam dirinya dan mereka menjadi kepribadian jahat kita, jika kita
mengalahkan mereka, maka kita akan mendapatkan kekuatan mereka dan bisa
menggunakannya untuk melaksanakan urusan demi tujuan kebaikan..” Yuna
menjelaskan.
“Iya.. bang Adwin juga bilangnya
kaya’ gitu.. aku juga sudah dengar dari pamanku.. katanya suatu saat aku akan
bertemu kembaranku yang jahat dan aku harus mengalahkannya, jauh sebelum Adwin
mengatakannya kepadaku, yang..” Ride menghela nafas lemas.
“Aku juga punya alter ego jahat koq
sayang.. kamu tenang saja.. tapi alhamdulillahnya aku sudah ngalahin dia dengan
emosi aku sih…” Yuna menenangkan.
“Iya sayang..”
“Kamu pasti bisa, kita butuh proses
kan sayang..” Yuna menenangkan.
“Iya…” Ride menyerah pada waktu.
Yuna jadi teringat akan masalalunya dulu saat Adwin
memerintahkannya agar bisa menjarah sebuah toko hingga isinya bersih. Kejadian
itu terjadi sekitar tahun 2011 setelah Yuna lulus dari sekolah dan melepaskan
kemerdekaannya dengan berfoya-foya dijalanan mengikuti gaya hidup Adwin yang
rusak dan tidak punya batas waktu pulang ke rumah yang pas.
Tahun 2011………………………………..
“JDUAKKK!!!!!!!!!!!!!!..”Tinju Adwin
mendarat di perut Yuna hingga gadis berbadan lebih pendek darinya tersungkur ke
aspal.
Semua orang yang melihat tidak berani
memisahkan kakak beradik itu.
Yuna tidak menyerah, dia bangkit lalu berusaha meraih badan Adwin.
Yuna menjambak kerah pria jangkung itu dan kemudian menluncurkan kepalan tangan
kirinya ke pelipis Adwin tapi berhasil digenggam pria itu, Adwin menahan
tonjokkan Yuna dengan sempurna. Yuna dengan sigap meluncurkan lututnya ke perut
Adwin. Pria itu pun berhasil terjungkal ke belakang dan bersiap menerima
serangan Yuna selanjutnya. Sayangnya pria itu sepertinya tak sabar, dia yang
berkaki lebih panjang dari Yuna akhirnya menendang punggung Yuna hingga
adikknya itu terpelanting lagi ke aspal. Yuna sudah tidak tahan dihajar oleh
abang angkatnya karena sudah sedari tadi mereka bertarung.
“Aku sebenarnya
tidak tega memperlakukanmu begini, Dek!!.. Tapi apa boleh buat.” Adwin
menegakkan berdirinya sambil mengambil nafas.
Yuna tidak
berkutik, gadis itu tengkurap dan tidak melakukan perlawanan lagi, badannya
tidak bergerak.
Adwin
menghampirinya kemudian menganggat kedua bahunya untuk dia bopong. Pria kurus
itu menggendong adeknya ke trotoar dan membaringkannya disana.
“Ibuku terancam
di pecat dari perusahaan.. 40 juta adalah denda yang mustahil untuk dibayar
ibuku. Bukan ibu yang melakukan kesalahan. Tapi temannya! Aku takut!.. aku
takut sekali..” Lirih Yuna, mukanya sudah lecet-lecet karena terkena aspal
begitu pula lutut dan lengannya.
“Obati dirimu,
Dek… ayo ikut aku..!.” Adwin yang duduk di dekat tubuh Yuna kemudian bangkit
untuk menuju tempat kendaraannya diparkir.
Yuna berusaha
membangkitkan diri susah payah, tulangnya terasa hampir remuk semua dan
tubuhnya sekaku kayu broti. Kini dia harus berjalan sempoyongan dan menuju
Adwin yang sudah duduk di tunggangannya. Yuna pun akhirnya duduk di sepeda
motor besar milik Adwin dengan menyandarkan kepala ke punggung Adwin.
Orang-orang hanya diam tidak memberikan komentar karena muka boss Kecenk itu
menyimpulkan mata serius kepada penolakan Yuna atas perintahnya malam ini.
Sementara satu-satunya gadis di genk mereka itu sendiri adalah adik angkat
ketua.
“Boleh ku jujur
padamu!..” Suara Adwin terdengar samar karena udara di jalan yang mereka
terjang.
Yuna mengangguk,
kepalanya masih tersandar di punggung pria itu.
“Saat aku
melawanmu, sejujurnya aku menggunakan kemampuanku sendiri. Entah kenapa.. tapi
sepertinya kemampuan khadamku tidak mau keluar.. dan sakit sekali rasanya..”
“………..” Yuna
tidak terlalu memasukkan dalam fikiran, kini jalan otaknya buntu.
“Hahaha!!!...
biasanya kulitku dibakar pun juga tidak terasa apa-apa!!..” Adwin kegirangan.
12 menit
perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah kompleks kost putri yang dihuni
gebetan Adwin saat itu. Di tahun 2011 ini, Adwin sudah terlalu banyak berganti
pacar.
“Kemana nich?..”
“Pacar baru…”
“……Oh….” Yuna
memejamkan mata meresapi sakitnya kulit-kulit yang tergores di mukanya.
“YOP!! SUDAH
SAMPAI NICH!!..” Adwin menghentikan kendaraannya, Yuna sigap turun kemudian
menyandarkan diri di pohon terdekat.
“Aku pegang
kunci dia, dan penghuni kost ini malah yang lagi ngga ada, jadi ayo masuk
saja!!..” Adwin cepat menuju pintu kost-an dan membuka pintu putih bangunan
itu.
“Gila kau…”
Bisik Yuna mengomentari Adwin.
Yuna melihat
kakaknya sudah melenggang masuk ruangan yang gelap dari bangunan itu lalu
seperti ada cahaya lampu dinyalakan. Yuna pun masuk kemudian duduk di sofa.
“Ini rumah sewa
apa kost?..” Yunsa sambil membaringkan badan.
“Isinya delapan
cewek, kost..!!.. mereka mahasiswi..!..” Adwin melangkah menuju entah kemana ke
bagian belakang rumah, hanya suaranya yang terdengar. Yuna tidak peduli, dan
mulai menyantaikan diri.
Tak beberapa
lama kemudian Adwin kembali membawa P3K, dan melemparkannya ke Yuna.
“ADEWW!!..”
Keluh Yuna saat perutnya dilempari P3K oleh Kecenk. Kemudian pria itu duduk di
sofa yang lebih pendek dari sofa yang dibaringi Yuna.
“Obati dirimu,
jangan lemah seperti itu!!..” tatapan Adwin sinis.
Yuna pun bangun
dan menuju ke belakang, dia berniat membasuh lukanya ke kamar mandi. Yuna melihat-lihat
isi rumah saat mencari kamar mandi, terlalu mewah untuk di sebut fasilitas
rumah kost!.
Setelah kembali
dari kamar mandi dan duduk untuk mengobati diri, Adwin membuka percakapan saat
melihati adiknya tengah memasang muka yang menahan rasa sakit.
“Putri Elisabeth
manja kenapa bersikeras menjual Es Krim?...”
“UMH!! Sudah
jelas biar bisa dapat 40 juta itu!...”
“Ng…”
“..!!!.” Yuna
memperban telapak tangannya yang lecet karena terkena aspal saat menahan badan
dari jatuh.
“Tapi aku ga
rela melihatmu kayak gitu loch..!
Mempertaruhkan
nyawa untuk bisa dapat uang cuma dengan cara kotor seperti aku..”
“Seperti
aku!!?.” Yuna tidak peduli, dia mengambil cermin di kotak P3K kecil itu dan
mulai meneteskan obat merah ke mukanya yang babak belur.
“Hahhaa… Hey!!..”
Kecenk merasa dipermainkan adiknya.
“..!!!.”
“Hey!!! Aku
serius lho!!!..”
“Aku lebih
serius!!!...”
“Hmh..
Hihihii…hihi….” Kecenk nyengir melihat muka cemberut Yuna.
“!!!!...” Gadis
itu masih sibuk sendiri mengobati lututnya, Yuna memakai celana pendek dibawah
lutut dan itu membuat kakinya tadi tidak terlindungi dari padasnya aspal.
“Begini saja,
lebih keren kalau merampok atau melakukan pencurian! Bagaimana?..”
Tawaran Adwin
membuat mata Yuna terbelalak, dia sigap melempar tembakan mata ke pandangan
Adwin.
“Kenapa
melotot?!..” Muka Adwin terpasang expresi innocent.
“Tolol! Aku ngga
mau jadi pencuri cemen!!!” untuk pertama kalinya Yuna mengumpati ketuanya.
“HAHAHAHAH!!!!!!!!!....”
Adwin kegirangan.
“Huuuh dasar
idiot kakap….” Gerutu Yuna.
“Kamulah penentu
tempat yang akan kita jarah! Itu perintah!..” Adwin memicingkan matanya ke arah
Yuna. Dan gadis itu menantang pemuda itu dengan tatapan tajam juga.
“TCHIH
lah!!!!!!!.”
“HAHAHAHAHA…!!!!!!!!!!!!!..”
Adwin tertawa terpingkal-pingkal.
TCHIH!!! Kalau aku kualat ntar gimana, aku ngga mau
kerampokan gara-gara aku pernah ngrampok orang!!!! Aduh!!!!!!!
Yuna berfikir
keras sementara Adwin terus saja terbahak-bahak.
“Ayo kita cari
makanan! Kamu lapar tidak setelah senam tadi denganku?...” Adwin pasang senyum
murahan.
“AS*WWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWW!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.....”
Yuna berdiri dan mengumpat lagi.
“HAHHAHAHAHHARGHHHHHHH!!!!....”
Adwin berdiri lalu merangkul Yuna keluar rumah dan mengunci pintu bangunan itu
lagi.
Yuna menunggu
kemudian ikut berjalan bersama ketuanya ke arah sepeda motor berwarna ungu.
“Aku penasaran
sama muka cewekmu yang huni rumah ini!?” Yuna masih sewot.
Adwin merogoh
sakunya kemudian mengeluarkan smartphonenya, menggeserkan jemarinya kemudian
menunjukkan monitornya ke Yuna. Ada seorang cewek semok berdada besar dengan
berfose nakal dengan hanya mengenakan bra saja.
“Anj…… EEEEERGH
cewek murah aja koq dipacarin!!!!!.” Kesal Yuna yang melihat Adwin begitu
gampangan, menel.
“Bukan yach!...
Dia makai Jilbab koq kemana-mana..” Senyum Adwin ringan memperhatikan
monitornya lagi kemudian menyimpannya ke saku lagi.
“Lhah koq bisa
dia selfie kayak gitu?!...”
“Aku yang minta
hahaha!!...” Adwin menaiki kendaraannya.
“EEEHH… dasar
o’on!!..” Yuna naik di belakang Adwin.
“Dia saja yang
ngebet aku nikahi, aku sich santai hahaha!!!..” Kemudian kendaraan itu
dinyalakan dan mereka meninggalkan tempat sepi itu.
ψ(`∇´)ψ
{╋╋ム┣┫ム
╋╋ム)
Sesampainya Yuna dan Adwin di tempat makan,
mereka duduk agak menjauh dari keramaian orang-orang karena pasti agar aman
saat jaga percakapan bisnis.
“Emang dia kemana koq ngga ada di
kost-annya?..”
“Ngga tahu.. Ke Bali kalau ngga salah,
liburan bersama teman sekostnya..”
“Ohh…”
“Jadi bagaimana?..” Adwin nyengir.
“Bagaimana apanya?”Yuna pasang muka polos.
“Nanti mau menjarah toko mana?..” Adwin membidik mata Yuna
dengan segenap kelicikan dan aura hitam.
“Eh!!...” Yuna pasang expresi palmface.
Adwin tersenyum sinis.
“Iya sabar, bung!..”
“Siapa yang bertarung bersamamu tadi?..”
“!!!.. Eh..?!” Yuna mengambil snack yang ada di atas meja.
“Aku tahu itu bukan kepribadianmu kan? Itu
alter apa tuh?..”
Adwin nyengir kuda.
“Alter ego, kan enak sih alter-ego.. eja gitu
aja masa’
ga bisa?!..”Yuna
menyantap snacknya.
“Haha! Iya itu..!!..”
“Iya, itu tadi Veraline.. Alteg gitulah..”
“Kenapa bisa ada dia?...”
Pipi Yuna mulai merah, dia seringnya malu
jika ditanyai perihal koleksi altegnya.
“Ngga tau aku!..” Yuna mengalihkan pembicaraan.
“EH! Ngga ngehargain kalau diajak ngomong!
Kebiasaan!!!”
Adwin mulai pasang muka tidak puas dan
jengkel.
“Dia karakter mantan anggota Nazi gitulah..
dihianati komando dan melepaskan diri menjadi gelandangan di jalanan dan mendirikan
banyak pasukan elit versi pemberontak pemerintah untuk membebaskan anak-anak
yang dijadikan korban human experiment seperti dia, dia sendiri korban human
experiment orang tuanya.. begitu..”
“Waah! Bisa dibikin tuh novelnya! Haha..!”
“Emang iya!!.. udah aku buat..”
“Mana coba, Dek!..” Muka Adwin sumringah.
“Sejak SMP, aku sudah bikin cerita itu.. dan
sudah mencapai chapter 7.. tapi bukunya aku bakar! Aku semakin takut dengan
diriku sendiri..”
“Kalau begitu gunakan dia biar bisa lancar
menjarahnya nanti.. gimana?” Ide picik Adwin kembali muncul.
“Iya, bisa..”
“Nah.. gitu dong… brilliant!...”
“….”
“….”
“….”
“Aku mau tanya sesuatu!..”
“Apa, Dek?.”
“Apakah masalalumu indah?.. maksudku, kamu
terus saja tersenyum begitu kalau lagi diam.. apakah kriminil itu tidak hanya
dihuni anak-anak broken mental?..”
“Huuh?.. apa maksudnya?.. haha….”
“Masalaluku
suram, aku seringnya dibully anak-anak tetanggaku sendiri, di sekolah lebih
parah lagi, dan di jalanan aku malah melakukan sebaliknya gara-gara ketemu
orang sepertimu.”
“Hum..
begitu yach? Pilu juga masalalumu yach.. Cuma dibully kan?..”
“!!!?
Cuma dibully kan?.. Cuma?.. kamu mengalami hal lebih dari itu?...”
“Hahaha,
mau tau aja apa mau tau banget?.. masalah buatmu?..” Adwin nyengir kuda.
“Iya!..”
“?...”
“Aku
punya masalah denganmu, kamu membuatku begini jadi aku harus tahu seluk beluk
mengapa kamu membuatku jadi sepertimu?..”
“EEH!..
aku tidak menjadikanmu sepertiku koq! Aku menjagamu dari perbuatan seperti
kegiatanku kan!.. makanya aku hajar kamu tadi biar kamu jera! Aku tidak mau
kamu kenapa-napa dipenjara seumur hidup! Kamu kan pemula dan tidak tahu masalah
apa-apa.. kamu kucing rumahan, aku yang kucing pasar..”
“….”
“Baiklah…..
aku bisa koq kasih tahu semuanya untukmu..”
“!!!
Umh!..” Yuna mengangguk.
“Aku…
dulu tejebak dalam sebuah genk.. disekolah, aku dihormati banyak orang karena
ortuku punya peran besar..” Adwin melihat ke arah jalan.
“..Oh..”
Yuna melihat ada tatapan kosong di kedua mata Adwin.
“Saat
dijalanan aku sendiri yang suka bergaul akhirnya direkrut sebuah genk
berandalan dan aku mengalami sesuatu..” Adwin mengedipkan satu kedipan lama.
Seperti memendam hal yang berat.
“…!?.”
“Aku
diculik..”
“!!!!!!!?..”
Yuna terperangah.
“Aku
dibius menggunakan cairan ganja.. dengan dosis tinggi hingga lemas..”
“Ah!!!?
Trus?...” Yuna melihat muka Adwin yang berubah menjadi nonekspresi.
“Mereka
mengancamku.. Aku harus membantu mereka untuk menjual barang haram ke sekitar
lokasi aku tinggal…”
“!!!!!?...”
“Jika
tidak!!.. akan ada yang mati.”
“!!!?..
Si siapa yang terancam mati?..”
“Satu
per satu anggota keluargaku..”
“Me..memangnya
mereka itu siapa?..”
“Itulah
yang membuatku dekat dengan segala sumber informasi…
Aku
berfikir, bagaimana cara agar aku bisa mengelabui mereka, aku mencari informasi
mengenai mereka sembari menjalankan perintah mereka sampai sekarang dan suatu
saat pasti akan aku penjarakan orang-orang Australia itu..”
“!!!!!!!!?....
Ah!...”
“Saat
kepala sekolah memanggilku beserta kedua orang tuaku, aku kepergok menjual
ganja dan pil ekstasi.. kemudian aku di DO dari sekolahan..”
“!!!?...”
“Aku
menjelaskan kepada ayahku, dan yang terjadi justru diluar harapanku..
Ortuku
bertarung argument. Mereka terus melakukan itu hingga akhirnya ayahku membawaku
ke Jakarta. Ternyata ini semua adalah kesalahan pamanku sendiri yang berusaha
menjerat ayahku, perusahaan ayahku bangkrut dan ibuku mengasingkan diri.. di
Medan.. Ayahku membuangku kesini supaya aman.. dan berniat melindungiku..”
“….”
“Ayahku
fikir.. bahwa dengan melarikan diri ke pulau jawa akan membuatnya bisa bersembunyi
dari kejaran pamanku, tetapi.. justru sebaliknya… kini ayahku terus berlari aku
sendiri kehilangan informasi mengenai keberadaannya.”
“!!!?...”
“Terlalu
berat, aku senantiasa memojokkan diriku dan karena tak tahan akhirnya aku
mengedarkan barang beracun itu lagi, ini semua karena kepentingan politik dan
bukan hanya kepentingan bisnis.. ada yang ingin menghancurkan Negara kita
secara perlahan dan tahun depan mungkin cina akan datang untuk memperparah…”
“!!!!!..
aku tidak mengerti….”
“Aku
juga tidak mengerti sampai sekarang siapa dan apa sebenarnya yang diperbuat
ayahku, aku harap bukan korupsi.. aku benci dengan koruptor..”
“Pamanmu?
Kenapa ayahmu tidak melaporkannya ke polisi saja?..”
“Tidak
ada barang bukti yang bisa menjebak dia, segala cara tentu sudah dilakukan
ayahku..”
“Lalu..
sekarang selanjutnya bagaimana..?.”
“Kota
ini tempat yang aman, polisi pasti bisa memenjarakan siapapun yang menjual
narkoba.. termasuk anak buahku..”
“Kau
memasukkan mereka kedalam daftar rencanamu!!?.. kau yakin namamu tidak akan
tersebut oleh mereka..??!.” Yuna semakin memelankan suaranya.
Adwin
menggeleng.
“Mereka
tidak akan pernah berani..”
“?...”
“Satu
orang pernah menyebutkan namaku dan mati di dalam sel tahanan sementara sebelum
introgasi selanjutnya dimulai..”
“Ko..
Koq bisa..?.”
“Pengikutku
bukan hanya dari orang tetapi juga mahluk jenis selain orang biasa…”
“!!!!!?...”
“Hanya
kau yang bisa melaporkanku ke polisi, Dek.. Kekuatanku tidak mempan
terhadapmu..”
“!!!!!!?...”
“Siapapun
yang menghianatiku harus mati… tapi aku tidak tahu tentang bisakah aku
membunuhmu..”
Yuna
menelan ludah.
“Siapa
sebenarnya pamanmu itu?...”
“Setahuku,
dia mafia illegal logging..”
“!!!!!?....”
“Tidak
ada yang beres dalam keluargaku, Aceh benar-benar sudah tercemar.. Serambi
mekkah itu kini menjadi serambi neraka.. ini hanya fikiranku saja.. Ganja
tumbuh subur di pelosok rumah yang tersembunyi.. dan ditanam di dalam rumah
beberapa penjahat.”
“…Ini
pelecehan kak..”
“Aku
tidak menyebutkan hal yang terlarang! Ini kenyataan..”
“….?
Lalu sekarang bagaimana?..”
“Aku
pasti bisa menjebak mereka dan memenjarakan mereka.. Kau tenang saja.. Ayahku
orang yang baik, mungkin dia punya hutang yang belum bisa dibayar pada pamanku
sehingga ayahku diperas dan justru aku yang digunakan olehnya dari jarak jauh..
pamanku sangat pintar.. aku yakin orang-orang aussy itu pasti punya hubungan
bisnis dengan pamanku.. dia menjual keponakannya sendiri agar hutang ayahku
terbayar!! Aku tidak akan pernah terima keadaan seperti ini!!..”
Nafas
Yuna tersengal.
“Posisimu
begitu sulit!... tak ku sangka!...” Yuna menahan iba dalam dadanya.
“Aku
yakin informasi ini benar, beberapa kali aku pergoki ayahku telfon paman
mengenai hutang saat kami tiba di hotel Jakarta sebelum ayahku melemparku
kesini.”
“…
Darimana..”
“Hum..?”
Adwin tersenyum menenangkan Yuna agar tidak tenggelam dalam kisah Adwin.
“Darimana
kau bisa punya pasukan khadam jin seperti itu.. sampai bisa membunuh anak
buahmu yang tertangkap polisi jika buka mulut tentang namamu?...”
“Aku
sudah punya sejak kecil..” Adwin tersenyum.
“!!!!!!!!?..”
“Aku
ditakdirkan menjadi orang beraura hitam tapi aku bukan anak indigo sok suci
yang selalu berusaha menolong orang yang kesusahan.” Ledeknya.
“Indigo
sok suci gimana?...”
“Anak
indigo selalu berusaha menolong orang lain, itu bedanya aku dengan mereka..
mereka itu juga diikuti sepertiku.. tetapi hasrat ingin menolong orang itu
sangat tinggi dalam jiwa mereka, entah mengapa..”
“Kau
yang sok kotor…”
“!!!?..
Eung?..”
“Kau
.. telah berusaha menolong ayahmu bukan?..”
“…”
“Entah
mengapa kau terus saja menolong ayahmu sampai masuk kandang buaya seperti ini,
meski ayahmu selamat dan mereka yang menderitakan keluargamu dipenjara tapi…
kau akan terkena hukuman seumur hidup juga..”
“Euh..?...”
Adwin melihat pelayan yang datang membawa makanan dan meletakkan di meja makan
mereka, sate kambing yang lama datang karena banyak yang antri di restoran
terkenal itu.
“Hihi
kau benar, jadi aku juga sok kotor dan sok suci sekaligus yach!!.” Adwin
menyantap hidangannya.
“Mengorbankan
diri demi orang lain itu perbuatan yang susah diterima banyak orang yang belum
memahami perasaan kita.. kita terpojokkan…” Yuna merenungi masalalunya.
“Hey!!!.”
“!!?..”
“Makan
dulu!!.. Sapi saja yang terjebak ikatan tetap mau makan, masa kamu ngga?..
ikatan masalah itu bukan hal yang harus membuatmu mengahiri hidup.. Hidup untuk
makan, bukan makan untuk hidup..”
“Kebalik..”
“Tidak
kebalik!!.” Adwin tersenyum yakin.
“Tergantung
sudut pandangmu, kita lahir pasti untuk meminum asi ibu.. jika tidak maka akan
mati.. jika mayat dikasih makanan pun belum tentu dia akan hidup..”
“EUM!..”
Yuna mengangguk lalu menyantap makanannya dengan lahap.
“Soal
penjarahan selanjutnya! Aku tidak yakin!..” Pipi Yuna menembam penuh makanan.
“HAHAHAHAA!!!!!!!..........”
Adwin tertawa lagi.
Dia tertawa untuk mengubur masalahnya. Semakin seseorang
sering tertawa, maka sebenarnya orang itu ingin melupakan masalahnya sejenak..
terasa berat jika terus dipikirkan bukan?
“Dah dapat belum,
Dek..?!.” Nada Adwin semangat terdengar dari speaker handphone Yuna.
“E… Sudah kak..”
Yuna menghela nafas panjang.
“AYO
BERANGKAT!!!!!!!!!!...” Adwin menutup telfon segera setelah memekakkan telinga
Yuna dengan teriakannya.
“Sial..” Yuna membanting nafas panasnya yang penuh emosi lalu
berjalan keluar rumah sembari memakai jaket hitam bergambar kepala tengkorak
Punk, menuju tugu pembatas wilayah desa tempat dia tinggal. Pikirnya pasti dia
akan dijemput si Jon seperti biasa. Dan ternyata benar, tak lama kemudian Jon datang dengan sepeda motor besar berwarna hijaunya.
“Mbak, nanti kita kumpul di rumah mas Mawir dulu ambil
peralatannya!!!..” Jon berteriak saat melewati persawahan.
“Yo wis terserh gimana nyamannya aja!!..” Yuna sungut.
“Kenapa mbak kayak yang bête gitu!!?..” Si Jon membungkuk sambil
menambah kecepatan.
“!!!!...” Yuna menurunkan telapak kaki kanannya dan menahan kaki
kirinya agar nanti saat menurunkan kecepatan badan dia tidak menyentuh tubuh si
Jon, Yuna membungkuk sambil menyilangkan lengan.
“Pegangan mbak, biar ngga jatuh!!..” Si Jon berkelok memotong truk
yang ada di depan sambil mendadak berkelok lagi menghindari mobil yang ada di
depan.
“!!!!..” Yuna menolak dengan mendengus saja.
‘Mana mau aku sama kamu
begitu!! Ahiiiirghhhh no no lah!!!...’ Yuna merinding sendiri membayangkan
si Jon nanti kalau jadi salah mengartikan.
┗(`Д゚┗(`゚Д゚´)┛゚Д´)┛
“MBAK
CINTAH!!!...eh mbak citah deink.. hehe!!...”
Deden menyambut Yuna turun dari sepeda motor, rumah Mawir sudah sangat ramai.
“Berapa
anggota yang akan ikut?..” Yuna menata
rambutnya yang tersibak semua ke belakang.
“Ada
Mas Mawir.. Ada Deden.. Ada si Jon.. Mas Kecenk.. Mas Badak.. ada Mbak Citah..
mas
Badak naek sepeda motor ngawasin kegiatan kita nanti dari pos penjagaan..”
Deden menuntun Yuna berjalan ke rumah Mawir yang masuk ke dalam gang sempit,
sementara Si Jon melanjutkan perjalanannya menjemput Badak yang rumahnya dekat dengan Mawir
beberapa blok lagi ke depan.
Yuna
berjalan mantab meski jantungnya berdebar sangat keras, untuk pertama kalinya
dia akan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain karena tuntutan komandan
komplotan tengil jalanan itu. ‘Ini
menyebalkan sekali.. kera besar itu terus saja bertanya mana.. mana.. mana yang
mau dijarah.. toko mana.. sial.. aku jadi berlumuran dosa gara-gara kegiatan
haram ini!!!.’Yuna
mengutuk-ngutuk dalam hati.
Akhirnya
mereka sampai di rumah Maweir yang berukuran kecil, rapat jaraknya dengan
rumah-rumah tetangga, beberapa orang sudah menunggu. Dan sang ketua sudah
pasang muka kusam dengan matanya yang tajam membidik agar Yuna bertindak
serius, ini bukan sekedar permainan.
“Lama
amat!!.” Adwin menghisap rokoknya yang sudah mau
habis kesal, selama itulah dia menunggu kedatangan adiknya itu, mungkin itu
batang ke beberapa batang sebelumnya.
“Jangan
salahkan aku.. kan aku sudah bilang akan keluar setelah Isya’
aku mau ke warnet dulu ikutan battle selfie online..”
Yuna tidak mau kalah.
“Halah..
selfie… bikin foto beredar saja.. kalau ketahuan..
polisi enak saja nanti nyariin kamu..” Adwin membuang
putung rokoknya dengan sekali sentilan ke depan. Yuna melihati kemana arah
putung itu jatuh tidak memperdulikan kritikan Adwin soal hobinya yang aneh itu.
“Kemana
Dek?..” Nada Adwin turun.
“Eh!!!... Em..” Yuna menggaruk belakang kepalanya.
“Si Jon yang tau.. aku lupa jalan mana..!! biasa aku kan emang
begini anaknya.. pelupa..” Yuna duduk di sebuah tempat duduk semen di teras,
melihati Mawir yang baru datang entah darimana sambil membawa kardus besar dan
sekarung goni putih berisi benda-benda besi.
“Linggis?...” Tebak Yuna.
“Lhoh! Mana Jon!?..” Mawir melongo sambil menaruh semua bawaannya ke
lantai teras.
“Jemput mas Badak..” Yuna menghela nafas.
“Kok kayak lemes belum makan satu bulan gitu, mbak?..” Mawir duduk
di sebelah bule keparat yang dia anggap sebagai ketua genk.
“Mana tahan aku begini, aku newbe..” Yuna melengahkan muka.
“Ketua kita kan anggota mavia.. masa’ sich mbak takut katangkep?..
asalkan infonya bener.. jamnya bener.. ya ngga bakalan lah mbak kena jeblos
penjara hahaha…!!!.” Mawir terlalu asyik memuji Adwin biasanya itu modus supaya
dielus-elus si boss.
“Ga ngaruh!.” Ketus Yuna menyilangkan lengan.
Suara knalpot sepeda motor Si Jon berbunyi, datang bergerombolan
dengan tujuh anggota lainnya dan tentunya Yuna tidak pernah hafal nama mereka.
Terlalu banyak anggota dan mereka yang datang adalah yang berumah dekat dari
rumah Mawir, belum lagi nanti jika ke rumah Deden maka anggota lainnya terdekat
dari rumah Deden juga pasti ikut reuni seperti ini, dan itu membuat pusing
memori.
“Ada sepeda motornya?!..” Adwin berdiri menyambut.
“Ada Mas!!! Hahaha..!!!.” Kobar, itu julukan anak laki-laki STM Bengal
yang berbicara barusan, turun dari boncengan temannya dan menepuk keras sadel
sepeda motor yang masih menyala itu, motor bebek dengan NOS dan sudah
berkondisi rontok body, alias motor yang sudah diotak-atik liar.
“Nah kalau makai barang ini mantab nich..” Adwin berjalan melihati
perangkat kendaraan itu.
Jon turun dari sepeda motornya lalu masuk ke dalam rumah Mawir,
tujuh anak itu menjaga di halaman sambil merokok dan tertawa dengan cerita khas
mereka yang tidak terdengar jelas jika tidak disimak, dengan suara keras mereka
yang membahak ke udara malam itu.
“Jadi gini Mas.. Kami sudah keliling.. ini daerah kota tapi sepi
banget jalanannya.. memang deket jalan raya besar tapi toko kanan kirinya lebih
sore tutup.. sudah aku cek sama Frendy.. ngga ada yang jaga.. dilempari batu
pun ngga ada yang datang jenguk..!!.” Tukas Jon sambil duduk jongkok ke lantai
sementara Yuna berdiri diantara pintu masuk, Adwin duduk di sofa bersama Badak
dan Deden.
“Trus?..” Badak ikutan kepo, tangannya menggertakkan tulang.
“…” Yuna menelan ludah, badannya seperti kepanasan dan perutnya
mulas entah kenapa.
“Aku tahu dari mbak Yuna.. dia nyuruh aku periksa ya sudah.. aku
tanyai.. apa toko ini mbak.. dia jawab iya!!..” Jon nunjuk Yuna, semua
laki-laki menoleh ke Yuna.
“Eng.. enggak ogak gitu koq! Aku bilang! Emang bisa?... ‘Emang
bisa?’ gitu koq…” Yuna mengelak, Adwin menghela nafas.
“Jadi gimana?!...” Adwin menatap Yuna dingin dan tegas.
“Eg!!!...” Yuna merinding.
“!!!?.” Adwin terus mendorong mental Yuna dengan tatapan kejinya.
“Iya aku nanti coba usahain biar ngga ada yang datang ke situ..”
Yuna menggosok leher belakangnya.
“Gini loh mbak! Mbak kalo mau jadi maling itu harus mau punya
pegangan.. taruh saja pocong atau genderuwo di sekitar TKP biar ngga ada yang
mau ke situ.. karna hawanya beda..” Mawir bijaksana untuk menghancurkan yang
sudah hancur jadi semakin hancur.
“Iya aku bisa koq.. aku coba dikit deh, ngga makek demit juga bisa
koq..” Yuna menyesali saran Mawir.
“Kondisi aman jam berapa?!..” Adwin membuang muka ke Jon, seolah
sudah tidak mau lagi melihat Yuna yang tidak bertanggung jawab atas perintah
dan rencana penjarahan mala mini.
Tiba-tiba ada rasa menyesal karena sudah membuat seseorang kecewa,
secara professional.. mereka adalah sudah termasuk golongan penjahat. Tetapi
Yuna belum bisa beradaptasi dengan statusnya itu.
“Jam dua belas!!.” Sahut Yuna. Adwin tidak menoleh kea rah muka Yuna
lagi.
“Jam dua aja mbak!..” Saran Jon yang menjadi percaya diri karena
sudah merebut kepercayaan Adwin.
“Polisi lebih mudah memeriksa suara kecil saat semua lagi hening..
pas -jam dua belas jalanan kan belum hening…” Yuna mencoba mengaktifkan
Veraline.
“Terlalu beresiko loh mbak…” Jon mengelahkan muka.
“Semakin beresiko semakin aman, makanya harus gesit jangan bawa
banyak orang. Kita harus muat semua dalam satu kendaraan. Lalu barang lainnya
dimuat di satu mobil itu bagus.. toko ini besar bukan kios kecil-kecilan.. ada
CCTV..!!.” Nada suara Yuna berubah, menyilangkan tangan ke depan.
“Nah….. itu aku suka….” Adwin berdiri lalu menepuk pundak Yuna,
berkacak pinggang.
“Aku sudah buat topengnya…” Mawir ke teras mengambil kardus tadi dan
dia segera kembali meletakkan topeng-topeng kain merah diatas meja.
“Wekkk Jreng bener itu warnanya!!!..” Badak terpingkal mencoba
topeng itu.
“Mas Kecenk khusus deh warna hitam… ini.. mangga.. sepuluh ribu
dapat tiga.. dipilih-dipilih…” Sambil menyodorkan malah bercanda garing.
“Kayak jualan sempak eh!.” Yuna ketus.
“Ini masih jam sepuluh.. mobilnya ga usah diambil dulu… jam setengah
dua belas baru diambil dari pemilik..” Adwin menyandarkan diri sambil melihati
Handgun miliknya yang dia dapatkan entah dari mana, diusapnya pakai kain lap
dan dicek isi pelurunya.
“Lengkap nich, komandan?!!..” Yuna meledek sambil menghela nafas.
“Kamu mau?.. nih kamu yang pegang!.” Adwin menyodorkan handgun hitam
dengan hiasan besi berpola api bewarna emas di pegangannya itu.
“Waaah!... Epic..” Yuna baru tahu kalau handgun itu berat.
“Aku pegang ini saja!!..” Nada Kecenk lucu seperti sok imut sambil
memainkan linggis kecil.
“Disimpen dimana nih?!!.” Yuna mengendus kesal ke muka Adwin, sontak
laki-laki dingin itu melempar sabuk wadah handgun.
Yuna menerimanya lalu meletakkan Gun ke meja, melepaskan jaketnya,
dan dengan tangan agak gemetaran dia mengalungkannya ke badan dan memasukkan
Handgun itu ke sarung yang terdapat di sabuk itu, di depan dadanya yang trepes
karena memakai Binder, Yuna benar-benar seperti anak laki-laki.
“DINGIN BESINYA!!!.” Yuna merinding merasakan body gun yang
menyentuh kulitd dadanya yang sudah berbalut kain.
“Hahaha! Sini aku hangatkan!!..” Badak mendorokan tangannya.
“Eh As*w lah..!.” Yuna memakai kembali hoodynya.
ヽ(#゚Д゚)ノ┌┛Σ(ノ´Д`)ノ
“Go!
Go! Go!...” Adwin melambaikan tangannya tanda menyuruh cepat keluar dari mobil.
Semua siap dengan linggis langsung
berusaha membuka pintu garasi toko. Sementara sosok lebih pendek dari pada yang
lainnya sedang memegang handgun dengan mantap mengedarkan pandangan ke arah
jalan. Jari telunjuknya diap untuk menarik pelatuk. Satu menit kemudian mereka
semua masuk ke toko itu dan mengambil semua isi toko itu, baju-baju distro dan
topi-topi distro. Yah mereka menjarah sebuah Distro di kota bagian pinggir.
Semuanya di borong.
“Siap! Terus! Siap!.. Gerakkan terus
cepat!!.. Gerak!..” Yuna mengoper lambaian tangan terus saat orang-orang berlarian
membawa baju dan melemparnya ke dalam mobil yang sudah terbuka.
Sepuluh menit kemudian semua isi
Distro benar-benar bersih dari barang dagangan. Yuna masuk ke dalam mobil yang
sudah disumpali banyak baju, duduk disamping sopir.
“Gerak cepat!!! Dahului saja
Kecenk!!...” Yuna mengacungkan Handgunnya ke arah depan memerintah Jagur yang
duduk di seat sopir.
“!!!!..” Jagur langsung tancap gas,
mobilnya ada di depan mobil yang disopir Deden yang memuat ketua beserta
anggotanya sehingga menjadi lebih mudah.
“Lari ke mana mbak!!!?..” Jagur
panic.
“Keluar duru dari daerah polsek
sini!!..” Yuna melihati Badak sudah mengendarai motor bebek yang tadi dibawa
Kobar.
“!!!...” Badak mengimbangi kecepatan
mobil yang dikendarai Jagur dan mengarahkan tangannya sebagai petunjuk jalan,
pria bertopeng dengan helm teropongnya itu kemudian berbelok ke kiri memasuki
gank.
“Kita berpencar lalu masuk markas!!!
Barat kota!! Gerakkan cepat gas terus!!.” Yuna mengarahkan sambil menoleh ke
belakang melihat mobil yang dibawa Deden yang sudah hilang dari ekor mereka.
“Siap!!..” Jagur tancap gas.
(╯°Д°)╯︵/(.□ .
)
“GILA BENERRRRRRRRRRRRR!!!!!!!...”
Yuna berteriak serak melepas topeng dan hoodynya, membanting ke tempat duduk
lalu mengusap mukanya.
“Untung
saja punya markas di sini!!..” Deden meletakkan diri di atas terpal yang
dibentang diatas rerumputan, mereka kini di dalam sebuah daerah jauh dari
perumahan dalam bangunan rumah yang sudah dihancurkan atap, pintu dan beberapa
jendelanya.
“Sekarang
kita jangan diam.. panggil kendaraan bermotor
ke sini, kita pulangkan mobil ini.. sementara barang jangan kita lepaskan..
anak-anak bisa saja nyomot barang kita..” Adwin berdiri setelah bernafas
sejenak menuju mobil.
“Kita
amankan dulu hasil kita, Mas!!..” Mawir bersemangat.
“Jon!! Anak-anak jangan nyampe ada
yang kau kasih tau!! Kita Cuma bayar pake eskrim ke mereka soalnya!..” Jagur
memang kurang percaya dengan Jon, meski Yuna anak baru tapi Jon terkenal
sebagai mulut emberan dibanding Yuna.
“Walah mas, aku ngga kayak gitu
koq!!.. aku kan pengawal setianya mbak Yuna! Ya toh mbak!.. aku pernah salah
kerja mbak?!..” Jon butuh pemberaan.
“Iyo..” Yuna tidak terlalu peduli.
“Karungnya ngga cukup ternyata!!..”
Tukas Mawir setelah memasukkan semua baju ke dua karung yang sudah dia bawa
dibantu Jagur dan Deden.
“Terpal ini apa gunanya?!!..” Yuna
teriak sambil terengah-engah masih berdebar sehabis tadi karena ada CCTV.
“Oh iya!!..” Jagur lalu menghampiri
dibantu Deden semua kerja sama, Jon memutar balik mobil yang terparkir ke dalam
bagian belakang rumah untuk di hadapkan ke jalan keluar lalu menyusul Adwin
yang memasang plat palsu ke dua ke mobil satunya.
“Dah.. its clear now!!..” Adwin
menepuk kedua tangannya membersihkan diri.
“Ganti baju guys!..” Adwin membuka
pintu mobil dan mengambil tas berisi bajunya sendiri.
“Kami ngga bawa mas!..” Jon menyela.
“Pakai saja punyaku itu!!..
kenang-kenangan lah hahaha!!...” Adwin menukar bajunya.
“Mas!! Jaketku ini jangan
dibuang!!...” Yuna yang dari tadi bersantai hanya melihati, mengeluh.
“Simpan dalam tas sini..” Adwin
tersenyum kecil.
“Hehe..” Yuna berjalan ke tas yang
sudah diletakkan di samping mobil dengan resleting terbuka, lalu memilih baju
putih bertulisan kanji ‘Ronin’ dan masuk ke mobil, menutup pintu untuk ganti
baju.
“Udah pada siap, Mas!!..” Jagur keringatan
lalu menanggalkan kaosnya dan kemudian mengelap keringatnya. Menghampiri tas
dan mengambil baju hitam berlogo kepala Lucifer.
“Njir.. Lucifer…” Yuna tersenyum
nyengir tak habis fikir.
“Mas.. ini mau dikemanain
barangnya?.. anak-anak mau ditelpon kapan?..” Mawir memakai baju Adwin sambil
berfikir.
“Jam setengah satu..” Yuna melihat
arlojinya.
“Kita.. taruh saja di belakang ka
nada tembok agak tinggi disitu.. telfon saja sekarang..” Adwin berfikir.
“…!.” Mawir sebagai operator
terpercaya membuka telfonnya yang berisikan daftar nomor penjahat kemudian
berbicara dengan seseorang setelah beberapa lama mencari siapa yang hendak di
telfon.
“Halo.. Frank.. loe dimana?.. Oh ya
ya.. .. ya.. aku ada urusan ini..
Aku butuh anggota yang rumahnya deket
gang Jeruk.. iya.. barat kota.. oh iyo.. berapa orang.. tiga!!..” Mawir
mengedarkan pandangan ke semua orang, Adwin mengangguk.
“Oh ya.. iya aku tunggu! Di halte
gang Jeruk.. ngerti kan!!?.... iya… Mas Kecenk disini.. cepet yo!!... Sip…!.”
Mawir menutup telfonnya.
“Kembalikan dulu mobil ini ke rumah
Tia sama Rani..!!..” Adwin langsung melempar kunci mobil ke Jagur karena Deden
sudah menyetir.
“Kunci Mobil Rani sama kamu kan
Jon!?.” Adwin melambai.
“I.. Iya Mas..” Jon sigap masuk mobil
dan melaju pelan-pelan disusul Jagur.
“Dua anak itu nanti abis itu gimana?
Suruh pulang apa ikut kita?...” Deden kehausan, tenggorokkannya sepertinya
kering, air mineral botolan yang dibawa sudah habis.
“Pulang saja.. kasih tahu mereka…”
Adwin jongkok.
“…” Mawir menghubungi mereka berdua
secara bergantian supaya setelah mengembalikan mobil cewek Adwin mereka sudah
ganti plat mobilnya sebelum memasuki gang rumah mereka dan kemudian
mengembalikannya dengan aman lalu pulang ke rumah mereka sendiri dengan cara
terserah pada mereka, apakah minta diantar anggota lain atau bagaimananya, tak
lupa himbauan agar plat nomor kendaraan diamankan.
“Ribet juga ya mas, sampek ganti plat
tiga kali.. gara-gara di kota sendiri..” Keluh Deden.
“Iya lah!.. kalau ditanya.. kemana
mobil Rani jam segini bisa keliaran .. berabe aku..” Adwin menyela.
Ponsel Adwin berbunyi.
“Ya, Jon.” Adwin tegas dengan nada santai sambil memilih menu
loudspeaker.
“Plat nomornya sudah aku buang ke sungai besar.. aku pulang sama
Turbo Mas..” Suara Jon seperti terterpa angin di jalanan.
“Lanjutkan.. aja Jon… santai aja lewatin polres.. kalau ada kabar
sampaikan.” Adwin berdiri merogoh kantong celananya. Telfon pun mati.
“Rencana kita selalu rapi ya mas!!..” Deden nyengir kuda, melihat
Adwin menyalakan rokok.
“Pernah sekolah koq.. ya harus pinter..” Ledek Adwin.
Ponsel Adwin berbunyi lagi.
“Ya!.” Adwin mengepulkan asap ke udara.
“Mas aku dah buang plat ke sungai besar!! Aku lagi nyusul Jon ke
rumah Mawir nengokin Badak lagi apa sama anak-anak!..” Teriakan Jagur terdengar
setelah Adwin pilih menu Loudspeaker.
“Sip…” Adwin lalu mematikan telfonnya.
“Siapa aja tiga anggota kita di sini, Bro..?.” Adwin menawarkan
rokok ke Deden dan Mawir, tak lupa ke Yuna yang lagi berleha di depannya, Yuna
menggeleng saja.
“Ada Franky.. Ada Sipit sama Yogi..” Mawir menghidupkan api.
“Franky… boleh juga tuh anak mimpin blok barat..” Adwin menetuk
rokok dengan jarinya.
“Bagusnya..?.” Yuna hanya ingin mengisi suasana agar tetap ada
pembicaraan di tengah angin malam dingin saat itu, di tempat sepi dikelilingi
tanaman sawah yang tumbuh tinggi di bawah bukit, gelap dan hanya ada cahaya
bulan purnama saja.
“Pinter judi dia…” Adwin menyanggah.
“Tadi jalanan bisa sepi gitu ya!! Beneran bisa macam sirep saja ngga
ada yang nolong toko tadi…” Mawir mengedarkan pandangan ke semua orang.
“Jam dua belas itu malah saat polisi baru berangkat keluar pos..
jadi sudah melewati daerah itu.. aku kan sering BMX-an sama grupnya Badri..
anak pesulap itu.. tau kan .. yang sekolah di STM Nusa..” Yuna akhirnya
mengambil satu batangan rokok milik Adwin.
“Yah.. abis ini .. baju ini kita jemput lagi.. kita langsung jual ke
luar kota.. jangan ada yang makai..” Adwin dapat ilham bagus yang tidak
menyehatkan.
“Mala mini?...” Yuna mules mendadak.
“Iya malam ini.. Nanti ke rumah Deden ambil mobil.. Aku.. kau..
Mawir.. Deden.. Badak juga ikut..” Adwin menunjuk dengan rokoknya.
“Mana muat!!...”
“Muat koq!..” Deden mengiklankan diri.
Ponsel Adwin berbunyi lagi.
“Franky!..” Adwin membaca siapa yang menelfon lalu menyalakan
loudspeaker.
“Mas dimana?!!.. aku di gang Jeruk sama anak-anakku sekarang..”
Tuturnya dengan suara keras tapi sopan.
“Tunggu aja.. aku kesana jalan kaki sama anak-anak..” Adwin.
“Siap Mas… kami di halte..!!..” Suara sepeda motor anggota lain
terdengar dibalik suara Franky sebelum akhirnya Adwin mematikan telfonnya.
Tidak boleh mengeluh, agak jauh perjalanan ke halte. Tempat mereka
tadi adalah jauh dari komplek perumahan, berjalan dua puluh menit lalu
sampailah mereka di gang. Untungnya
halte itu di depan gang.
“Koq jalan mas.. kenapa ngga minta jemput aja..!!” Franky datang
menghampiri dengan sepeda motor semi besarnya setelah melihat kerumunan Adwin
tiba di mulut gang.
“Ga masalah.. sekali-kali olahraga..” Adwin memang unik dan rapi
dengan segala rencana menghilangkan jejaknya bahkan jejak dari anak buahnya
sendiri.
Yuna bersama Sipit sementara Yogi membonceng Mawir dan Jagur, mereka
menelusuri jalan kota dan menuju ke rumah Mawir.
“Dari mana mbak?...” Sipit, julukan dan sandi untuk nama asli Fadli.
Anak keturunan Chinese mix wong Jowo.
“Ke rumah teman mas Kecenk…” Yuna sudah diberi pesan oleh Adwin
dengan menyediakan jawaban itu.
“Lah.. tadi naik apa? Koq minta dijemput?..” Sepertinya Sipit kepo.
“Lah.. tadi naik apa? Koq minta dijemput?..” Sepertinya Sipit kepo.
“Mobil… belum balik, dipinjem sama Mas Jagur.. mungkin mogok
dijalan.. ga tahu lah!...” Sesuai pesan Adwin lagi, jawaban itu.
Sesampainya di rumah Mawir, ternyata ada Badak yang sudah menunggu
seorang diri di teras rumah Mawir . Mawir tinggal sendirian sehingga rumahnya
kosong.
“Antar Deden pulang dulu lah!!..” Adwin mengatakan saat sampai sebelum
mesin sepeda motor Franky dimatikan.
“Yo..!!..” Badak langsung berlari menghampiri sepeda motornya yang
sudah diparkir di depan rumah Mawir, Deden menuruni sepeda motor Yogi setelah
Mawir turun dan menghampiri Badak yang sudah siap lalu pergi begitu saja.
Franky masih menyalakan mesin bersamaan dengan dua rekannya.
“Makasih ya Frank.. barangnya besok!...” Jagur sebagai bendahara
Adwin mewakili suara sang ketua.
“Siiiip!!!!...” Franky dan kawan-kawannya senang, lalu pergi
meninggalkan mereka.
“Gila anak-anak itu.. dikasih barang yang sudah dioplos padahal…”
Ledek Yuna lirih, berjalan memasukki rumah Mawir mengekori Jagur dan Mawir yang
menyusul Adwin.
(`∧´メ)9))
“!!!!..” Yuna melihati jalanan dari
balik jendela kaca mobil, merasakan Adwin membawa laju mobil menuju Surabaya.
Ada konser band luar negeri di Surabaya sebentar lagi dan Adwin berencana
menjual barang-barang yang baru mereka rampas ke Distro milik anak rekannya
yang di Surabaya. Nama orang itu Jojo, seorang musisi dan salah satu pesponsor
konser metalhead underground disana.
Jagur, Deden, dan Mawir sudah pulas
di belakang, Yuna melihati Handgun di tangannya lalu menoleh ke Adwin.
“Barang ini mau ditaruh mana?...
kalau ada polisi gimana..” Yuna agak mengantuk.
“Itu Polisi…!!!...” Adwin agak panic.
Yuna tidak melihat ke depan, dan tidak menyangka kalau ucapannya akan terjadi.
“Anj*ng.. terus gimana!!..” Yuna
panic menyembunyikan handgun itu di balik
jaketnya.
Adwin memelankan mobil lalu putar
arah dan berbelok ke arah lain.
“Kemana?...” Yuna melihati jalanan
sesekali menoleh ke muka tegang Adwin.
“Gak tahu aku dek.. aku ikuti suara
hatiku aja!..” Wajah Adwin sangat serius.
Yuna semakin panic karena Adwin
berbelok ke jalanan terjal berbebatuan kecil apalagi di sekitar mereka kini
hanya ada persawahan dan jalanan tanpa aspal, juga gelap. AC mobil menambah
dingin, Adwin menenangkan diri dengan memelankan alunan music metal yang
tergaung dari speaker active mobil.
’Aku
harap dia ngga nyasar.. moga aja dia lagi sambil nerawang…’ Yuna berfikir
sejenak menenangkan diri dengan memegang handgun Adwin melihati jalanan.
Tibalah di jalanan beraspal lagi
mereka kini ada di pertigaan.
“Surabaya itu kanan apa kiri?...”
Yuna bingung, dia tidak tahu jalanan.
“Tebak yok!..” Adwin menoleh ke dua
sisi arah.
“Kiri!!..” Yuna mantab. Adwin
langsung gas ke kiri.
“…?.” Yuna penasaran.
Tak beberapa jauh kemudian Yuna
melihat sekerumunan genk motor sedang berkumpul dijalanan.
“Tanya Dek!..” Tegas Adwin, anak
jalanan tidak boleh takut dengan genk sebelah kota.
Adwin memelankan mobil, Yuna
menurunkan kaca jendelanya.
“Maaf mas, mau numpang Tanya..!!..”
Yuna menyiapkan handgun yang dia pegang di balik jaketnya.
“Nanya apa dek?!!..” Pria besar
bertato dan berkalung rantai menghampiri dengan muka sangat kejam.
“Arah ke Surabaya mana ya om?...”
Yuna sopan sambil menarik mukanya ke mobil karena takut, pria itu mendekati
jendela.
“Serahkan barang kalian dulu kalau
mau sampai ke Surabaya!!..” Gertak pria itu.
Ada sesuatu panas dari dada Yuna
secara mendadak saat mendengar itu.
Yuna menaikkan kaki kanan ke seat
lalu mengangkat badannya dan menggesar ke dalam mobil mendekati seat Adwin
sambil menodongkan handgun dan langsung menarik pengait selongsong peluru,
selongsong berputar.
“Mau main-main sama anak mavia
bung!!..” Muka Yuna bringas.
“Halah pistol mainan!!!!.” Pria itu
mau meraih senjata Yuna.
“DORRRRRRR!!!!..” Yuna langsung
menembak tembakan hampir mengenai telinga pria itu, tangan Yuna tidak
terhempas, begitu keras dorongan pelatuk mempelor besi keluar dari mulut
launcer tapi Veraline membuat Yuna bisa seolah orang pro yang sudah akrab
dengan handgun.
“!!!!!!.. ke.. kesana!!..” Pria itu
mudur dari mobil, orang-orang mendekati.
“!!!!!..” Adwin langsung gas mobil
tanpa ampun, satu orang tertabrak mobil dan terguling di jalanan. Pacuan mobil
terus membakar aspal, mereka tidak terkejar.
“Sial!!!!!!!!...” Yuna nyengir kuda,
mengambil rokok Adwin yang ada di desk dan menyalakan api, mengisapnya
dalam-dalam.
“Santai.. mavia….” Adwin menenangkan.
“Mungkin kita dianggap masih
anak-anak ingusan!!..” Dengus Yuna.
“Hahahahaha… Sebenarnya di laci masih
ada Handgun lain..” Adwin santai.
“Oh.. iya ini jalan ke Surabaya koq..
hahahaha…. Kasihan peluru tadi kebuang..” Adwin meraih rokok sambil kesal.
ლ(ಠ_ಠლ)
Hentakan music dari mega sound system
menyerang telinga dan jantung Yuna, membuatnya lupa akan kejadian kemarin
malam. Tak disangka rencana Adwin berjalan mulus, kini uang ditangan mereka ada
sekitar lima juta Rupiah. Dengan bangga dan puas kini anak-anak berandalan itu
mengenakan busana baru dan menikmati konser kualitas internasional di Surabaya
bersama para reka Adwin yang berduduk di Surabaya.
Saat hiatus tiba, MC menyela acara
music keras itu dan membuat rekanan Jojo bisa mengobrol dengan Adwin sejenak
membicarakan hal-hal basa basi. Saat itulah Yuna mulai melihati bulan purnama
yang masih utuh.
“Suatu saat pasti masa seperti ini
akan berakhir.. aku harus bisa melepaskan diri dari ini semua…” Yuna mendongak, menyapa bulan.
“Kenapa ngomong gitu, Dek?..”
Ternyata Adwin sedari tadi mendengarkan gumamannya.
“Eh!!.. anu.. itu…” Yuna buang muka.
“Hahahaha!!!...” Adwin menonjok
lengan atas Yuna lalu memiting lehernya.
“Egh!!!!...” Yuna mendengus kesal.
“Mainanku masih di kamu kan?..” Adwin
menggesekkan kepalannya ke kepala Yuna.
“Anj**g!! iya Pret!!...” Yuna kesal,
kini dua Handgun ada di dalam jaketnya yang tersleting rapi menutupi dirinya.
Terasa agak tidak nyaman tapi apa boleh buat, kalau di taruh mobil bisa bahaya.
Sementara Adwin menyimpan satu lagi di dalam hoodynya, sama dengan cara Yuna
menyimpannya. Seharusnya satu lagi dipegang Badak, tapi dia tidak mengenakan
jaket. Dengan bodohnya malah menghadang air yang disemprotkan sampai mandi
basah.
“Bego loe!! Masuk angin nyahok
eh!!!..” Jagur mengejek sambil headbang lagi, music kembali memainkan intro.
“Siapa yang peduli dengan suatu hari
nanti!!?.. lebih bagus peduli dengan orang-orang ini!!..” Adwin mendorong
kepala Yuna ke depan sampai tertunduk.
“Argh!!!!!!..” Yuna mengambil tangan
Adwin sambil headbang lalu membuangnya ke udara.
Adwin berlari ke arah koloninya dan
lalu berpesta, menghempaskan badannya ke segala arah dia mampu, bertabrakan
dengan badan rekan-rekan yang dia kenal sejak lama. Sementara Mawir bergoyang
layaknya sedang di konser dangdut, Badak mengikuti.
“EH GOBLOOOK!!!!... Pelecehan!!!..”
Yuna tertawa terpingkal-pingkal.
Lampiran Chapter 3
Lampiran Chapter 4
Lampiran Chapter 3
Lampiran Chapter 4
























